Mahasiswa KKN UIN Walisongo Kunjungi Petani Kopi di Banjarnegara

Warga di lereng Gunung Rogojembangan Banjarnegara selain menanam kopi juga sekaligus mengolah sendiri menjadi kopi bubuk. Foto: ist

BANJARNEGARA (Jatengdaily.com) – Melintasi jalanan pegunungan berkelok dari Kota Banjarnegara menuju Kecamatan Wanayasa, akan disuguhi dengan pemandangan hijau nan elok yang jarang ditemukan di daerah perkotaan.

Di sinilah terdapat produsen kopi dengan brand kopi lokalnya, “Rogojembangan Coffe”. Tepatnya di Perumnas Wanayasa Indah, Desa Tempuran Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara. Di situlah terdapat tempat budidaya kopi arabika dengan nama ilmiah Coffea Arabica, serta kopi robusta (Coffea cannephora).

Bermula dari ide mengisi lahan yang kosong dengan kegiatan bertani, Muhammad memiliki inisiatif untuk menanaminya dengan bibit kopi. “Kenapa tanaman kopi, ya karena perawatannya tidak ribet, juga sekali tanam bisa seumur hidup, ” ungkap Muhammad, petani kopi, warga RT 06 RW 01 Perumnas Wanayasa Indah, Banjarnegara.

Kebun kopi yang ditanam Muhammad sejak tahun 2018 sudah beberapa kali panen. Di kebun miliknya terdapat dua jenis tanaman kopi, yakni kopi arabika serta kopi robusta, dengan perbandingan luas lahan 3 : 1. Untuk perawatan tanaman, cukup dilakukan penyiangan serta pemupukan dengan pupuk kandang.

Kegiatan ini dilakukan secara mandiri oleh Muhammad dan istrinya. Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, dan penyiangan rumput tiga bulan sekali. Dilansir dari Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Universitas Syiah Kuala, produksi tanaman kopi dengan kategori baik berada pada ketinggian lebih dari 1.000 meter dpl.

Sedangkan kecamatan Wanayasa sendiri berada pada ketinggian 1.800 meter dpl. Hal ini pula yang menjadikan Muhammad untuk menanami lahan kosongnya dengan tanaman kopi. Dia memanfaatkan tempat tinggal di pegunungan untuk bertani kopi, sehingga dapat bertani dengan lebih santai, karena memang perawatannya yang cukup mudah.

Hasil panen kopi dari kebun miliknya diolah sendiri menjadi kopi bubuk kemasan, yang saat ini pemasarannya sudah merambah hingga luar Provinsi Jawa Tengah, seperti DKI Jakarta serta Pulau Bali. Untuk ukuran bisnis rumahan, alat-alat produksi kopi kemasannya ini sudah cukup lengkap, mulai dari alat pengupas kulit kopi, alat sangrai kopi, mesin roasting, hingga timbangan untuk pengukuran berat kemasan kopi.

Untuk branding produk, Muhammad memberi nama “Rogojembangan Coffe”. Ini sesuai dengan lokasi rumah produksi yang berada di kaki Gunung Rogojembangan, Banjarnegara. Produk kopi kemasannya ini dipasarkan melalui akun media sosial, mulai dari Facebook, Whatsapp, dan juga fitur belanja online Shopee.

Konsumennya pun terdiri dari berbagai kalangan, seperti guru, pegawai, siswa, serta masyarakat umum di sekitar lokasi rumah produksi. Kendati pengolahan “Rogojembangan Coffe” ini masih dalam taraf sederhana, Muhammad berharap dapat mengembangkan usahanya, serta memperluas jaringan konsumen hingga seluruh Pulau Jawa, bahkan ke seluruh Indonesia.
Penulis: Rizqi Rahmatika-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here