Terapi Mental Jalur Sains dan Langit

5 Min Read

Oleh: Paloma Paramita, S.Psi., M.M., M.Psi.,

Pendekatan kesehatan mental modern sering kali berfokus pada perbaikan fungsi kognitif dan perilaku, sementara pendekatan keagamaan berfokus pada dimensi spiritual. Laporan dari studi global The Lancet melalui salah satu media nasional menginformasikan adanya kenaikan gangguan mental yang signifikan dengan kasus kecemasan dilaporkan melonjak 158% dan depresi naik 131%.

Tekanan ini dipicu oleh variabel yang kompleks, mulai dari ketidakstabilan ekonomi, tingginya kompetisi karir, hingga menurunnya koneksi sosial di dunia nyata. Kelompok usia muda dan usia produktif menjadi demografi yang paling rentan terdampak oleh tekanan atau stressor lingkungan ini.

Salah satu fakta ini semakin mempertegas bahwa penanganan stres tidak cukup hanya mengandalkan resiliensi individu. Diperlukan intervensi preventif yang terstruktur—seperti program well-being berkala dalam tahapan kehidupan, perancangan kualitas hidup yang lebih positif—agar kesejahteraan mental dan peningkatan kualitas hidup dapat berjalan selaras.

Dari sudut pandang Islam, manusia membutuhkan pendekatan biopsikososio-spiritual—sebuah kerangka yang melihat individu secara utuh, memadukan ilmu psikologi dengan kedalaman ajaran Islam.

Titik Temu: Teori Psikologi Modern dan Konsep Islam

Psikologi Islam tidak menolak keilmuan psikologi modern, melainkan memberikan landasan nilai dan tujuan akhir (transendental) pada teori-teori yang sudah ada.
• Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Tafakkur CBT adalah merupakan salah satu terapi psikologis yang sering digunakan. Fokus utamanya adalah mengoreksi cognitive distortion (distorsi kognitif/pola pikir yang keliru) untuk memperbaiki emosi dan perilaku. Dalam Islam, hal ini sangat relevan dengan konsep tafakkur (merenung kritis) dan husnuzhan (berprasangka baik). Mengelola isi pikiran dari was-was (asumsi negatif yang tidak berdasar) menuju objektivitas adalah inti dari kedua pendekatan ini.

• Logoterapi dan Ma’na al-Hayat Psikolog Viktor Frankl mencetuskan Logoterapi, yang menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah mencari makna hidup (will to meaning). Ketiadaan makna sering kali menjadi akar depresi eksistensial yang dialami seseorang. Psikologi Islam menjawab kebutuhan psikologis melalui definisi pengabdian kepada Allah (ibadah) dan peran manusia sebagai khalifah (pemelihara) di bumi. Makna ini membuat seseorang lebih tangguh menghadapi penderitaan (resiliensi).

• Struktur Kepribadian dan Dinamika Nafs Sigmund Freud membagi kepribadian menjadi Id, Ego, dan Superego, sementara keilmuan Islam memetakan dinamika jiwa melalui tingkatan nafs. Dimulai dengan tahap Nafs Ammarah (jiwa yang impulsif dan didominasi hasrat negatif), Nafs Lawwamah (jiwa yang mulai memiliki kesadaran diri dan penyesalan), hingga puncaknya Nafs Mutma’innah (jiwa yang tenang dan terintegrasi). Melalui konsultasi atau konseling dengan psikolog, mekanisme ruang diskusi dua arah ini mendukung terciptanya ketenangan jiwa.

Posisi Layanan Psikologi “SAHABAT” sebagai Bentuk Ikhtiar

Mencari bantuan psikolog atau psikiater sering kali masih dipahami sebagai masalah “kurang iman”. Label yang lebih ekstrim adalah, “saya sakit jiwa“ atau “gangguan mental”.

Padahal dalam syariat Islam, menjaga akal dan mental (hifz al-aql) adalah salah satu dari lima tujuan utama beragama. Oleh karenanya, konsultasi yang dilakukan bersama dengan psikologi memberikan ruang yang sangat krusial dalam tindakan preventif dan kuratif terhadap kesehatan mental.

Meminta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater adalah bentuk ikhtiar (usaha nyata) sebelum seseorang berserah diri (tawakal). Logikanya, Anda tidak bisa berserah diri sebelum berusaha. Menyerah pada suatu kondisi tanpa disertai usaha bukan disebut tawakal, melainkan sikap fatalisme.

Salah satu diversifikasi layanan yang kini hadir di RS Islam Sultan Agung, Semarang adalah klinik Psikologi Sultan Agung Mental Health & Behavioral Assessment Center (klinik Psikologi SAHABAT). Klinik Psikologi SAHABAT turut mendukung terwujudnya kualitas hidup dan kesehatan mental.

“SAHABAT mempunyai kemampuan selain menyelesaikan masalah juga meningkatkan self impassion dan qonaah bagi standar Islam sehingga manusia dalam kondisi hidup senang dan susah maupun bahagia tetap mengarungi hidup sebagai perjuangan“ tutur dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua selaku Direktur Utama RS Islam Sultan Agung. Hadirnya klinik SAHABAT diharapkan memberikan dukungan kepada masyarakat untuk melakukan ikhtiar dalam mengatasi stressor di tahap kehidupan.

Berikut adalah teknik sederhana Spiritual Emotional Freedom Technique atau SEFT yang dapat menjadi referensi Anda dalam menjalani tahap tawakal. Teknik SEFT ini merupakan kombinasi antara doa dan afirmasi positif.

Beberapa waktu lalu, klinik SAHABAT RS Islam Sultan Agung telah melakukan sosialisasi melalui kegiatan psikoedukasi kepada pasien hemodialisa serta jantung. Diharapkan melalui penerapan teknik SEFT yang diajarkan ini, ikhtiar penyembuhan fisik pasien dapat terus berjalan beriringan dengan ketenangan batin sekaligus mengantarkan pada rasa tawakal yang utuh. ***

Penulis: Psikolog Klinik Psikologi SAHABAT RS Islam Sultan Agung, Semarang

Share This Article
Exit mobile version