KUDUS (Jatengdaily.com) — Di tengah hiruk-pikuk konstelasi politik dan beban ekonomi yang kian menghimpit, kediaman KH. Ahmad Badawi Basyir di Pondok Pesantren Darul Falah, Jekulo, Kudus, tak pernah sepi dari tamu. Bukan hanya para pejabat dan tokoh nasional yang sowan meminta doa, melainkan juga masyarakat kecil yang sekadar mampir untuk sambat (berkeluh kesah).
Sebagai ulama kharismatik paku bumi pesisir Jawa yang menjadi panutan kultural maupun struktural Nahdlatul Ulama (NU), Mbah Yai Badawi—sapaan akrab beliau—menyimpan keprihatinan mendalam terhadap kondisi bangsa saat ini. Berikut adalah petikan wawancara bersama beliau di ruang tamu beliau yang sempit dan bersahaja namun penuh wibawa.
Jateng Daily (JD): Assalamualaikum, Yai. Maturnuwun sanget panjenengan sudah berkenan meluangkan waktu untuk kami. Belakangan ini, Yai sering sekali menyoroti nasib masyarakat kecil. Sebenarnya, apa yang paling mengusik batin panjenengan dari kondisi umat hari-hari ini?
KH. Ahmad Badawi Basyir (Kyai Badawi):
Waalaikumsalam warahmatullah. Bismillahirahmanirrahim.
Ngeten nggih, Mas. Dari sudut bilik pesantren cilik ini, di sela-sela riuh rendah santri cilik ngaji dan tetangga yang saban hari mampir sowan untuk sekadar sambat, kulo menyaksikan pemandangan yang makin hari makin menyayat hati.
Kulo ini kan orang tua yang dituakan di tengah ummat. Panggilan batin ini sanès (bukan) urusan politik lho, Mas. Ini murni soal pertanggungjawaban moral, hisab kulo nanti di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Hari-hari ini, tanah air kita niku lagi tidak baik-baik saja. Dari gang-gang sempit di kota sampai ke pelosok desa, kulo denger langsung pating njerit-nya (ratapan) rakyat cilik. Mereka niku dhuafa; buruh harian, petani, pedagang asongan. Keringatnya harus diperas lebih deras cuma buat mastikan dapur di rumah tetep ngebul.
“Lha pripun, imbas rupiah sing melemah, dolar sing mumbul (melonjak), dirangkai sama naiknya harga BBM, akhirnya bikin badai harga bahan pokok. Urip yang asalnya udah susah, sekarang kian mencekik. Ngenes saestu”.
JD: Di tengah himpitan yang mencekik rakyat itu, kita justru kerap melihat pemandangan kontras di panggung kekuasaan. Banyak elit yang seolah abai. Bagaimana Yayi memandang fenomena ini?
Kyai Badawi: Lha niku letak ironinya, Mas. Umat lagi berjuang ngais rezeki sambil mbrebes mili (menangis), eh sebagian pejabat dan elit politik kita malah mempertontonkan keangkuhan. Seolah buta dan tuli dari riak di bawah. Atas nama “mumpung berkuasa”, gaya hidup mewah dan hedonistik dipamerkan tanpa rasa bersalah.
Nurani mereka niku seolah tumpul, ketutup sama syahwat keserakahan. Akhirnya? Melahirkan praktik korupsi masif.
Panjenengan lihat sendiri kan, aroma busuk mega korupsi sudah mulai kecium. Carut-marut program Makan Bergizi Gratis (MBG), sampai bom waktu bobroknya proyek Kawasan Distribusi dan Pangan Nasional (KDPN) di berbagai daerah. Itu bukti nyata, dalil qath’i, betapa kekuasaan hari ini sudah melenceng jauh dari khitah sejatinya. Suul adab (adab yang buruk) kepada rakyat.
JD: Banyak pejabat merasa sudah “turun ke bawah” lewat kunjungan kerja atau memaparkan data keberhasilan program. Apakah itu belum cukup untuk menjawab keresahan umat, Yayi?
Kyai Badawi:
Pesene kulo kagem para penguasa dan elit politik sing kulo hormati: Sampun, berhentilah berapologi! Turunlah dari menara gading kekuasaan niku.
Turun, sapa jemaah, sapa rakyatmu. Tapi eling (ingat), turunlah pakai hati. Mboten usah bawa rombongan protokoler sing kaku.
Ndak usah sibuk adu argumentasi, ndak usah memaksakan kebijakan rumit yang “paradigma kemanfaatannya” sama sekali ndak bisa dicerna akal sehatnya wong cilik.
Rakyat niku ndak butuh angka-angka statistik yang cuma diperdebatkan di ruang ber-AC; rakyat butuhnya solusi konkret. Besok pagi perutnya bisa diisi nopo mboten?
Jangan cuma duduk manis baca laporan di atas meja mewah.
Laporan birokrasi niku acap kali sudah dipupuri (bersolek), isinya cuma aroma ABS (Asal Bapak Senang). Penjilatan yang bikin mata hati pemimpin tertidur pulas.
JD: Kalau merujuk pada teladan kepemimpinan Islam, sosok seperti apa yang seharusnya menjadi rujukan elit kita hari ini dalam menyelesaikan krisis umat?
Kyai Badawi:
Pemimpin niku harusnya ngaji sejarah emas kekhalifahan Islam, meneladani maqom para Sahabat.
Pertama, turunlah seperti Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Beliau niku Amirul Mukminin, tapi malam-malam mikul gandum sendiri di kegelapan Madinah buat ngecek realitas rakyatnya. Beliau sampai mbrebes mili, nangis saat nemu ibu-ibu ngerebus batu cuma buat nenangin anaknya yang kelaparan. Pemimpin kita punya empati kaya gitu nopo mboten?
Kedua, turunlah seperti Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Waktu paceklik, tanpa mikir rugi, beliau gelontorkan seluruh isi gudang gandum dan kafilah dagangnya buat nyelesaiin persoalan ekonomi ummat. Tanpa pamrih!
JD: Sebagai penutup, Yayi. Apa seruan dan doa panjenengan untuk para pemangku kebijakan di negeri ini sebelum terlambat?
Kyai Badawi:
Kulo cuma mau mengingatkan di penghujung usia kulo ini. Kekuasaan niku amanah yang sifatnya sementara, mung mampir ngombe. Kayak fatamorgana di terik siang. Ia akan dimintai pertanggungjawabannya, nggak cuma di kotak suara pemilu, tapi nanti di Mahkamah Ilahi yang ndak kenal kompromi.
Sebagai orang tua, kulo mengetuk pintu hati nurani panjenengan semua. Kembalilah pada rakyat. Dekap mereka dengan kebijakan yang adil, ringankan beban hidup mereka, sapu bersih institusi negara dari petualang-petualang rakus! Sebelum semuanya terlambat, dan sebelum doa-doanya kaum yang dizalimi mengetuk pintu langit dan mendatangkan murka-Nya.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Ini cuma urun rembug dari sudut sunyi pesantren, demi Indonesia yang lebih bermartabat.
Penulis Pimpinan Ponpes Wali, Tuntang, Kab.Semarang, KH Anis Maftukhin- St


