Pariwisata Terpeleset, Jasa Kesehatan Meroket

Pandu Adi Winata, S.ST
Statistisi Muda BPS Purbalingga

TAHUN 2020 menjadi tahun tersibuk bagi sektor bisnis pariwisata dan bisnis kesehatan dalam satu dekade terakhir. Namun kesibukan dua sektor tersebut berbanding terbalik dengan hasil yang diperoleh. Bisnis pariwisata sibuk mencari terobosan untuk bertahan agar tidak makin terpuruk saat wabah covid 19. Sedangkan bisnis kesehatan makin sibuk lantaran semakin banyak pasien dan calon pasien yang dilayani. Pundi-pundi pun makin “gemuk” lantaran permintaan alat dan produk farmasi makin meningkat selama pandemi, sehingga makin mengokohkan peranan sektor kesehatan dalam roda perekonomian.

Dalam struktur perekonomian nasional yang tercermin pada Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada kuartal III-2020, sektor bisnis kesehatan yaitu pada sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional, tumbuh paling tinggi sebesar 14,96 persen, di saat sektor lainnya stagnan bahkan melorot ke menjadi negatif. Adapun dalam struktur perekonomian Jawa Tengah, sektor industri kimia, farmasi dan obat tradisional, tumbuh 6,58 persen pada kuartal III-2020 dibandingkan kuartal II-2020. Sedangkan bila disandingkan dengan kuartal III 2019 sektor kesehatan mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,17 persen.

Lalu bagaimana dengan pariwisata? Indikasi masih loyonya sektor pariwisata dapat dilihat dari indikator Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Jawa Tengah di mana pada bulan kuartal III-2020 tercatat sebesar 35,05 persen, mengalami penurunan sebesar 13,35 poin bila dibandingkan dengan kuartal III di tahun 2019. Bahkan bila dibandingkan dengan kuartal III-2019, sektor penyediaan akomodasi mengalami kontraksi hingga minus 36,46 persen.

Indikator lain bisa dilihat dari jumlah penumpang pesawat dan kapal laut. Kita ambil bulan september 2020 misalnya, jumlah penumpang penerbangan domestik yang masuk ke Jawa Tengah turun 76,61 persen dibandingkan dengan bulan September 2019. Demikian juga untuk penerbangan internasional, penumpang yang masuk pada bulan Sepyember 2020 bahkan turun hingga 98,92 persen jika dibandingkan jumlah penumpang pada September 2019.

Momen akhir tahun yang biasa menjadi momen yang membahagiakan bagi sektor pariwisata, seakan diambil alih oleh sektor jasa kesehatan. Terlebih setelah keluar aturan untuk menyertakan surat keterangan hasil rapidtest antigen negatif covid-19 bagi mereka yang akan pergi menggunakan moda kereta api maupun pesawat terbang. Otomatis permintaan instrumen untuk test tersebut makin meningkat bila calon penumpang makin banyak melakukan rapidtest antigen.

Namun kadangkala yang terjadi adalah para calon penumpang memilih untuk melakukan refund tiket. Perlu diketahui bahwa Satgas Covid-19 mengeluarkan aturan terbaru tentang Protokol Kesehatan Perjalanan itu berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Di beberapa daerah seperti Indonesia bagian timur, ternyata instrumen untuk rapidtest antigen belum tersedia, sehingga penumpang disyaratkan untuk melakukan swabtest dengan biaya yang lebih mahal, dan hasil test keluar lebih lama. Hal itu memaksa calon penumpang untuk melakukan refund tiket.

Faktor lain yang memaksa para calon penumpang melakukan refund adalah karena pemberlakuan aturan tersebut terkesan mendadak. Aturan yang dituangkan dalam Surat Edaran SE Nomor 23 tahun 2020 tersebut salah satunya mewajibkan calon penumpang untuk melakukan rapidtest antigen paling lambat 3 hari sebelum keberangkatan, di mana para calon penumpang sudah banyak yang membeli tiket dan hanya tinggal 1 atau 2 hari lagi berangkat. Tentu saja mereka memilih untuk melakukan refund dari pada nekat pergi tanpa test terlebih dahulu. Kondisi tersebut semakin menekan sektor pariwisata.

Dalam masa seperti ini memang masa-masa di mana sektor pariwisata mesti banyak bersabar. Namun bersabar bukan hanya pasif saja melainkan memanfaatkan masa pandemi ini untuk membenahi diri dan mempersiapkan diri menghadapi masa recovery. Fokuskan bukan lagi untuk mengejar target berapa banyak wisatawan akan tetapi menciptakan wisata yang berkualitas dengan konsep sustainable tourism.

Penerapan sustainable tourism akan memastikan kelestarian alam dan budaya yang menjadi kunci untuk terus mengundang wisatawan. Dengan sustainable tourism akan terwujud quality tourism yang pada akhirnya akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional kelak. Jatengdaily.com–st