By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Pemkot Upayakan Semarang Menuju Zero Stunting
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Pemkot Upayakan Semarang Menuju Zero Stunting

Last updated: 27 Oktober 2019 15:29 15:29
Jatengdaily.com
Published: 27 Oktober 2019 15:29
Share
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Stunting masih menjadi tantangan di Indonesia. Tidak terkecuali di Kota Semarang. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, angka prevalensi balita stunting di Kota Semarang berada pada angka 2,73 persen atau 2.708 anak di tahun 2018.

Jumlah tersebut dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan dengan prevalensi balita stunting di Provinsi Jawa Tengah yaitu 34,3 persen dan prevalensi stunting nasional 30,8 persen atau 7,3 juta anak pada tahun 2018.

Namun, kondisi ini harus tetap menjadi perhatian bersama dan tidak dapat disepelekan. Hal itu disampaikan Wali kota Semarang Hendrar Prihadi saat membuka talkshow Sinau Bareng Gizi dan Stunting kota Semarang di Balaikota Semarang, belum lama ini.

Stunting dapat terjadi sebagai akibat kekurangan gizi terutama pada saat 1000 HPK (hari pertama kelahiran). Dengan demikian, pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan pada ibu hamil perlu mendapat perhatian guna mencegah terjadinya stunting.

Hendi sapaan akrab wali kota menyampaikan bahwa, tugas dan tanggung jawab kita kepada generasi emas untuk mendidik dan memberikan asupan gizi yang baik terutama di 1000 hari pertama di kehidupannya, terutama ASI eksklusif sebagai upaya mencegah stunting.

“Ada dua faktor yang menyebabkan stunting. Pertama adalah faktor spesifik karena kekurangan gizi dan asupan makanan yang diberikan tak mendukung pertumbuhan tubuhnya.

Misalnya, saat kondisi hamil, ibu tidak makan makanan berprotein atau sayur-sayuran atau saat bayi, tidak diberikan ASI secara ekslusif. Kedua adalah faktor sensitif. Seperti kesehatan lingkungan dan penggunaan jamban yang baik”, jelas Hendi.

Lanjut Hendi, bagi anak yang sudah terlanjur stunting, dapat diberikan pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan, stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan.

Kuncinya di seribu hari pertama, asupan gizi harus dicukupi. Upaya pemerintah kota Semarang, untuk memperbaiki stunting salah satunya dengan adanya rumah pelangi di wilayah Banyumanik.

Selain stunting, Hendi juga menyinggung soal penerangan dan sanitasi di rumah termasuk septic tank, yang jika tidak dimanfaatkan dengan baik dapat menimbulkan masalah.

Menurutnya, perawatan sanitasi yang baik adalah dengan cara septic tank dikuras setiap 5 tahun sekali, karena jika tidak dikhawatirkan akan terserap ke sumber air bersih di sekitar rumah.

Hendi pun, berharap, agar jajarannya dapat terus melakukan sosialisasi dan bantuan kepada warga masyarakat agar di setiap rumah dapat mempunyai sanitasi yang baik. Ugl–st

You Might Also Like

Kasus Corona di Episentrum Wuhan Diklaim Turun
Siaga SAR Khusus Nataru, Basarnas Cilacap Siagakan 30 Anggotanya
Penyelundupan Narkotika Jaringan Internasional Digagalkan Polri dan Bea Cukai
Politik Uang Masih Warnai Pemilu 2019
Kinerja Mbak Ita Satset dalam Upaya Penanganan Banjir Dipuji Anggota DPRD Kota Semarang
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?