Komplotan Curas Solo dan Demak Digulung

CURAS : Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi memeriksa komplotan curas di Mapolres, kemarin. Foto dok:SM/Heru Susilo

SUKOHARJO (Jatengdaily.com) – Jajaran reskrim Polsek Grogol Sukoharjo menggulung komplotan pelaku pencurian dengan kekerasan (curas) kelompok Solo dan Demak dengan modus penggandaan uang.

Kelompok Demak sendiri terdiri atas Haryanto Boneng, Teguh Andriyanto, Eko Prasetyo, dan Eko Budiarto. Sedangkan kelompok Solo masing-masing Sihwanto alias Wanto, Tri Haryanto, warga Delanggu, Klaten, Warno alias Andi, kos di Bendosari, Sukoharjo, serta Bambang Andriyanto. Saat ini mereka mendekam di tahanan Mapolres Sukoharjo.

Kapolres Sukoharjo AKBP Iwan Saktiadi terkait kasus tersebut mengatakan, dalam aksinya di Grogol, mereka membawa kabur uang senilai Rp 30 juta.

Menurut Kapolres, komplotan ini diotaki Sihwanto alias Wanto (50), warga Sanggarahan RT 02/18, Desa Wonorejo, Gondangrejo, Karanganyar. Dalam aksinya dia yang mengenalkan pada calon korban bisa menggandakan uang dengan sistem satu banding tiga.

Dari promosinya tersebut, akhirnya ada tiga warga Malang Jatim yang tertarik untuk bisnis tersebut. Setelah komunikasi intensif dengan calon korban, akhirnya mereka sepakat bertemu di Solo Baru untuk menyerahkan uang yang akan digandakan. “Sebelum pertemuan ini, mereka melakukan rundingan untuk menentukan strategi saat calon korban datang,” jelas Kapolres.

Saat pelaku sudah bertemu dengan korban di hari yang sudah ditentukan, sebagian pelaku datang dan berpura-pura sebagai anggota kepolisian. Saat itulah pelaku merebut tas yang berisi uang yang dibawa calon korban lalu dibawa kabur. Beruntung salah satu korban berhasil merebut tas milik para pelaku yang kabur lalu melaporkan kasus tersebut ke polisi.

Dari sejumlah bukti yang ditemukan di dalam tas pelaku, akhirnya polisi mengendus keberadaan para pelaku dan melakukan penangkapan. Ternyata mereka berasal dari luar daerah, yaitu Demak.

Awalnya polisi menangkap satu persatu kelompok Demak dan dilanjutkan kelompok Solo termasuk Wanto yang jadi sutradara tanpa perlawanan. “Kejadian ini terjadi akhir Agustus lalu dengan kerugian mencapai Rp 30 juta,” imbuh Kapolres.

Dari pengakuan pelaku, sebelum melakukan aksi di Solo baru, mereka akan beraksi di Pekalongan tapi gagal karena calon korban tidak datang ke lokasi pertemuan.

Salah satu pelaku Wanto mengaku perkenalan dengan korban melalui temannya. Saat itu dirinya mengaku jika bisa menggandakan uang dan korban percaya. Wanto sendiri mengaku hanya bertugas mencari korban dan yang melakukan eksekusi adalah anggota komplotan lainnya. smn/H46/st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here