By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Kemarau, Petani Terpaksa Beli Air untuk Menyiram Tanamannya
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Kemarau, Petani Terpaksa Beli Air untuk Menyiram Tanamannya

Last updated: 2 Juli 2019 11:50 11:50
Jatengdaily.com
Published: 2 Juli 2019 11:50
Share
Musim kemarau, air di embung langka, petani terpaksa harus beli air untuk menyiram tanaman mereka. Foto: wing
SHARE

PEMALANG (Jatengdaily.com)- Memasuki musim kemarau, berdampak bagi para petani sayuran di Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari,Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Pasalnya, sumber air untuk pengairan pertanian mereka mulai surut.

Seperti diketahui, daerah ini dikenal sebagai sentranya sayur mayur d ipantura, karena letaknya tepat diLereng Gunung Slamet.

Nasirun misalnya salah satu petani asal Desa Clekatakan ,menuturkan memasuki musim kemarau seperti sekarang ini jelas menambah biaya produksi. Pasalnya semua tanaman jenis sayur mayur yang mereka tanam, sangat membutuhkan air, sementara sumber mata air sudah tidak ada yang bisa digunakan lantaran semuanya sudah mengering.

Sementara embung tempat penampungan air hujan yang digunakan selama ini juga sudah tidak berfungsi. Karena sudah tidak turun hujan, alhasil mereka harus membeli air yang diambil dari bawah menggunakan mobil tangki, untuk kapasitas 5.000 liter dibutuhkan biaya berkisar Rp 250 ribu.

Untuk bisa menggarap lahan seluas 500 meter, dibutuhkan air 5 tangki dari mulai tanam sampai panen, jelas ini sangat memberatkan para petani. “Yang saya tanam kubis,karena sayuran jenis ini, tahan di musim kemarau dan tidak begitu banyak membutuhkan air dibanding jenis sayuran lainya,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan sobiroh yang juga sedang menggarap lahannya untuk di tanami kubis. Saat ini, mereka hanya bisa pasrah melihat keadaan ini, meski harus membeli air untuk keperluan lahan sayur mayurnya,karena hanya itu yang mereka bisa guna menghidupi keluarganya. wing-she

You Might Also Like

Beri Kemudahan Konsumen di Akhir Tahun, Wuling Hadirkan Mall Exhibition di 8 Kota Besar
Indonesia dan Negara ASEAN Lainnya Lakukan Asesmen Hari Ke-3 Pascabencana Siklon Mocha Myanmar
Siti Aisyah Turut Perjuangkan Nasib Nelayan di Forum PBB
Unissula Festival Seni Internasional Perlombakan 10 Cabang Lomba
Trabas Kamtibmas untuk Pilkada 2024 Aman dan Damai
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?