in

Dimediasi Ganjar, Warga Tambakrejo Sepakat Pindah ke Kalimati

Warga shalat tarawih. Foto: dok/jd

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Konflik yang terjadi antara warga Tambakrejo Kelurahan Tanjungmas Kecamatan Semarang Utara dengan Pemerintah Kota Semarang, kini semakin memanas pasca penggusuran 97 rumah warga yang ada di bantaran sungai Banjir Kanal Timur (BKT) oleh Pemkot Semarang pada, Kamis (9/5). 

Tak mau berlarut- larut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo segera melakukan tindakan cepat untuk memediasi kedua belah pihak agar ada solusi terbaik atas permasalahan tersebut.

Ganjar mengundang kedua belah pihak untuk duduk bersama membicarakan solusi atas persoalan tersebut di Gedung Moch Ichsan Kompleks Balai Kota Semarang, lantai 8, Minggu malam (13/5). 

Hadir dalam kesempatan itu Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi, Wakil Walikota Semarang, Hevearita G Rahayu, Kepala BBWS Pemali Juwana Rubhan Ruzziyatno dan puluhan warga Tambakerjo Kelurahan Tanjungmas, Semarang Utara.

Dalam mediasi tersebut, Ganjar mengatakan bahwa, peristiwa penggusuran sudah terjadi. Semua pihak diminta tidak membicarakan persoalan penggusuran, namun mencari solusi ke depan atas peristiwa itu. 

Namun tawaran tersebut ditolak oleh warga. Mereka bersikukuh untuk tetap tinggal di lokasi itu dengan alasan pekerjaannya sebagai nelayan. Akhirnya, Ganjar mempersilahkan warga untuk mengutarakan keinginannya dan akan dipenuhi oleh pemerintah.

Riyanto, warga Tambakrejo menegaskan bahwa, masyarakat tidak mau menempati Rusunawa Kudu karena terlalu jauh dari laut.

Mendengar hal itu, Ganjar kemudian meminta tanggapan dari Kepala BBWS Pemali Juwana dan Pemkot Semarang untuk membicarkan persoalan tersebut. Setelah menggelar rapat kecil-kecilan, akhirnya disepakati bahwa warga Tambakrejo akan ditempatkan di lokasi Kalimati tersebut.

Warga yang tetap bersikukuh tinggal di lokasi menolak usulan itu. Akhirnya disepakati oleh warga sendiri, bahwa lokasi urugan tanah 30 persen di Kalimati sudah dirasa cukup untuk menampung 97 kepala keluarga korban penggusuran.

Ditemui usai acara, Ganjar mengatakan jika apa yang sudah disepakati itu adalah keinginan warga. Padahal, dirinya sendiri tidak rela jika warga harus tinggal di hunian sementara atau dibedeng-bedeng pinggir sungai tersebut.

Sementara itu, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan, sebenarnya penggusuran yang dilakukan Satpol PP kemarin bukanlah tindakan instan. Sebelumnya, proses sosialisasi sudah dilakukan agar warga pindah ke lokasi Rusunawa Kudu karena rumah warga akan dirobohkan untuk memperlancar proses normalisasi sungai BKT.

Hendi menambahkan, 97 kepala keluarga yang masih bertempat tinggal di lokasi bantaran BKT itu memang menjadi penghambat utama proyek normalisasi BKT. Pihaknya sudah kerap ditegur oleh BBWS maupun dari Kementerian agar segera menyelesaikan permasalahan itu.

Sekedar diketahui, Satpol PP Kota Semarang melakukan penggusuran rumah warga yang dibangun di atas bantaran sungai Banjir Kanal Timur pada Kamis (9/5). Penggusuran tersebut sempat ricuh karena warga berupaya mempertahankan lokasi itu.

Akibat penggusuran, sebanyak 97 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Mereka kini menempati tenda-tenda darurat yang ada di lokasi. Kondisi ini sempat ramai dan menjadi pemberitaan baik media lokal maupun media sosial. ugl–st

Written by Jatengdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Pantau Lalu Lintas dan Tekan Kriminalitas, Tol Semarang-Batang Dipasangi 75 CCTV

Perburuan Trofi Juara Tersulit bagi Manchester City