Tangis Haru Pecah di Bioskop, Wali Kota Semarang Ajak Warga Jangan Lupa Membahagiakan Ibu

5 Min Read
Wali Kota Agustina Wilujeng menyapa penonton di Studio XXI Paragon Semarang, Rabu (3/6) malam. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Suasana haru menyelimuti Studio XXI Paragon Semarang, Rabu (3/6) malam. Tangis pecah di sejumlah sudut ruangan ketika film Jangan Buang Ibu menampilkan kisah perjuangan seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya demi masa depan anak-anaknya.

Malam itu bukan sekadar agenda nonton bareng menjelang penayangan nasional film pada 25 Juni 2026. Lebih dari itu, acara tersebut menjadi ruang refleksi yang mengingatkan banyak orang tentang sosok yang kerap terlupakan di tengah kesibukan hidup: ibu.

Di tengah suasana emosional yang menyentuh hati, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengajak masyarakat untuk kembali memberi perhatian kepada orang tua, khususnya ibu, yang selama ini menjadi sumber kasih sayang tanpa syarat dalam keluarga.

“Kadang kita terlalu sibuk mengejar masa depan hingga lupa kepada orang yang sejak awal selalu memperjuangkan masa depan kita. Ibu tidak pernah berhenti mencintai, mendoakan, dan menunggu anak-anaknya pulang. Film ini mengingatkan kita untuk tidak terlambat menunjukkan kasih sayang kepada orang tua,” ujar Agustina.

Film garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu tersebut mengisahkan perjalanan hidup Ristiana, seorang ibu tunggal yang berjuang membesarkan tiga anaknya seorang diri. Namun ketika ketiga anaknya berhasil meraih kesuksesan, kesibukan dan ego perlahan menjauhkan mereka dari sosok ibu yang selama ini menjadi sandaran keluarga.

Menurut Agustina, cerita yang diangkat dalam film tersebut bukan sekadar drama di layar lebar. Kisah itu menjadi gambaran nyata yang banyak terjadi di tengah masyarakat saat ini.

“Banyak orang tua yang sebenarnya tidak kekurangan secara materi. Yang mereka rindukan adalah perhatian, waktu, dan kehadiran anak-anaknya,” katanya.

Ia menilai, di era modern ketika teknologi memungkinkan komunikasi berlangsung dalam hitungan detik, hubungan emosional dalam keluarga justru kerap merenggang.

“Di zaman ketika kita bisa menghubungi siapa pun dengan mudah, jangan sampai kita kehilangan kedekatan dengan orang-orang yang paling kita cintai. Kehadiran dan perhatian sering kali menjadi hadiah terbesar bagi orang tua,” tambahnya.

Acara nonton bareng tersebut juga memperlihatkan bagaimana sebuah karya film mampu menjadi jembatan empati yang menyatukan berbagai kalangan. Hadir dalam kesempatan itu unsur Forkopimda, tokoh masyarakat, pelaku usaha, komunitas sosial, hingga para pemeran film.

Kehadiran para pemain utama semakin menghidupkan suasana. Salah satu pemeran, Reval Hady, berharap film Jangan Buang Ibu tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga meninggalkan pesan mendalam bagi masyarakat.

“Film ini adalah pengingat tentang perjuangan ibu yang sering kita lupakan. Semoga pesan yang dibawa bisa sampai ke hati setiap orang yang menontonnya,” ungkap Reval.

Di balik pesan kemanusiaan yang kuat, penyelenggaraan kegiatan tersebut juga menunjukkan semakin berkembangnya iklim industri kreatif di Kota Semarang. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini terus tumbuh menjadi ruang yang ramah bagi para sineas untuk berkarya dan menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Agustina menegaskan, Pemerintah Kota Semarang berkomitmen mendukung perkembangan ekosistem kreatif, termasuk industri perfilman, karena film memiliki kekuatan besar dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus memperkenalkan wajah kota kepada publik yang lebih luas.

“Semarang tidak hanya ingin dikenal sebagai kota yang maju secara fisik, tetapi juga sebagai kota yang memberi ruang bagi lahirnya karya-karya kreatif yang menginspirasi. Kami ingin Semarang menjadi rumah yang nyaman bagi para sineas untuk bercerita, berkarya, dan menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kota yang kuat lahir dari keluarga yang kuat, masyarakat yang memiliki empati, serta budaya yang terus hidup melalui karya-karya kreatif.

“Ketahanan kota berawal dari ketahanan keluarga. Dan dalam keluarga, ibu sering menjadi fondasi utama yang menjaga kasih sayang, pendidikan karakter, dan nilai-nilai kehidupan. Karena itu, memuliakan ibu sesungguhnya adalah bagian dari membangun peradaban,” ujarnya.

Menutup acara, Agustina mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat untuk lebih dekat dengan orang tua. Menelepon ibu, meluangkan waktu untuk berkunjung, atau sekadar mendengarkan cerita mereka merupakan bentuk kasih sayang yang sederhana namun sangat berarti.

“Semoga ketika meninggalkan bioskop malam ini, kita tidak hanya membawa kesan tentang filmnya. Kita membawa pulang kesadaran bahwa kasih sayang orang tua tidak pernah habis. Dan sudah sepatutnya kita membalasnya dengan cinta, perhatian, dan kehadiran yang tulus,” pungkasnya. St

Share This Article
Exit mobile version