SEMARANG (Jatengdaily.com)– Jurnal ilmiah Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP), Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, diakui di kancah Internasional. Pasalnya Journal of the Indonesian Tropical Animal Agriculture (JITAA) atau Jurnal Pengembangan Peternakan Tropis mampu menembus indeks Scopus sejak tahun 2018.
Posisi JITAA FPP Undip masuk di Quartile (Q)3, posisi yang cukup bergengsi dan hanya ada dua jurnal sejenis dari Indonesia yang berada di level ini.
Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip, Dr Ir Bambang Waluyo Hadi Eko Prasetiyono MS MAgr, mengatakan pencapaian ini menjadi kebanggaan Undip.
‘’Jurnal ini juga sudah memiliki ISSN untuk edisi cetak maupun dalam edisi elektroniknya sejak tahun 1999. Di satu sisi juga mendapat dukungan pemerintah untuk program internasionalisasi dari 2009 – 2011, serta diakui oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek Dikti,’’ jelasnya, seperti dilansir dari https://www.undip.ac.id/
Lembaga lain yang memberi pengakuan pada jurnal yang terbit sejak tahun 1975 dalam bentuk bulletin ilmiah ini diantaranya adalah Emerging Sources Citation Index (ESCI)-Clarivate Analytics, Asean Citation Index (ACI), Directory of Open Access Journal (DOAJ), Google Scholar, CAB International, EBSCO, SHERPA/RoMEO, Feedipedia dan Crossref.
‘’Pemiliikan jurnal bereputasi internasional perlu terus dijaga dan dikembangkan supaya tidak merosot. Apalagi bagi FPP Undip yang bukan saja mengelola program strata satu, tapi juga mengelola program diploma, magister peternakan dan magister agribisnis, serta program doktor peternakan,’’ tandasnya,
Sementara itu, Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) JITAA, Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip, Prof Dr Edy Kurnianto, menuturkan jurnal yang dipimpinnya setahun terbit empat edisi, yakni di Bulan Maret, Juni, September, dan Desember. “Setiap edisi, minimal berisi antara 10 sampai 12 manuskrip,” jelas Edy Kurnianto.

Adapun tema yang dibahas fokus pada peternakan tropis, termasuk di dalamnya kajian-kajian tentang pembibitan dan genetika ternak, pakan dan gizi ternak dan reproduksi ternak. Juga hal yang berkait dengan bioteknologi peternakan, psikologi ternak, ekonomi dan management ternak, dan tentu saja hal-hal lain yang relevan dengan upaya pengembangan budidaya ternak tropis di dunia
Lebih lanjut menurutnya, ada sejumlah tantangan yang dihadapi, selain persaingan yang ketat di level internasional, pengelola JITAA merasakan kualitas manuskrip yang masuk dirasakan masih kurang.
“Ini masalah utama yang kami hadapi. Kualitas manuskripnya kurang menggembirakan. Kalau jumlah yang kami terima selalu lebih dari cukup,” paparnya.
Kondisi seperti itu terjadi secara makro, dan tidak bisa diatasi dengan mengerahkan para akademisi Undip yang menjadi associate editor ataupun para pakar dari universitas lain yang menjadi international editorial board serta para mahasiswa program doktor dan magister peternakan yang belajar di Undip.
Karena ada aturan dasar, dimana dari internal lembaga pengelola jurnal maksimal hanya boleh mengisi 30% saja. Selebihnya harus dari penulis luar. “Etika dan kesepakatan ini kalau dilanggar akan membuat akreditasi dan reputasi jurnal turun,”katanya.
Meski ada tantangan, pengelola JITAA berharap jurnal yang dikelolanya bisa masuk Q2 tahun ini. Setidaknya, tetap bertahan di Q3 Scopus.
Edy mengakui, seluruh associate editors JITAA memang dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip seperti Prof Dr Agung Purnomoadi dan Prof Dr Joelal Achmadi, yang semuanya sudah memiliki Scopus ID.
Sedangkan di jajaran international editorial board hampir semuanya dari luar Undip. Mereka adalah pakar dan guru besar di universitas ternama dari luar negeri.
Dalam proses seleksi naskah yang akan ditayangkan, JITAA juga memiliki reviewer handal yang terdiri dari pakar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. she


