PURWOKERTO (Jatengdaiky.com) – Bagi seorang penyandang tunadaksa, perjuangan terbesar sering kali bukan terletak pada keterbatasan fisik yang kasat mata, melainkan pada sunyinya penerimaan diri di tengah stigma sosial yang belum sepenuhnya ramah.
Rasa terasing, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, dan bayang-bayang pengalaman negatif kerap menjadi tembok tebal yang mengurung ketenangan jiwa mereka.
Namun, di balik keheningan pagi, ada sebuah jawaban spiritual yang perlahan mampu meruntuhkan tembok tersebut.
Fenomena menyentuh inilah yang diangkat oleh Direktur Utama Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang, dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, dalam disertasi doktoralnya.
Di hadapan para penguji dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi Islam Pascasarjana UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto pada Kamis (2/7), dr. Agus berhasil mempertahankan riset mendalamnya yang berjudul “Pelaksanaan Shalat Duha dalam Penguatan Self-Compassion pada Penyandang Tunadaksa (Studi Kasus di Komunitas The Plegia Banjarnegara)”.
Melalui sidang tersebut, dr. Agus resmi dikukuhkan sebagai doktor ke-91 yang diluluskan oleh kampus tersebut.
Memeluk Diri Lewat Hamparan Sajadah Pagi
Melalui pendekatan studi kasus kualitatif, dr. Agus menyelami kehidupan para anggota Komunitas The Plegia Banjarnegara. Ia mengamati, mewawancarai, dan mendokumentasikan bagaimana transformasi batin terjadi ketika sajadah Duha dibentangkan secara konsisten di pagi hari.
Hasilnya begitu menggetarkan hati. Sebelum membiasakan shalat Duha, para penyandang tunadaksa di komunitas tersebut cenderung memiliki self-compassion (sikap welas asih terhadap diri sendiri) yang rendah. Mereka kerap terjebak dalam rasa bersalah dan penolakan atas takdir fisiknya.
Namun, ketika shalat Duha mulai dijalankan sebagai sebuah rutinitas yang konsisten, perlahan-lahan lanskap batin mereka berubah. Ada ruang penerimaan diri yang meluas. Rasa syukur tumbuh, emosi menjadi lebih seimbang, dan rasa percaya diri yang sempat padam kembali menyala. Mereka tidak lagi meratapi apa yang hilang, melainkan berani menatap masa depan dengan potensi yang tersisa.
”Shalat Duha tidak hanya memiliki dimensi ibadah ritual semata, tetapi juga menjadi instrumen penguatan psikospiritual,” ujar dr. Agus.
Ia merumuskan sebuah konsep yang disebut Spiritual Agency Integration (SAI). Sebuah pendekatan yang menggabungkan refleksi diri, kesadaran spiritual, regulasi emosi, dan pembentukan makna hidup. Nilai-nilai inilah yang diinternalisasikan secara bertahap oleh para penyandang tunadaksa—mulai dari sekadar mengenal makna ibadah hingga menjadikannya nafas dalam perilaku sehari-hari.
Dukungan Hangat dari Tokoh dan Keluarga
Momen akademis yang menyentuh ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting yang memberikan dukungan moril luar biasa. Terlihat hadir Gubernur Jateng periode 2007-2008 Drs. H. Ali Mufiz MPA, Rektor Unissula Semarang Prof. Dr. Gunarto, serta sastrawan terkemuka Ahmad Thohari.
Kehadiran para kiai sepuh seperti Rais Syuriyah PCNU Banyumas KH Mughni Labib dan Pengasuh Ponpes Al-Falah Jatilawang KH Ahmad Shobri turut menambah kekhusyukan atmosfer sidang.
Suasana haru sekaligus bangga juga menyelimuti keluarga dekat dr. Agus. Kedua orang tuanya, Drs. H. Sidik Prayitno M.Pd. dan Hj. Widyastuti AMD, sang istri Dr. Martin Pratiwi MPH, serta putra tunggalnya Zein Bagus Ujiro Sidik, saksi hidup dari dedikasi panjang sang dokter, turut hadir menemani momen bersejarah tersebut bersama Ketua Mahkamah Agung RI Periode 2020-2024, Prof. Dr. HM Syarifuddin, S.H., MH.
Sidang promosi ini dipimpin langsung oleh Rektor UIN Saizu, Prof. Dr. H. Ridwan M.Ag., dengan Dr. Novan Ardy Wiyani, M.Pd.I. sebagai sekretaris, serta dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. H. Giyoto, M.Hum dan Co-Promotor Dr. H. A. Luthfi Hamidi, M.Ag.
Melangkah ke Masa Depan: Lahirnya “Bio-Fiqih”
Kelulusan dr. Agus tidak berhenti di atas meja ujian. Momentum ini langsung diwujudkan dalam langkah nyata melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, dan dr. Agus Ujianto selaku Dirut RSI Sultan Agung.
Kolaborasi visioner ini bertujuan untuk membuka gerbang Studi Islam Kedokteran di kancah nasional dan internasional. Di bawah payung kerja sama ini, kedalaman studi Islam transdisipliner akan dikawinkan dengan aplikasi kedokteran praktis masa depan.
Di era modern saat ini, perkembangan bioteknologi, digitalisasi kesehatan, hingga kedokteran regeneratif memerlukan jangkar etis serta legalitas hukum Islam yang kuat. Inilah yang kemudian disebut sebagai Bio-Fiqih Masa Depan.
Dengan kerja sama ini, RSI Sultan Agung Semarang yang dikenal sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama berbasis syariah, kini resmi mengukuhkan perannya sebagai living laboratory—sebuah laboratorium hidup tempat di mana teori-teori studi Islam kontemporer diuji, divalidasi, dan diaplikasikan demi kemaslahatan dan kesembuhan umat, baik jasmani maupun rohani. sunarto


