Deflasi Saat Ramadan dan Pandemi

0
139

Oleh : Hayu Wuranti
Statistisi Ahli Madya
BPS Provinsi Jawa Tengah

RAMADAN tahun ini terasa istimewa, karena bersamaan dengan terjadinya pandemi COVID-19 sehingga Pemerintah mulai menerapkan kebijakan physical distancing dan stay at home mulai dari belajar, bekerja dan beribadah. Sebagai upaya menekan dampak pandemi COVID-19, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meluncurkan gerakan ‘Jogo Tonggo’. Gerakan yang dibuat untuk saling menjaga tetangga saat Pandemi COVID-19.

Pada pelaksanaannya, ‘Jogo Tonggo’ mencakup dua hal, yaitu jaring pengaman sosial dan keamanan, serta jaring ekonomi, yang mengatur sejumlah hal agar pembatasan sosial dapat berjalan optimal. Di antaranya, kewajiban penggunaan masker, serta pengetatan pembatasan jarak di pasar serta industri. Hal ini mempengaruhi pola konsumsi masyarakat sehingga berdampak pada fenomena perubahan harga barang di masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) Privinsi Jawa Tengah pada awal bulan ini merilis perkembangan Indek Harga Konsumen (IHK) bulan April 2020. Pada bulan April 2020 di Jawa Tengah terjadi deflasi sebesar 0,01 persen., artinya pada bulan April telah terjadi penurunan harga-harga barang dan jasa. Hal ini dinilai tak biasa, karena pola historis inflasi menjelang Ramadan umumnya meningkat.

Penyumbang Deflasi Terbesar
Deflasi pada bulan April 2020 terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya sebagian indeks kelompok pengeluaran, dengan penurunan terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,69 persen diikuti kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,04 persen, serta kelompok rekreasi, olah raga dan budaya sebesar 0,01 persen.

Secara keseluruhan pada bulan April 2020, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil/ sumbangan terhadap deflasi sebesar 0,17 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/ sumbangan deflasi antara lain: cabai merah, daging ayam ras, bawang putih, telur ayam ras, cabai rawit, susu cair kemasan, dan pisang. Sedangkan kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan dan kelompok rekreasi, olah raga dan budaya secara keseluruhan pada bulan April 2020, kedua kelompok ini memberikan andil/ sumbangan terhadap deflasi yang relatif kecil (0,00 persen).

Berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya, dimana ketika memasuki bulan Ramadan, kelompok makanan mengalami inflasi dan memberikan andil inflasi terbesar, justru pada tahun ini mengalami penurunan. Kegiatan masyarakat yang lebih banyak dilakukan di rumah menjadikan kebutuhan yang banyak dikeluarkan adalah makanan sehingga memberikan sumbangan deflasi terbesar.

Sedangkan kenaikan indeks terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,25 persen diikuti kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar lainnya, serta kelompok kesehatan masing-masing sebesar 0,09 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,08 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,06 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,03 persen, serta kelompok transportasi sebesar 0,02 persen. Penahan utama deflasi di Jawa Tengah adalah naiknya harga emas perhiasan, bawang merah, gula pasir, tarif kontrak rumah dan minyak goreng.

Dari 6 kota IHK di Jawa Tengah, empat kota (Kota Purwokerto, Surakarta, Kudus dan Semarang) mengalami deflasi dan dua kota (Kota Tegal dan Cilacap) mengalami inflasi. Kota Purwokerto dan Kota Kudus mengalami deflasi terdalam, yakni sebesar 0,08 persen, disusul Kota Surakarta 0,03 persen dan Kota Semarang 0,02 persen. Sedangkan inflasi terjadi di Kota Tegal 0,26 persen dan Kota Cilacap 0,05 persen.

Deflasi disebabkan oleh beberapa faktor. Adanya pandemi Corona menyebabkan di daerah tertentu juga menerapkan pembatasan-pembatasan guna menekan penyebaran virus Corona, sehingga berimbas pada daya beli masyarakat yang menurun karena pendapatan menurun, sehingga masyarakat mengubah pola konsumsinya di bandingkan biasanya.

Selain itu penyebab terjadinya deflasi juga akibat berlebihnya produksi suatu komoditas dan berkurangnya distribusi ke daerah sekitar menyebabkan stok komoditas menjadi berlimpah sehingga harga di pasar turun tajam. Efek spiral deflasi bisa terjadi karena merosotnya harga-harga akan menyebabkan turunnya produksi dan aktivitas bisnis secara umum. Padahal, penurunan produksi dan aktivitas bisnis tersebut pasti akan mengakibatkan perlambatan kenaikan upah, atau bahkan berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.

Orang-orang yang mengalami penurunan pendapatan, akan semakin enggan membelanjakan uangnya. Pada akhirnya, tingkat permintaan agregat akan merosot secara nasional, sehingga penurunan aktivitas bisnis akan semakin memburuk. Oleh karenanya, pemerintah dan otoritas keuangan harus berusaha mengambil tindakan untuk menggenjot naik harga-harga barang dan jasa secepat mungkin, untuk mencegah terjadinya efek spiral deflasi. Jatengdaily.com/yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here