Doa Mustajab Mbah Moen, Keinginan Meninggal Hari Selasa Diijabah

Jenazah Almarhum KH Maemun Zubair saat disemayamkan di Daker Haji Indonesia, Makkah. Foto:dok

MAKKAH (Jatengdaily.com) – Masyarakat Indonesia khususnya Jawa Tengah yang sedang  ibadah haji di Tanah Suci Makkah yang akan wukuf, Sabtu (10/8/2019), kaget saat mendengar kabar KH Maemun Zubeir, ulama besar bereputasi internasional dari Sarang, Rembang  wafat, Selasa (6/8/2019), pukul 04.17 WAS di RS An Noor, Makkah.

Mbah Maemun wafat,  15 menit menjelang Subuh. Ditandai pukul 02.00 Kota Makkah hujan cukup deras, sehingga membuat kota ini tersiram dari panas yang begitu esktrem disertai debu setiap harinya. Hujan mereda sekitar pukul 04.00.

Begitu pula sepanjang hari, udara terasa nyaman, matahari tampak redup seolah sengaja menyertai wafatnya Mbah Maemun. Padahal Makkah di musim panas ini, setiap siang panas menembus 50 derajat celcius. Selasa kemarin seharian berkisar 33 derajat celcius.

Hujan di musim panas ini banyak pentakziyah yang meyakini keakraban cuaca yang tiba-tiba sangat nyaman tersebut sebagai pertanda almarhum menghadap Sang Khalik dalam kondisi husnul khatimah.

“Beliau ulama besar yang kharismatik, sehingga alam pun sangat bersahabat ketika beliau menghadap sang Khalik,” tutur Dr Musahadi MAg, Wakil Rektor 1 UIN Walisongo di sela takziyah di Kantor Daerah Kerja (Daker) Haji Indonesia, di Aziziyah, Makkah.

Hal senada juga ditegaskan Dr KH Najahan Musyafak MA, Wakil Dekan 1 Fakultas Dakwah UIN  Walisongo, Semarang. “Rencana Selasa ini saya bersama kawan-kawan  Semarang sowan beliau, eh tidak disangka ternyata sowan untuk takziyah,” katanya.

Begitu jenazah Mbah Maemun dipulangkan dari Rumah Sakit di Makkah kemudian disucikan selanjutnya disemayamkan di Kantor Daker Haji Indonesia. Setelah  mendekati Dhuhur dibawa ke Masjidil Haram untuk disalatkan dan selanjutnya dimakamkan di Al Ma’la Makkah yang diikuti ribuan pelayat yang mengantar di peristirahatan terakhir.

Di Kantor Daker Haji Indonesia ribuan pentakziyah harus antri di halaman untuk bergiliran mensalati dan mendoakan almarhum. TaK terkecuali Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin.dan sejumlah ulama Indonesia.

Ketua DPP Masjid Agung Jawa Tengah Prof Dr KH Noor Achmad yang juga Ketua Yayasan Universitas Wahid Hasyim, Semarang menyatakan kehilangan atas wafatnya Al Allamah, KH Maemun Zubair  di RS An Noor, dalam usia 91 tahun.

“Beliau adalah ulama besar, tidak hanya tokoh nasional namun juga tokoh internasional yang fatwanya menjadi panutan umat Islam saat ini,” katanya.

Prof Noor Achmad menegaskan, Mbah Moen di samping menguasai kitab-kitab tafsir dan fiqih, juga ahli sejarah yang mempunyai ingatan sangat sempurna, juga seorang sanad hadis yang hadis-hadis riwayatnya sering disampaikan kepada tamu dan santri yang datang ke rumah di.Ponles Al Anwar, Sarang, Rembang.

Pesantren Al Anwar  dikenal dengan kajian kitab-kitab kuning karangan ulama-ulama besar. Pesantren ini juga dikenal mempunyai spesifikasi ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah).

Maka tidak heran, kata Prof Noor Achmad, beliau telah banyak melahirkan santri-santri hebat dan telah mencetak ribuan kiai hebat yang pesantren-pesantrennya  tersebar di nusantara.

Beliau sering bercerita dan sekaligus memohon kepada Allah, agar dikabulkan wafat di Makkah dan pada hari Selasa, karena ahli ilmu biasanya wafat di hari Selasa dan akhirnya doa tersebut terkabul. “Semoga pengabdiannya untuk Islam akan mengantarkan ke Jannatun Naim ” harap Prof Noor Achmad. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here