Semangat Muroja’ah di Tengah Kuliah S2, Wafiq Mayada Raih Juara 2 MHQ 10 Juz di MAJT

Wafiq Mayada tetap setia merawat hafalan Al-Qur’annya. Ketekunan itulah yang akhirnya mengantarkannya meraih juara 2 kategori putri dalam ajang Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) 10 juz yang diselenggarakan Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah, Sabtu (7/3/2026). Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) -Di tengah kesibukan menempuh studi magister, Wafiq Mayada tetap setia merawat hafalan Al-Qur’annya. Ketekunan itulah yang akhirnya mengantarkannya meraih juara 2 kategori putri dalam ajang Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) 10 juz yang diselenggarakan Pesantren Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas Jawa Tengah di Masjid Agung Jawa Tengah, Sabtu (7/3/2026).

Mahasiswi asal Sumatera Utara yang kini menempuh pendidikan S2 di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu berhasil meraih nilai 95,65 pada babak final. Penampilan puncak berlangsung di ruang utama salat masjid, di hadapan empat dewan juri serta para hadirin yang menyaksikan jalannya kompetisi.

Wafiq menjadi peserta pertama yang tampil di babak grand final. Dengan suara yang mantap dan hafalan yang terjaga, ia melantunkan ayat-ayat suci dengan percaya diri. Meski harus bersaing dengan para hafizah dari berbagai daerah di Indonesia, kualitas hafalannya dinilai kuat dan stabil hingga mengantarkannya ke posisi kedua.

Ajang MHQ 10 juz tersebut diikuti oleh 372 peserta dari berbagai daerah. Babak penyisihan dilaksanakan pada Sabtu (28/2) secara daring melalui Zoom. Peserta yang lolos kemudian melanjutkan ke babak semifinal pada Rabu (4/3), yang diikuti 23 peserta putra dan 20 peserta putri, juga secara daring. Sementara itu, babak final digelar secara langsung di Masjid Agung Jawa Tengah pada Sabtu pagi (7/3), dan pengumuman pemenang dilakukan pada sore hari dalam rangkaian acara Kurma di tempat yang sama.

Juara pertama kategori putri diraih Khaira Ummah, peserta asal Tulungagung yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Gadis kelahiran Agustus 2014 itu berhasil meraih nilai 97,68.

Bagi Wafiq, mengikuti MHQ bukan sekadar perlombaan. Kompetisi ini menjadi penguat semangatnya untuk terus menjaga hafalan Al-Qur’an. Perempuan yang saat mendaftar tercatat sebagai peserta dari Yogyakarta ini mengaku menjadikan ajang tersebut sebagai ruang belajar sekaligus motivasi.

“Ajang ini menjadi motivasi untuk terus semangat muroja’ah. Dari MHQ ini juga banyak ilmu dan pengalaman yang bisa diambil,” ujarnya.

Wafiq lahir di Havea pada 5 Agustus 2002 dan berasal dari Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Ia merupakan salah satu santriwati di Pondok Pesantren Modern Tahfidzil Qur’an Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara.

Di tengah kesibukan perkuliahan S2, ia berusaha mengatur waktu agar tetap bisa mempersiapkan diri dengan maksimal. Baginya, hasil kompetisi adalah bagian dari ikhtiar yang pada akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

“Alhamdulillah persiapan lomba sudah diusahakan semaksimal mungkin di sela-sela kuliah. Mengenai hasil, semuanya kita serahkan kepada Allah,” katanya.

Wafiq juga berbagi pesan sederhana tentang kunci menjaga hafalan Al-Qur’an. Menurutnya, hafalan tidak akan berkembang jika Al-Qur’an belum menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

“Hafalan tidak akan berkembang jika Al-Qur’an belum menjadi prioritas. Intinya terus muroja’ah, muroja’ah lagi, dan muroja’ah terus. Karena lelahmu akan menjadi ladang pahala,” tuturnya.

Dengan motto hidup “hidup tenang bersama Al-Qur’an”, Wafiq bercita-cita menjadi pribadi yang bermanfaat di mana pun ia berada. Atas prestasi yang diraihnya, ia menerima sertifikat penghargaan serta hadiah uang pembinaan sebesar Rp4,5 juta. sunarto

Share This Article
Exit mobile version