Oleh: Amaliya Nur Solikhah
Universitas Negeri Yogyakarta
MATEMATIKA tidak selalu harus hadir dalam bentuk angka dan lembar soal. Bagi murid berkebutuhan khusus, konsep penjumlahan angka dasar dapat menjadi lebih mudah dipahami ketika pembelajaran dikemas melalui media yang konkret, menarik, dan dekat dengan pengalaman belajar mereka. Berangkat dari kebutuhan tersebut,
Tim Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menghadirkan Spider Math, sebuah media pembelajaran kreatif yang digunakan untuk membantu murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Yapenas Condongcatur memahami konsep penjumlahan angka dasar sekaligus menumbuhkan minat belajar matematika.
Apa yang Dilakukan?
Media Spider Math adalah media pembelajaran berhitung matematika berbasis visual dan konkret yang dirancang seperti jarring laba-laba.
Media ini digunakan guna meningkatkan minat dan pemahaman berhitung murid yang berisi benang atau tali untuk menghubungkan angka yang sesuai dengan jumplah yang sama untuk mengenali pola dan memecahkan persoalan berhitung terutama berhitung angka dasar.
Media ini melibatkan aktivitas motorik dan indra peraba yang ada pada pom pom ketika berhitung, mengubah konsep matematika yang abstrak menjadi pembelajaran yang menyenangkan, dan tentunya pengalaman belajar seru terasa lebih nyata serta menyenangkan.
Pendekatan ini diambil dari teori perkembangan kongnitif Piaget, yang menjelaskan bahwa anak dapat memahami konsep yang abstrak dengan cara yang lebih baik melalui benda konkret.
Selain itu, teori belajar multisensori menyebutkan bahwa keterlibatan menggunakan lebih dari satu indra dapat memperkuat dalam penangkapan infromasi. Hal ini sangat reevan bagi anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan lebih banyak stimulus belajar bervatif dan bersikap kontekstual.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, murid diajak untuk bermain menyebutkan angka sambil belajar berhitung melalui 3 tahapan.
Pertama, pengenalan media spider math untuk berhitung.
Kedua, mempraktikkan secara langsung dengan memberi latihan soal dengan pembelajaran diferensiasi menyesuaikan dengan kebutuhan murid.
Ketiga, dengan refleksi bersama untuk memperkuat konsep yang telah dipelajari mengenai berhitung penjumplahan dan menyebutkan bilangan angka dasar dengan mengetahui jumplahnya secara acak.
Suasana pembelajaran di dalam kelas menggunakan konsep pembelajaran Santai, menyenangkan, dan penuh dengan apresiasi agar murid merasa nyaman dan paham untuk mencoba.
Siapa yang Terlibat?
Kegiatan ini melibatkan 3 murid SLB, dengan kekhususan autisme, adhd, dan hambatan intelektual sedang. Setting di dalam kelas tidak ada guru kelas/wali karena pada kegiatan ini adalah praktik tanpa bimbingan dari guru pamong/wali kelas.
Guru kelas berperan sebagai pemberi masukkan mengenai karakteristik dan kebutuhan belajar siswa, serta di awal pertemuan kegiatan praktik mengajar guru sebagai pembimbing di kelas sebelum mahasiswa melakukan praktik mengajar secara mandiri.
Guru kelas menyampaikan bahwa pemilihan media ini tepat didasarkan pada kebutuhan akan pembelajaran matematika yang lebih adaptif. Sebelumnya murid berinisial M belum memahami konsep penjumplahan secara abstrak dan dianggap sulit serta membosankan, terutama bagi anak berkebutuhan khusus.
Tetapi dengan metode pembelajaran drill (dilakukan secara berulang) dan penggunaan media belajar yang tepat, peserta didik M mampu memahami penjumplahan angka dasar 1-5.
Tentunya perkembangan ini adalah sebuah langkah yang membanggakan mengingat anak berkebutuhan khusus hambatan intelektual memiliki jangka ingatan yang pendek.
Sementara itu, guru kelas menyatakan bahawa dengan adanya media pembelajaran spider math ini siswa tampak lebih antusias dan lebih paham selama proses pembelajaran. Beliau mengatakan “Bagus mbak, ini anak-anak bisa leih fokus dan paham terhadap pembelajaran matematika. Padahal sebelumnya masih belum mengerti konsep berhitungnya.” Dengan hal tersebut, media ini berguna dan sangat variatif.
Dimana dan Bagaimana Dampaknya
Kegiatan ini berlangsung di lingkungan Sekolah Luar Biasa Yapenas Condongcatur, dengan memberikan fasilitas ruang kelas yang tertata secara fleksibel agar murid mampu bergerak dan berinteraksi dengan nyaman.
Berdasarkan hasil observasi kegiatan PK berlangsung, terdapat beberapa peningkatan terhadap murid, partisipasi yang aktif, murid membiasakan sapa pagi, dan percaya diri yang meningkat.
Pada aspek pemahaman, beberapa murid mampu mengenali cara berhitung penjumplahan angka dasar 1-5, mampu mengenal warna, mampu menyebutkan bilangan angka dasar 1-10, dan menyelesaikan LKPD dengan baik.
Temuan ini menjadikan langkah awal dalam kemajuan di dunia pendidikan dan memperkuat pandangan bahwa media secara konkret mampu berperan penting dalam dunia pendidikan khusus.
Pembelajaran yang dirancang sesuai dengan kemampuan masing-masing murid secara diferensiasi ini mampu meningkatkan pencapaian kongnitif dam membangun motivasi kemandirian, motivasi, dan kepercayaan diri murid. St


