SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kawasan Kota Lama Semarang dapat menjadi sarana edukasi budaya dan sejarah bagi generasi muda. Karena itu, pengembangan destinasi wisata Kota Lama harus memperhatikan karakteristik kawasan bersangkutan.
Hal itu dikatakan Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie
menanggapi masalah revitalisasi Kota Lama dilihat dari perspektif seni dan budaya.
Gunoto mengatakan, keluhan mengenai tercerabutnya generasi muda dari akar budaya sendiri sering kita dengar.
Begitu juga tentang lunturnya semangat nasionalisme karena mereka tidak lagi mengenal sejarah bangsanya. Budaya global yang bersifat instan justru lebih memikat dan memesona bagi mereka. Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan.
“Kota Lama, seperti halnya kota-kota tua lain di Jawa, secara historis merupakan
kota kolonial peninggalan rancang-bangun Belanda. Struktur sosial masyarakat di kawasan Kota Lama meninggalkan jejak perkembangan budaya,” ujarnya seraya menambahkan perlunya penataan destinasi wisata diperluas sampai kawasan Pecinan dan Pekojan.
Hal ini, tambah Gunoto, karena dua kawasan tersebut memiliki sejarah panjang yang tak terpisahkan dari terbentuknya Kota Lama. Karena itu Pemerintah Kota Semarang harus menunjukkan kepeduliannya dengan mengadakan berbagai kegiatan yang bernuansa sejarah dan budaya.
“Ini berarti, kebijakan revitalisasi Kota Lama harus menghadirkan ruang bagi pelaku budaya tradisional. Gambang Semarang, misalnya, harus tetap mendapatkan tempat di tengah pertumbuhan Semarang menjadi kota metropolitan,” katanya.
Apalagi, Gambang Semarang merupakan contoh adanya multikulturalisme di Kota Semarang. Karena di dalamnya terdapat dialog sejumlah ekspresi budaya yang sangat kental di dalamnya.
Menurut Gunoto, revitalisasi Kota Lama saat ini terkesan lebih memprioritaskan hal-hal yang bersifat fisikal. Bukannya hal itu tidak penting, terutama bagi upaya pengenalan sejarah dan arsitektur Kota Lama.
Namun, harus diingat, cagar budaya tak benda pun dapat memperindah
dan mendukung pengembangan kawasan ini. Karena itu aktivitas kesenian dan kebudayaan di kawasan ini tidak boleh diabaikan.
“Penampilan para seniman tradisional sesungguhnya bisa memberikan warna bagi Kota Lama. Ia pun bisa menjadi sebagai sarana belajar bagi masyarakat untuk lebih mengenal budaya Semarangan,” tambahnya sambil memberikan apresiasi terhadap Pemkot Semarang yang telah merevitalisasi Kota Lama dan bisa menjadi contoh bagi pemerintah daerah lain di Jawa Tengah yang memiliki kawasan kota tua. Ugl–st


