By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Prodi Antropologi Sosial UNDIP Bertekad Raih Akreditas Unggul
Share
Font ResizerAa
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Prodi Antropologi Sosial UNDIP Bertekad Raih Akreditas Unggul

Jatengdaily.com
Published: 16 Oktober 2020 11:22
Share
Ketua Prodi Antropologi Sosial FIB UNDIP, Dr Amirudin. Foto: dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Program Studi (Prodi) Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya (FIB),Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang bertekad bisa meraih akreditas A di tahun 2021, meski usia program studi ini belum genap sepuluh tahun. Bahkan pengelola program studi yakin bahwa akreditasinya bisa melompat ke unggul karena borang yang disiapkan untuk dimintakan akreditasi baru di tahun 2021 lebih dari syarat yang ditetapkan.

Ketua Prodi Antropologi Sosial FIB UNDIP, Dr Amirudin, menyatakan tekad meraih predikat unggul baik secara administratif, teknis maupun akademis terus dimantapkan agar pada evaluasi status Prodi tahun 2021 nanti bisa mencapai hasil yang maksimal. “Harapannya, dari status yang sekarang kita bisa langsung meraih predikat unggul,” kata Amirudin, dalam siaran persnya, yang diterima Jumat (16/10/2020).

Menurut Amir yang pernah menjadi Ketua KPID Jawa Tengah dan komisioner di KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat, saat ini Prodi Antropologi Sosial UNDIP terakreditasi B. Karena itu, seluruh komponen terdorong untuk memperbaiki status akreditasinya melihat pesatnya minat masuk Prodi Antropologi Sosial UNDIP. Dilihat dari jumlah calon mahasiswa yang mendaftar, prodi ini berada di papan tengah di antara prodi-prodi yang ada. “Rasio peminat dengan kursi yang tersedia sekitar satu banding enam belas,” tambah dia.

Prodi Antropologi Sosial UNDIP berdiri tahun 2014, dan merupakan program studi termuda di Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Berawal dengan 20 mahasiswa di angkatan pertama, setiap tahunnya terjadi penambahan daya tamping secara siginikan. Di tahun 2020 dari sekitar dua ribu lima ratus pendaftar, sebanyak 150 mahasiswa yang diterima belajar di sini.

Naiknya jumlah mahasiswa dimungkinkan karena jumlah dosennya masih sangat memadai. Tentu saja, kata doktor antropologi lulusan Universitas Indonesia ini, juga ditunjang dengan sarana dan prasarana belajar yang memadai. Dukungan dan komitmen universitas untuk menyediakan kebutuhan dan pengembangan termasuk laboratorium juga membuat program studi ini berkembang pesat.

Tenaga pengajarnya sebagian besar sudah bergelar doktor, bahkan dua di antaranya sudah bergelar profesor, yaitu Prof Dr Mudjahirin Thohir MA dan Prof Dr Nurdien H Kristanto MA PhD. Selain tenaga pengajar yang memadai, tersedia laboratorium etno fotografi dan etno audiovisual yang kini giat mendokumentasikan kekayaan kebudayaan nasional.

Saat ini jumlah orang yang belajar di Program Sarjana Antropologi Sosial FIB  tak kurang dari 400 mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Prodi ini juga sudah meluluskan sekitar 40 mahasiswa dengan gelar Sarjana Ilmu Sosial (SSos). Perlu diketahui, universitas negeri yang memiliki Prodi Antropologi Sosial cukup banyak, tak kurang dari 12 universitas yang memiliki program ini, di antaranya Universitas Indonesia, UGM, Unair, Unpad, Universitas Udayana, Unhas Makassar, Universitas Kendari dan Universitas Andalas Padang.

Mengenai tingginya minat masuk ke Prodi Antropologi Sosial, Amirudin menyebutkan bahwa kebutuhan sarjana antropologi sosial memang sangat tinggi dengan adanya Undang-Undang Nomer 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Berlakunya undang-undang pemajuan kebudayaan berimplikasi munculnya kebutuan akan profesi pamong budaya di setiap wilayah pemerintahan daerah, bahkan muncul kebutuhan antropolog sosial untuk mengisi pos-pos di kantor-kantor kedutaan Indonesia.

“Peluang dna prospeknya masih terbuka dan sangat bagus. Karena itu, kami berupaya menjadi penyelenggara Program Antropologi Budaya yang unggul, karena penyelenggara Prodi ini cukup banyak. Yang pasti Undip fokus pada kebudayaan manusia modern, bukan yang klasik,” jelasnya. she

You Might Also Like

Penetapan Nomor Urut Paslon Bupati dan Wabup Demak 2024, Edi-Eko Nomor 1, Eisti-Gus Bad Nomor 2
Korban Longsor Nganjuk; 9 Orang Meninggal, 10 Orang Masih Dicari
Budi Karya Diperiksa 10 Jam Oleh KPK
Pengurus Yayasan Alqodar Sendangmulyo Gelar Rakor Praraker
Wirausaha Muda Mandiri Cetak Kampiun Baru
TAGGED:prodi antropologi Undip
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?