Sidang Isbat 19 Maret 2026 Dinanti, Ahli Falak UIN Walisongo Prediksi Hilal Syawal Masih “Kritis”

Ketua Umum Southeast Asian Association of Islamic Astronomers (SAAIA) Prof Dr Ahmad Izzuddin MAg menyerahkan SK SAAIA kepada Ketua Delegasi Singapura dalam Muzakarah Falak Peringkat MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Klana Resort Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia, beberapa waktu lalu. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Pemerintah melalui Kementerian Agama dijadwalkan menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah pada 19 Maret 2026. Sidang ini akan menentukan kapan umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri, apakah jatuh pada Jumat malam atau baru dimulai pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Salah satu ahli yang diundang dalam sidang tersebut adalah Prof Dr KH Ahmad Izzudin MAg, pakar ilmu falak internasional yang juga Ketua Asosiasi Ahli Falak Asia Tenggara. Ia merupakan Guru Besar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang serta pengurus Lembaga Falakiyah PBNU.

Selain aktif di dunia akademik, Kiai yang dikenal luas di kalangan ahli falak ini juga merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah di Ngaliyan, Kota Semarang.

Pesantren tersebut telah meluluskan ratusan alumni, bahkan banyak dosen ilmu falak di berbagai perguruan tinggi di Indonesia merupakan lulusan dari pesantren tersebut maupun alumni UIN Walisongo.

Prof. Izuddin mengatakan dirinya termasuk dalam tim ahli yang diminta hadir dalam sidang isbat oleh Menteri Agama.

“Insyaallah masuk tim ahli yang diminta hadir dalam sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah. Harapannya kami bisa memberikan masukan apabila ditemukan data-data yang masih perlu dianalisis lebih mendalam,” ujarnya.

Menurutnya, tanggal 19 Maret 2026 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H menjadi momentum yang sangat dinantikan umat Islam. Pada hari itulah akan dipastikan apakah malam Jumat sudah masuk malam Idul Fitri atau justru masih dilaksanakan salat tarawih terakhir.

“Jika hilal belum memenuhi kriteria, maka puasa digenapkan 30 hari dan Idul Fitri kemungkinan dirayakan pada Sabtu, 21 Maret 2026,” jelasnya.

Dari sisi perhitungan astronomi atau hisab, Prof. Izuddin menjelaskan bahwa posisi hilal pada akhir Ramadan tahun ini berada pada kondisi yang cukup menarik dan berpotensi memunculkan dinamika dalam penetapan awal Syawal.

Ia menyebutkan bahwa ijtimak atau konjungsi diperkirakan terjadi pada Kamis pagi sekitar pukul 08.23 WIB. Berdasarkan data hisab dari berbagai wilayah di Indonesia, ketinggian hilal saat matahari terbenam berkisar antara sekitar 1 derajat lebih 5 menit hingga sekitar 3 derajat 6 menit di wilayah paling barat seperti Sabang.

“Ketinggian hilal sekitar 3 derajat itu sebenarnya sudah masuk kategori yang memungkinkan untuk dirukyat,” ungkapnya.

Sementara itu, nilai elongasi atau jarak sudut antara matahari dan bulan diperkirakan berkisar antara 4 derajat 30 menit hingga sekitar 6 derajat lebih 6 menit.

Angka tersebut tergolong cukup tinggi, namun sebagian masih berada di bawah kriteria kesepakatan visibilitas hilal yang umum digunakan di Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara.

Kriteria yang saat ini menjadi acuan adalah tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal berpotensi terlihat.

“Karena itu, posisi hilal tahun ini bisa dikatakan cukup ‘ramai’ untuk didiskusikan. Data hisabnya sudah mendekati kriteria, tetapi masih perlu diverifikasi melalui rukyatul hilal di lapangan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sidang isbat menjadi forum penting untuk mempertemukan berbagai data hisab dan laporan rukyat dari berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia.

Dengan pendekatan tersebut, keputusan yang diambil pemerintah diharapkan menjadi keputusan terbaik yang didasarkan pada data ilmiah sekaligus kesaksian rukyatul hilal di lapangan. St

Share This Article
Exit mobile version