Oleh: Dr. Multazam Ahmad, M.A.
“When a man has done what he considers to be his duty to his people and his country, he can rest in peace. I believe I have made that effort and that is, therefore, why I will sleep for the eternity.”
— Nelson Mandela (1918–2013)
Pada Hari Senin, 12 Rabiul Awal 1448 H / 24 Agustus 2026, umat Islam di seluruh dunia kembali memperingati hari kelahiran Nabi tercinta, Muhammad SAW. Ada dua hal penting yang perlu kita segarkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pertama, peringatan Maulid Nabi adalah momentum untuk meneladani peri kehidupan Rasulullah SAW, meresapi perjuangan beliau, serta meneguhkan tekad menjadi pionir dalam melanjutkan misi mulia memanusiakan manusia yang telah diwariskan lebih dari 14 abad lamanya.
Tentu bagi bangsa Indonesia saat ini, peringatan ini menjadi sangat krusial di tengah sulitnya negeri ini lepas dari persoalan besar terkait perilaku, akhlak, moral, dan martabat kemanusiaan.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis:
“Tidaklah seseorang hamba yang diserahi amanah oleh Allah untuk memimpin rakyat dalam suatu negara, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan baginya masuk surga.” (HR. Bukhari)
Sosok Nabi Muhammad SAW adalah suri teladan utama bagi seluruh umat manusia—mulai dari tata cara kepemimpinan, berdagang, hidup berbangsa dan bernegara, hingga membina rumah tangga.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Dalam sejarahnya, di tengah krisis yang melanda bangsa, Nabi Muhammad SAW tidak sekadar memerintah dari jauh. Beliau turun langsung menggali Parit Khandaq, menahan lapar dengan mengikatkan batu di perutnya, serta memancarkan ketabahan, keberanian, dan optimisme kepada para sahabat.
Oleh karena itu, sangat wajar jika Michael H. Hart dalam bukunya, The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Beliau memiliki keagungan akhlak yang tiada tandingnya.
Kedua, mari kita renungkan seruan moral dari Nelson Mandela di atas. Ketika seseorang berniat menjadi pemimpin bagi rakyat dan negaranya, tugas itu harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab agar ia dapat tenang dalam memimpin dan rakyat dapat merasai kesejahteraan.
Seruan moral dari tokoh dunia tersebut sangat relevan untuk direnungkan sebagai landasan setiap pemimpin, terlebih Indonesia baru saja merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan yang ke-81.
Namun di balik riuk perayaan kemerdekaan, integritas secara nasional masih berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2025 dari Transparency International menempatkan Indonesia pada skor 34/100 dan berada di peringkat 109 dari 120 negara.
Kondisi tersebut kian menjadi sorotan di Jawa Tengah. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, dari 12 kepala daerah yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK secara nasional, 5 di antaranya berasal dari Jawa Tengah (SM, 7/8/2026).
Diakui atau tidak, kita sedang hidup di tengah kepungan ketamakan. Setiap hari kita menyaksikan bagaimana uang rakyat miliaran rupiah yang semestinya digunakan untuk kepentingan publik justru menjadi ajang “bancaan” kolektif sejumlah kalangan.
Pemimpin Profetik
Membangun sistem kepemimpinan yang baik tidak akan berjalan efektif tanpa dibarengi pembentukan integritas dan karakter manusianya. Indonesia saat ini dihadapkan pada problem yang sangat kompleks, seperti masifnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pemuda, bencana alam, hingga krisis keteladanan.
Oleh karena itu, sangat desakan kebutuhan akan prophetic leadership (kepemimpinan profetik) menjadi hal yang mendesak. Yakni, tipe kepemimpinan yang dibangun berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keteladanan, rasa saling menghormati, kerja keras, penghormatan atas kebinekaan, serta komitmen menyejahterakan rakyat.
Keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam melakukan transformasi sosial-politik bukan semata karena sistem yang ada saat itu sudah mapan, melainkan karena kekuatan kepribadian dan keteladanan yang melekat utuh pada diri beliau.
Keteladanan Nabi tidak terletak pada formalitas birokrasi yang sering kali menumpulkan kreativitas, melainkan hadir sebagai sumber inspirasi dan motivasi untuk mewujudkan tatanan sosial, ekonomi, politik, hukum, budaya, dan moral yang berkeadilan.
Abul A’la Al-Maududi, pemikir Islam terkemuka, melukiskan kepribadian Rasulullah SAW:
“He is the only one personality where all excellences have been blended in him.” (Beliau adalah satu-satunya pribadi di mana seluruh keunggulan kualitas terpancar dan menyatu).
Spirit kepemimpinan Nabi dalam membangun negara selalu menekankan pendekatan spiritualitas dan penyucian hati. Allah SWT berfirman:
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Merujuk pada ayat tersebut, Prof. Dr. Kuntowijoyo (2001) merumuskan tiga pilar utama kepemimpinan profetik:
- Humanisasi (Ta’muruna bil ma’ruf): Misi memanusiakan manusia, mengangkat harkat hidup warga, serta menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab atas setiap tindakan.
- Liberasi (Tanhauna ‘anil munkar): Misi pembebasan dari belenggu ketidakadilan, ketertindasan, kemiskinan, dan korupsi.
- Transendensi (Tu’minuna billah): Manifestasi nilai-nilai ketuhanan yang menjiwai misi humanisasi dan liberasi dalam setiap kebijakan yang diambil.
Konsep ini sangat relevan menjadi acuan bersama jika kita masih berkeinginan mewujudkan cita-cita bangsa yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerto raharjo adil makmur aman sentosa, serta mencapai derajat baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Kuncinya adalah para pemimpin mau berpegang teguh pada nilai-nilai agama serta meneladani jejak Rasulullah SAW dalam mengelola negara.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW hadir mengingatkan kita di tengah derasnya arus keserakahan. Rasulullah SAW adalah modal sosial terbesar yang kita miliki untuk membangun negara yang bermartabat. Mari kita terus berusaha dan menantikan lahirnya para pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa profetik.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: Dr. Multazam Ahmad, M.A.
(Wasekjen Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia, Sekretaris MUI Provinsi Jawa Tengah, dan Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Semarang)


