PEMALANG (Jatengdaily.com)- Memasuki pekan ke tujuh tahun ini, gigitan nyamuk Aedes Aegypti – penyebab sakit demam berdarah Dengue (DBD) sudah menjangkiti sedikitnya 43 anak di Pemalang.
Masyarakat terutama yang tinggal di wilayah endemis demam berdarah (DB) di wilayah Pantura Pemalang diminta lebih mewaspadai dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.
Salah satu korban adalah Mohammad Natan. Bocah empat tahun warga desa Tegalmlati Kecamatan Petarukan ini sudah tiga hari berada di rumah sakit pemerintah daerah RSUD dr Ashari Pemalang untuk menjalani perawatan. Ia masih tampak lemas di pangkuan ibundanya. Kedua matanya juga terlihat sayu.
Ayah korban, Prayitno (40) menceritakan, awalnya anaknya mengalami panas tinggi, dan dirawat di rumah selama sehari. Namun suhu badannya tak kunjung reda bahkan sampai mengalami kejang-kejang. Ia pun lalu membawanya ke rumah sakit. “Kata dokter, anak saya terkena gejala demam berdarah,” kata Prayit, Senin (17/2/2020).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang Sholahudin mengatakan, selama empat hari perawatan, pasien penderita demam berdarah sudah melewati masa krisis, sehingga diharapkan kondisinya akan membaik.
Namun begitu, pihaknya akan terus memantau kondisi Natan. Sebab ada juga yang setelah melewati empat hari perawatan, justru memburuk.
“Kita tetap waspada dan meminta kepada keluarganya bila kondisinya timbul lemas, atau beraknya hitam apalagi, harus cepat-cepat dibawa rumah sakit lagi,” katanya, Selasa (18/2/2020).
Ia mengatakan, saat musim hujan penularan virus dengue akibat nyamuk Aedes Aegypti cukup rentan. Namun dari jumlah penderita yang ada, menurutnya, tidak ada yang sampai mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS), atau kondisi terburuk yang ditandai dengan pendarahan, hingga bisa merenggut nyawa. “Sampai hari ini tidak ada korban meninggal,” katanya. wing-she


