SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sebanyak 41 waduk yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, jumlah debit airnya mengalami penyusutan. Penyusutan air karena terlalu sering dipakai untuk memasok air bersih pada musim kemarau panjang.
“Kondisi airnya sudah menyusut semua sekitar 40 persen dari kondisi normal. Jadinya air setiap hari berkurang, sedangkan posisi airnya dipakai penduduk yang butuh pasokan air bersih,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (PUSDATARU) Jateng, Eko Yunianto saat dikonfirmasi, Senin (21/9/2020).
Dari hasil pantauan inspeksi petugas, sejumlah waduk berkapasitas kecil di Grobogan, Blora dan daerah lainnya dalam kondisi kosong tidak ada pasokan air.
“Ada banyak yang kosong seperti waduk yang kapasitasnya kecil. Kalau yang besar, masih ada yang terisi. Tapi debit airnya turun 40 persen,” jelasnya.
Dengan kondisi kemarau panjang ini rentan menimbulkan kerusakan pada bagian dinding waduk. Pihaknya sedang koordinasi secara intens dengan tim BBWS dan kantor operasional waduk untuk selalu menginspeksi bangunan waduk setiap hari.
“Kami minta petugas periksa dinding-dinding waduk. Jangan sampai ada kebocoran yang bisa menimbulkan bencana bagi warga lokal,” ujarnya.
Dia meminta warga agar tidak terburu-buru memakai air waduk untuk kebutuhan irigasi sawahnya. Sebab, di bulan ini masih masuk musim tanam ketiga dengan jenis tanaman seperti biji-bijian palawija. “Sekarang lagi musimnya palawija, belum perlu pakai air dari waduk,” ungkapnya. adri-yds
0



