Oleh Ahmad Rofiq
“Ridha Allah Allah dalam keridhaan kedua orang tua, dan murka Allah dalam murka kedua orang tua” (Rasulullah saw, riwayat At-Tirmidzi dan dishahihkan Ibnu Hibban dan Al-Hakim).
Cerita Malin Kundang merupakan cerita rakyat, yang hingga kini menjadi destinasi wisata yang cukup “menggetarkan hati” jika direnungi secara seksama. Khususnya, bagi mereka yang ibunya masih menghirup udara segar di dunia ini. Hadits “Surga di bawah telapak kaki Ibu” atau Al-jannatu tahta aqdaami l-Ummahaat” (Riwayat Ibnu ‘Adiy) ini cukup popular di kalangan ahli Hadits. Karena cukup kontroversial. Ada yang menyatakan, dhaif secara Riwayat akan tetapi shahih secara makna.
Alhamdulillah Jumat, 20/11/2020 seusai rapat pleno penentuan kejuaraan MTQ Nasional XXVIII di Padang Sumatera Barat, saya bisa mengunjungi “Si Malin Kundang” destinasi wisata di kecamatan Padang Selatan. Dikenal sebagai “anak durhaka kepada ibunya, dalam keadaan marah, Ibunya berdoa memohon keadilan kepada Allah, dan kapal yang ditumpangi pun diterjang badai dan ombak besar, dan hancur berkeping-keping, dan di Malin Kundang pun berubah menjadi batu” (Wikipedia.com).
Laman dongengceritarakyat.com menuturkan, hiduplah seorang janda bernama Mande Rubayah yang tinggal bersama anak laki-lakinya, Malin Kundang yang sakit-sakitan di daerah pantai Air Manis. Karena kasih sayang ibunya, Main Kundang ini akhirnya sembuh dan sangat disayangi ibunya. Kehidupan di pantai bagi Malin, dirasakan sebagai kehidupan yang berat. Karena itu, Malin memohon ijin kepada ibunya untuk merantau, demi merubah nasib. Kebetulan ada kapal besar yang bersandar yang tidak tiap saat ada. Malin adalah anak satu-satunya. Malin diijinkan untuk merantau, Ibu Mande pun membekali dengan tujuh bungkus nasi dengan daun pisang, untuk bekal perjalanan.
Sayang dan rindu Ibu pada anak demikian besar. Seiring bertambahnya usia, doa kepada Allah, doa seorang ibu tersayang, terus menerus dilantunkan semoga Malin selamat dan sukses di perantauan. Mande Rubayah tidak mampu menahan kerinduan menunggu kehadiran Malin, anak yang sangat disayanginya itu. Ia duduk termenung menghadap laut, mengharap ada kapan bersandar, demi menanti Malin anaknya itu. Mande Rubayah pun sempat mendengar kabar bahwa Malin telah menikah dengan putri seorang bangsawan.
Berlabuhlah kapal besar, hati Mande Rubayah pun berbunga-bunga hendak menjemput Malin. Turunlah sepasang laki-laki dan perempuan dengan pakaian gemerlap nan-mewah. Melihat laki-laki gagah itu, Mande Rubayah pun tak sabar dan segeralah memeluknya. “Malin, anakku. Kau benar anakku kan?” katanya menahan isak tangis, “Mengapa begitu lama kau tidak memberi kabar?”
Malin terkejut karena dipeluk perempuan tua renta yang berpakaian compang-camping. Ia tak percaya bahwa perempuan itu adalah ibunya. Sebelum dia sempat berpikir dan berbicara, istrinya yang cantik itu meludah dan berkata: “Perempuan jelek inikah ibumu? Mengapa kau bohong padaku! Bukankah dulu kau katakan bahwa ibumu adalah seorang bangsawan yang sederajat denganku?!” ucapnya sinis. Mendengar kata-kata pedas istrinya, Malin Kundang langsung mendorong ibunya hingga terguling ke pasir, “Perempuan gila! Aku bukan anakmu!” ucapnya kasar (mamapom.com).
“Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak! Mengapa kau jadi seperti ini Nak? Malin Kundang tidak memperdulikan perkataan ibunya. Dia tidak mengakui ibunya. la malu kepada istrinya. Melihat perempuan itu bersujud hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata: “Hai, perempuan gila! lbuku tidak seperti engkau! Melarat dan kotor!” SubhanaLlah, hanya gegara istri dari keturunan bangsawan, Malin tega menyakiti hati dan mengata-ngatain ibunya. Perempuan tua itu terkapar di pasir, menangis, dan sakit hati. Orang-orang yang meilhatnya ikut terpana dan kemudian pulang ke rumah masing-masing. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi.
Dalam kemarahan dan kepiluan Mande Rubayah itu, ia berdoa: “Ya, Tuhan, kalau memang dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku yang bernama Malin Kundang, aku mohon keadilanmu, Ya Tuhan!”. Tuhan pun menjawab doa Mande Rubayah, tak lama kemudian cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Badai menghantam kapal dan hancur berkeping-keping, terhempas ke tepi pantai.
Keesokan harinya, setelah matahari terbit, di pinggir pantai terlihat kepingan kapal yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang! Tampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia (mamapop.com). Tampak bersujud menyesali dosanya, ingin bertaubat. Itulah tubuh Malin Kundang anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi batu karena telah durhaka. Di sela-sela batu itu berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tengiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.
Para pembaca, boleh percaya boleh tidak. Cerita si Malin Kundang ini, sangat popular. Tampaknya menjadi “dongeng bijak” untuk menanamkan nilai-nilai aklak anak kepada kedua orang tua, khususnya ibu. Ini sejalan dengan tuntunan Rasulullah saw menegaskan: “Man ahaqqu n-naas bi husni shahaabatii yaa Rasulallah saw, qaala ummuka ummuka ummuka tsumma abuuka” artinya “Siapa manusia yang paling berhak untuk ditemani wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab: “Ibumu, Ibumu, Ibumi, kemudian bapakmu” (Muttafaqun ‘alain).
Semoga anak-anak yang sukses berkat doa ibunya, tidak lupa untuk terus berbuat baik dan mentaati orang tuanya, khususnya kepada ibunya. Karena ibulah, orang yang mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendoakan dengan penuh kasih sayang yang menyamudra. Allah a’lam bi sh-shawab.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar Hukum Islam UIN Walisongo Semarang, Ketua Majelis Dewan Hakim Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (MKTIQ) pada MTQ Nasional XXVIII, 12-21/11/2020 di Padang Sumatra Barat, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, dan Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah. Jatengdaily.com–st


