JAKARTA (Jatengdaily.com)– Perjalanan Madam Kin di dunia hiburan tak selalu berjalan mulus. Perempuan yang pernah menetap selama 15 tahun di Hong Kong ini memulai kiprahnya dari bawah, menjadi figuran, sempat vakum selama empat tahun, hingga akhirnya kembali menekuni dunia entertainment sebagai konten kreator. Kini, ia mulai merambah bisnis produksi melalui rumah produksi MKP Production.
Tak sekadar ingin tampil di depan kamera, Madam Kin kini berambisi menciptakan karya sendiri. Langkah itu diwujudkannya dengan membangun MKP Production, rumah produksi yang dikembangkan untuk menggarap konten digital, drama pendek, sketsa komedi, hingga membuka peluang produksi film layar lebar.
“Saya sebenarnya tidak pernah terpikir menjadi produser. Tapi setelah menjalani dunia entertainment, saya merasa ingin membuat karya sendiri. Awalnya kecil-kecilan dulu, siapa tahu bisa berkembang,” ujar Madam Kin.
Perkenalannya dengan industri hiburan bermula setelah kembali ke Indonesia dari Hong Kong. Saat itu, ia masih awam tentang dunia entertainment. Bermodal rasa ingin tahu, ia mencari informasi sendiri melalui Google tentang cara menjadi figuran.
Salah satu pengalaman awalnya adalah terlibat dalam sinetron Ojek Pengkolan. Dari pengalaman tersebut, ia mulai mengenal proses syuting, kru produksi, pemain, manajemen artis, hingga sejumlah nama di industri hiburan.
“Waktu itu saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Saya cari sendiri di Google bagaimana caranya menjadi figuran. Saya jalani saja. Buat saya, itu pengalaman dan sekolah,” kenangnya.
Perjuangan tersebut tidak selalu mudah. Madam Kin mengaku pernah menempuh perjalanan pulang-pergi ke kawasan Sentul demi menjalani pekerjaan sebagai figuran dengan honor yang relatif kecil.
Namun, ia tidak menjadikan besarnya bayaran sebagai ukuran. Baginya, pengalaman dan kesempatan belajar jauh lebih berharga.
“Saya pernah pulang-pergi ke Sentul, bayarannya tidak sampai Rp100 ribu. Tapi saya happy karena memang ingin belajar. Saya ingin tahu bagaimana proses shooting dan bagaimana orang bekerja di dunia entertainment,” tuturnya.
Perjalanan Madam Kin sempat terhenti ketika kondisi kesehatan dan kehamilan anak keduanya membuatnya harus lebih fokus pada keluarga. Selama kurang lebih empat tahun, ia menjauh dari aktivitas entertainment.
Meski demikian, kecintaannya terhadap dunia hiburan tidak pernah benar-benar hilang. Ketika kembali aktif, ia melihat YouTube dan media sosial sebagai peluang untuk membangun karier dengan cara berbeda.
Ia mulai membuat konten drama pendek, sketsa komedi, serta cerita yang diangkat dari kehidupan sehari-hari. Dari langkah sederhana tersebut, aktivitasnya sebagai konten kreator perlahan berkembang.
“Setelah YouTube mulai berjalan, saya kembali lagi ke entertainment. Saya mulai bikin drama pendek, sketsa, cerita kehidupan sehari-hari. Ternyata saya menikmatinya,” ungkapnya.
Dari situ, Madam Kin mulai memahami bahwa dirinya memiliki kesempatan untuk berkembang bukan hanya sebagai talent, tetapi juga sebagai orang yang menciptakan dan mengembangkan sebuah cerita.
Bangun MKP Production, Buka Cabang di Pekanbaru
Keinginan untuk memiliki karya sendiri kemudian mendorong Madam Kin mengembangkan MKP Production. Rumah produksi ini menjadi wadah untuk merealisasikan ide-ide kreatif yang selama ini ingin diwujudkannya.
Sejumlah karya yang telah dikembangkan antara lain Madam Gie Mini, Akhir Penantian Cinta, Manajer Koplak, serta Aku Bareng Aku Bukan Barang untuk Ditukar. Ia juga tengah menyiapkan format konten baru bertajuk Madam Sketsa.
Keseriusannya mengembangkan bisnis hiburan semakin terlihat dengan dibukanya cabang MKP Production di Pekanbaru, Riau.
Tak hanya bergerak sebagai rumah produksi atau production house (PH), MKP Production juga mengembangkan layanan manajemen dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan industri kreatif.
Layanan yang disiapkan meliputi kelas akting (acting class), produksi podcast, kegiatan dan acara modeling, serta produksi konten dan karya audiovisual. Pengembangan layanan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi talenta-talenta baru untuk belajar dan terlibat dalam industri hiburan.
Ekspansi ke Pekanbaru sekaligus menjadi langkah Madam Kin memperluas jaringan produksi di luar Jakarta. Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan talenta lokal untuk mengembangkan konten maupun film yang mengangkat potensi daerah.
Bagi Madam Kin, membangun rumah produksi bukan berarti dirinya sudah menguasai seluruh aspek produksi. Ia mengakui masih harus banyak belajar, mulai dari pengembangan cerita, pengelolaan produksi, hingga proses membawa sebuah karya kepada penonton.
“Saya ingin belajar produksi. Tidak hanya main, tetapi bagaimana membuat sebuah karya dari awal sampai jadi. Saya ingin menciptakan sesuatu dari hati,” katanya.
Menariknya, impian Madam Kin menjadi produser film justru tumbuh dari kebiasaannya menonton film di bioskop bersama anaknya.
Saat menikmati film, ia kerap membayangkan suatu hari bisa membuat karya yang mampu memberikan pengalaman emosional serupa kepada penonton.
“Saya kalau nonton film di bioskop suka berpikir, suatu saat saya juga bisa bikin film seperti ini. Saya melihat pemain berakting sampai bisa membuat penonton terbawa perasaan. Saya ingin suatu saat bisa membuat karya yang seperti itu,” ujarnya.
Baginya, film yang baik bukan hanya menyajikan cerita menarik, tetapi juga mampu membuat penonton ikut merasakan emosi para tokohnya. Hal itulah yang ingin dipelajarinya lebih dalam.
Madam Kin pun tidak ingin terburu-buru mengejar produksi berskala besar. Ia memilih memulai dari platform digital, mengembangkan kemampuan dan jaringan, kemudian membuka peluang untuk membawa karyanya ke platform distribusi yang lebih luas.
“Saya masih belajar. Jadi saya tidak mau langsung berpikir besar. Mulai dari YouTube, kemudian kalau berkembang bisa masuk aplikasi. Mudah-mudahan suatu saat bisa sampai bioskop,” katanya.
Meski masih merintis, Madam Kin telah menetapkan target yang ingin dicapainya. Ia berharap MKP Production dapat tumbuh menjadi rumah produksi yang mampu menghasilkan film untuk penayangan di bioskop.
“Cita-cita saya bisa produksi film sampai tayang di XXI. Mungkin sekarang masih kecil, tapi saya percaya semua dimulai dari langkah kecil,” ucapnya.
Pembukaan cabang di Pekanbaru menjadi salah satu pijakan untuk memperluas kiprahnya. Ke depan, ia juga berencana menjajaki peluang produksi di daerah lain, termasuk Batam, sekaligus membuka ruang kerja sama dengan para pelaku industri kreatif setempat.
Perjalanan dari perantauan di Hong Kong, menjadi figuran, vakum empat tahun, hingga kembali sebagai konten kreator telah memberikan pengalaman tersendiri bagi Madam Kin.
Kini, ia memasuki babak baru dengan ambisi yang lebih besar. Bukan hanya ingin dikenal melalui penampilannya di depan kamera, tetapi juga ingin menjadi sosok di balik lahirnya sebuah karya.
Dari seorang penonton yang bermimpi membuat film, Madam Kin kini mulai membangun jalannya sendiri menuju kursi produser. Langkahnya masih panjang, tetapi melalui MKP Production, ia telah memulai sesuatu yang selama ini hanya menjadi impian. Buyil-she


