Edupark SG Genjot Kesejahteraan dan Kualitas BUMDes

Pengunjung Edupark PT Semen Gresik diwajibkan melakukan physical distancing (jaga jarak) selama beraktivitas di kawasan seluas 1,6 hektar tersebut. Mereka juga wajib cuci tangan, mengenakan masker sesuai ketentuan protokol kesehatan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Foto:dok

REMBANG (Jatengdaily.com) – Progam Edupark PT Semen Gresik (SD) mendorong peningkatan kualitas Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekitar perusahaan. Ujung dari proses ini juga akan menggenjot kesejahteraan masyarakat setempat.

Edupark yang merupakan bagian dari progam Perkebunan, Pertanian, Perikanan dan Peternakan Terpadu (P4T) PT Semen Gresik diresmikan pemanfaatannya oleh Bupati Rembang H Abdul Hafidz, pada Februari 2020. Usai diresmikan, pengelolaan Edupark diserahkan kepada BUMDes “Mbangun Deso” Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.

Direktur BUMDes “Mbangun Deso” Sadikun mengatakan berkat progam Edupark, aktivitas Edupark tetap berjalan normal meski saat masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Jika dirata-rata, tiap bulan pendapatan yang diraih BUMDes “Mbangun Deso” dari Edupark sekitar Rp 4 jutaan. Sadikun memperkirakan pendapatan BUMDes yang dipimpinnya akan terus meningkat seiring naiknya produktivitas hasil dari hewan ternak, ikan maupun aneka sayuran yang dipelihara di lahan Edupark seluas 1,6 hektar tersebut.

“Grafiknya menunjukkan kecenderungan kian produktif. Pendapatan BUMDes ini nanti juga disetor ke desa untuk menunjang kesejahteraan masyarakat,” kata Sadikun.

Lahan Edupark diisi berbagai hewan ternak, ikan hingga aneka sayuran. Progam ini multimanfaat. Dari ayam Arab dan burung puyuh bisa diambil telurnya. Sedang lele dan ikan tawar lainnya bisa dimanfaatkan dagingnya. Pisang dan pepaya dimaksimalkan buahnya.

Tak hanya itu, jamur, kangkung, sawi, selada, kacang panjang, terong hingga sereh dan tanaman hortikultura lainnya juga bisa dimanfaatkan baik dikonsumsi sendiri maupun dijual. Sedang sapi dimanfaatkan dagingnya. Domba Morino selain daging juga bulunya bisa dimanfaatkan. Kotoran sapi, domba, ayam dan puyuh juga bisa dimaksimalkan untuk berbagai hal. Mulai dari pupuk, pakan ternak,  biogas dan bahkan energi listrik untuk kebutuhan rumah tangga.

Menurut Sadikun, masyarakat ternyata antusias dan merespons positif kehadiran Edupark. Indikasinya, hingga kini sudah ada sekitar 700 orang dari berbagai latar belakang mulai dari pelajar SD/sederajat, pengelola BUMDes, karang taruna, organisasi masyarakat, perwakilan BUMN, instansi swasta maupun pemerintah yang mengunjungi Edupark. Mereka tak hanya berasal dari wilayah Rembang saja, namun juga Blora, Pati dan lainnya.

Mereka ingin melihat dan belajar secara langsung pengelolaan progam P4T yang diinisiasi PT Semen Gresik tersebut. Bahkan ada yang ingin menerapkan upaya membangun kemandirian pangan, ekonomi dan bahkan energi ala Edupark di daerahnya. Tapi seiring pandemi Covid-19, kunjungan ke Edupark dibatasi atau bahkan ditunda jika jumlah pengunjung terlalu banyak.

“Kita menerapkan protokol kesehatan dalam berbagai aktivitas di Edupark. Nanti jika kondisi sudah normal kunjungan dibuka seperti biasa,” ujarnya.

Kepala Unit Komunikasi dan Bina Lingkungan PT Semen Gresik Syaichul Amin mengatakan Edupark memang diproyeksikan sebagai sarana transfer pengetahuan bagi warga desa sekitar perusahaan dan kalangan lainnya. Lewat progam ini warga bisa membangun kemandirian pangan, ekonomi dan bahkan energi skala kecil di lingkungannya.

Tak hanya itu, lewat Edupark, desa juga diharapkan bisa memiliki satu produk unggulan berbasis potensi lokal. Ujung dari proses itu, ikut menunjang kesejahteraan masyarakat setempat.

“Edupark ini salah satu wujud komitmen Semen Gresik untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat serta berkontribusi positif untuk kemajuan daerah,” tandasnya. St

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here