By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: PWNU Prihatin, 100 Kiai Meninggal Akibat Covid
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

PWNU Prihatin, 100 Kiai Meninggal Akibat Covid

Last updated: 11 November 2020 08:10 08:10
Jatengdaily.com
Published: 11 November 2020 08:10
Share
Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubedulloh Shodaqoh menyampaikan pidato iftitah pada upacara pembukaan Bahtsul Masail Diniyah (Pembahasan Masalah-masalah Agama) dan Peringatan Maulid Nabi Saw di Pondok Pesantren Luhur, Dondong, Ngalian, Semarang, kemarin. Foto:dok
SHARE


SEMARANG (Jatengdaily.com) – Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubedulloh Shodaqoh merasa prihatin karena sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia Maret lalu hingga sekarang, lebih dari 100 kiai dan alim ulama meninggal dunia. Umumnya mereka yang meninggal tidak hanya disebabkan oleh Covid, tetapi juga mempunyai penyakit bawaan (komorbid).

‘’Mari terus berikhtiar dan berdoa mohon pertolongan Allah Swt agar kita terhindari dari segala musibah tersebut. Ikhtiar tetap wajib tetapi jangan sampai meninggalkan prinsip-prinsip keagamaan,’’ tegas Kiai Ubed dalam pidato iftitah upacara pembukaan Bahtsul Masail Diniyah (Pembahasan Masalah Agama) PWNU Jateng dan Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw PCNU Kota Semarang di Pondok Pesantren Luhur, Dondong, Ngalian, Semarang, Selasa (10/11).

Sekretaris PWNU Jateng KH Hudallah Ridwan menjelaskan, Bahtsul Masail Diniyah diikuti oleh pengurus cabang NU se-Jawa Tengah. Tema yang dibahas adalah masalah-masalah aktual yang dihadapi umat. ‘’Pondok Pesantren Luhur Ngalian Semarang atau lebih dikenal Dondong dipilih karena pesantren ini sangat tua dan kuno. Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama yang tersebar di nusantara termasuk Mbah Soleh Darat Semarang,’’ katanya.

Menurut Gus Ubed yang juga pengasuh pondok pesantren Al-Itqon, Bugen, Tlogosari Semarang, NU merupakan organisasi dan mempunyai pengaruh kuat di masyarakat. Bukti salah satu kekuatan itu, menurutnya setiap menjelang pilkada semua calon akan mengaku menjadi anggota NU. Salah satu PR penting yang sedang dilaksanakan adalah menggiatkan pendataan anggota Nahdlatul Ulama termasuk di Jateng berbasis Sistem Informasi Strategis Nahdlatul Ulama (SISNU). ‘’Data Sisnu akan lebih lengkap dibanding Disdukcapil,’’ katanya. Dia mencontohkan di Kabupaten Tegal separo dari penduduknya sekitar 500.000 orang adalah anggota NU dibuktikan dengan memiliki Kartu Anggota NU (Kartanu).

Sementara itu Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, H Anasom dalam sambutanya mengatakan, para kiai mempunyai cara dalam mengingatkan pimpinan daerahnya.

‘’Cara yang dilakukan mengingatkan pejabat adalah bertemu langsung untuk menyampaikan persoalan yang dianggap penting. Cara mengkritik dan memberi masukan ini dipilih para kiai karena dipandang lebih efektif dibandingkan dengan melalui demo, yang bisa berpotensi ditunggangi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan lain,’’ katanya.

Menurut Anasom, hubungan Pemkot Semarang dengan NU Kota Semarang selama ini cukup baik. Dua pihak saling menghargai posisi masing-masing, dan keduanya saling memberi kontribusi. Diakuinya kontribusi Pemkot Semarang selama ini sudah cukup besar kepada ormas, di antaranya Ormas NU.

Kedekatan pemkot dengan para ulama menurut dosen UIN Walisongo Semarang itu dibuktikan juga dengan seringnya pemkot menyelenggarakan Haul Mbah Sholeh Darat dan kontribusi pembangunan fisik tempat-tempat ibadah.

“Pejabat pemkot tadi bertanya, kapan Haul Mbah Syafii. Pelaksanaannya bisa bekerja sama dengan pemkot, supaya bisa bersama-sama membesarkan acara haul tersebut,” katanya.

Menurut Anasom, Kiai Syafii Piyoronegoro adalah pendiri Pondok Pesantren Luhur.

Dalam mauidzoh hasanah, KH Ubedulloh Shodaqoh mengatakan, pesantren ini mempunyai sejarah yang luar biasa sebagai pusat perjuangan kemerdekaan, hingga mencetak kiai-kiai besar di Jawa Tengah. ‘’Bahkan di pondok ini KH Soleh darat pernah menuntut ilmu,’’ tegasnya.

Pengasuh Pondok Luhur, KH Tubagus Mansyur atau Gus Tuba, berharap bahtsuk masail diniyah menambah berkah untuk pesantren yang dipimpinnya. ‘’Para pengasuh dan santri bertambah semangat dan gumbrigah, sehingga pesantren tua ini bangkit setelah mengalami mati suri. Sudah lima tahun pesantren ini mulai bergaung kembali,’’ katanya. st

You Might Also Like

Dukung Percepatan Vaksinasi, PERHOMPEDIN: Pasien Kanker Aman Divaksin
FK Unissula Resmi Buka Program Spesialis Penyakit Dalam
Traffic Selular Diprediksi Naik 40 % saat Lebaran di Tengah Pandemi COVID-19
Pascainsiden Mobil Honda Brio di Mall Paragon Semarang, Pertamina SMEXPO Semarang 2023 Berjalan Normal
Sepanjang tahun 2025, KAI Daop 4 Semarang Berangkatkan 6 Juta Penumpang
TAGGED:100 kiai meninggalBahtsul Masail DiniyahCOVID-19PWNU Jateng
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?