Undip Jadi Tuan Rumah PIMNAS 2026, Diikuti 100 Perguruan Tinggi se-Indonesia

Opening Ceremony PIMNAS 2026 di Undip. Foto: Siti KH

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Universitas Diponegoro (Undip) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 Tahun 2026. Opening Ceremony ajang kompetisi ilmiah mahasiswa paling bergengsi di Indonesia tersebut berlangsung Selasa (3/11/2026) di Gedung Prof. Soedarto, Kampus Undip Tembalang, Semarang.

Pembukaan berlangsung meriah, perwakilan masing-masing perguruan tinggi mengenakan pakaian adat tampil di podium, juga dimeriahkan kehadiran Genta maskot PIMNAS ke-39 – terinspirasi dari semangat juang Pangeran Diponegoro, kekayaan budaya Semarang, serta elemen kuda milik Pangeran Diponegoro yang melambangkan kekuatan

Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., secara resmi membuka perhelatan nasional yang diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia tersebut.

Dalam sambutannya, Suharnomo menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah atas kepercayaan yang diberikan kepada Undip sebagai tuan rumah PIMNAS tahun ini.

Menurutnya, PIMNAS merupakan kompetisi paling prestisius di kalangan mahasiswa. Sejak awal 2026, tercatat sekitar 98.000 proposal telah masuk untuk mengikuti seleksi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 100 perguruan tinggi berhasil melaju ke tahap final dengan melibatkan sekitar 650 kelompok mahasiswa dan 3.000 delegasi dari berbagai kampus terbaik di Indonesia.

Dari kiri: Wakil Rektor 1 Undip Prof Heru Susanto, Rektor Undip Prof Suharnomo, dan Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek RI, Dr. M. Samsuri. Foto: Siti KH

“Ini merupakan lomba yang sangat luar biasa. Ada sekitar 98.000 proposal yang masuk dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah, hari ini final dilaksanakan di Undip dengan 100 universitas, sekitar 650 kelompok dan 3.000 delegasi,” ungkap Suharnomo.

Ia menjelaskan, PIMNAS tahun ini menghadirkan sembilan kategori kompetisi, mulai dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang kewirausahaan hingga berbagai gagasan dan pemikiran futuristik.

Suharnomo berharap seluruh peserta tidak hanya berorientasi pada perolehan medali atau penghargaan, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, esensi PIMNAS bukan semata-mata mencari juara, melainkan membangun kepedulian generasi muda melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan metode ilmiah serta menjawab kebutuhan masyarakat.

“Ini bukan hanya tentang mencari medali emas, tetapi lebih pada prinsip kemanusiaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Anak-anak muda harus mampu menunjukkan kepedulian, menghasilkan karya ilmiah yang baik, serta mengimplementasikan ilmu tersebut untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai tuan rumah, Undip juga berpartisipasi dengan mengirimkan 24 tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk berkompetisi dalam PIMNAS 2026.

Genta maskot PIMNAS di Undip. Foto: Siti KH

Pentingnya Kualitas

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI, Dr. M. Samsuri, S.Pd., M.T., IPU., yang turut membuka kegiatan tersebut, menekankan pentingnya kualitas kreativitas, karya ilmiah, poster, publikasi, serta inovasi yang dapat ditransfer dan dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.

Ia juga mengingatkan seluruh peserta mengenai pentingnya menjaga integritas akademik dalam menghasilkan karya ilmiah. Menurutnya, kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab, dan kehormatan merupakan nilai utama yang harus menjadi landasan setiap mahasiswa, peneliti, maupun akademisi.

Samsuri menegaskan bahwa seluruh karya ilmiah harus terbebas dari plagiarisme dan berbagai bentuk pelanggaran integritas akademik. Kesadaran tersebut perlu dibangun sejak dini, tidak hanya ketika mahasiswa mengikuti kompetisi, tetapi juga dalam perjalanan akademik dan profesional mereka ke depan.

Ia menjelaskan, pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menelusuri referensi, memperbaiki bahasa, maupun mendukung proses penyusunan karya ilmiah. Namun, teknologi tidak boleh menggantikan proses berpikir ilmiah, kreativitas, dan orisinalitas penulis.

“AI dapat difungsikan sebagai alat bantu, tetapi tidak boleh menggantikan pemikiran ilmiah maupun penulisan karya secara utuh. Orisinalitas karya harus tetap berasal dari penulis, peneliti, atau penemunya,” tegasnya.

Menurut Samsuri, integritas akademik tidak cukup hanya ditegakkan melalui aturan dan sanksi. Hal yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran setiap individu untuk senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dalam menghasilkan karya ilmiah.

Ia berharap mahasiswa peserta PIMNAS dapat menjadi generasi peneliti, inovator, dan pemikir masa depan yang memiliki kompetensi sekaligus integritas.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip sekaligus Ketua Panitia PIMNAS ke-39, Prof. Dr. rer. nat. Ir. Heru Susanto, S.T., M.M., M.T., menegaskan bahwa PIMNAS merupakan kompetisi mahasiswa paling bergengsi yang diselenggarakan oleh kementerian.

Oleh karena itu, penyelenggaraannya membutuhkan persiapan dan kerja keras secara menyeluruh agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik.

Dengan menjadi tuan rumah PIMNAS ke-39, Undip berharap dapat menghadirkan penyelenggaraan yang berkualitas sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk bertukar gagasan, memperkuat kolaborasi, serta melahirkan inovasi yang berdampak bagi kemajuan bangsa. she

 

Share This Article
Exit mobile version