PEMALANG (Jatengdaily.com)- Memasuki musim kemarau, berdampak bagi para petani sayuran di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari,Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Pasalnya, sumber air untuk pengairan pertanian mereka mulai surut.
Seperti diketahui, daerah ini dikenal sebagai sentranya sayur mayur d ipantura, karena letaknya tepat diLereng Gunung Slamet.
Nasirun misalnya salah satu petani asal Desa Clekatakan ,menuturkan memasuki musim kemarau seperti sekarang ini jelas menambah biaya produksi. Pasalnya semua tanaman jenis sayur mayur yang mereka tanam, sangat membutuhkan air, sementara sumber mata air sudah tidak ada yang bisa digunakan lantaran semuanya sudah mengering.
Sementara embung tempat penampungan air hujan yang digunakan selama ini juga sudah tidak berfungsi. Karena sudah tidak turun hujan, alhasil mereka harus membeli air yang diambil dari bawah menggunakan mobil tangki, untuk kapasitas 5.000 liter dibutuhkan biaya berkisar Rp 250 ribu.
Untuk bisa menggarap lahan seluas 500 meter, dibutuhkan air 5 tangki dari mulai tanam sampai panen, jelas ini sangat memberatkan para petani. “Yang saya tanam kubis,karena sayuran jenis ini, tahan di musim kemarau dan tidak begitu banyak membutuhkan air dibanding jenis sayuran lainya,” jelasnya.
Hal yang sama juga diungkapkan sobiroh yang juga sedang menggarap lahannya untuk di tanami kubis. Saat ini, mereka hanya bisa pasrah melihat keadaan ini, meski harus membeli air untuk keperluan lahan sayur mayurnya,karena hanya itu yang mereka bisa guna menghidupi keluarganya. wing-she
