2045 Semarang Bisa Tenggelam, Jika Tata Kelola Air Tak Terkontrol

Salah satu tim peneliti menjelaskan daerah-daerah yang akan mengalami penurunan permukaan tanah di Kawasan Kota Semarang saat melakukan presentasi di salah satu cafe di Semarang. Foto: Ody

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Kasus penurunan tanah ternyata tidak hanya terjadi di Kota Jakarta. Melainkan terjadi juga di sepanjang kawasan Pantura Jawa Tengah termasuk di Kota Semarang.

Hasil penelitian beberapa lembaga di antaranya Konsorsium GroundUp Universitas Gadjah Mada, UNESCO IHE Delft, University of Amsterdam, Amrta Institute dan Kruha menunjukkan, bahwa buruknya tata kelola air yang terjadi di Kota Semarang

Akibatnya, kawasan Kota Semarang mengalami penurunan permukaan tanah hingga 10 sampai 15 cm pertahun, khususnya di Kelurahan Tambaklorok Semarang Utara.

“Temuan awal sudah terasa, ketika kami bersama tim melakukan penelitian di lapangan. Data di lapangan menujukkan bahwa banyak warga sudah memperbaiki rumah sampai tiga kali dalam lima tahun terakhir,” ujar Amalinda Savirani, PhD Department Politics and Government UGM kepada wartawan di Semarang, Jumat, (31/1/2020).

Menurutnya ada tiga faktor penyebabnya. Pertama, ekstraksi air keluar dari tanah sangat eks masif. Kedua, terjadi perubahan iklim air dari laut. Ketiga, amblesnya semakin mendalam dari proses ekstraksi dari bawah tanah. Tiga faktor ini saling berkombinasi.

Sehingga, ini menjadikan situasi yang sebelumnya tidak diprediksi. Banyak masyarakat juga tidak menyadari bahwa faktor penurunan atau amblesnya tanah tidak hanya terjadi akibat siklus geologis (pelapukan, pengendapan pergeraka kerak bumi).

Namun juga faktor adanya ekstraksi air tanah yang berlebihan di Kota Semarang. Di mana dalam pengambilan volume air cukup banyak sehingga hal ini dapat menyebabkan berkurangnya volume air pada tanah pada suatu lapisan tanah.

Belum lagi konstruksi bangunan-bamgunam yang ada di Kota Semarang seperti yang ada di Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan lainnya. Sehingga diprediksi pada tahun 2045 sebagian Kota Semarang bisa tenggelam akibat tata kelola air tidak terkontrol.

“Hal ini yang menjadi konsen kami serta menjadikan dasar untuk kami dalami lebih lanjut dalam dua tahun kedepan,” tegasnya.

Penegakan Aturan
Meskipun, dalam kasus ini Pemerintah Kota Semarang juga sudah berusaha sangat keras dalam menegakkan aturan. Seperti menaikkan pajak air, memonitoring proses-proses izin dan memastikan akan ditutup bagi yang melanggar.

“Tapi yang harus kita evaluasi seberapa efektifkah aturan tersebut, bila masih banyak yang masih melanggar. Karena meskipun ada monitoring kasus pengambilan air dari bawah tanah masih kerap ditemukan,” tegasnya.

Ia berharap, penelitian ini dapat menyumbang terhadap apa yang saat ini pemerintah kota yang juga berusaha menyelesaikan masalah ini.

“Sehingga tidak hanya pemerintah tapi juga mendorong masyarakat bersama-sama menjadikan isu ini menjadi isu bersama yang terus dibicarakan. Kalau terus dibicarakan, isu ini akan menjadi perhatian sehingga mendapat respon dari pemerintah,” harapnya. Ody-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here