Sastra Pesisir Butuh Perhatian Serius

0
82
Para pendukung acara Bianglala Sastra Semarang TV dengan topik Revitalisasi Sastra Pesisir bergambar bersama. Dari kiri: Wandani, Driya Widiana Didik MS, Muhammad Abdullah, Esra, dan Lira. Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sastra pesisir memang perlu direvitalisasi, apalagi yang berbentuk lisan. Hal ini karena kondisinya sangat memprihatinkan, pendukungnya sudah langka, dikhawatirkan akan punah, sehingga membutuhkan perhatian serius agar bisa bertahan hidup. Sedangkan sastra pesisir yang berbentuk tulisan pun, yang sering disebut sebagai sastra kitab, kondisinya pun stagnan atau berhenti, terutama pascaperiode KH Bisri Mustofa dari Rembang, ayahnya Gus Mus.

Demikian kesimpulan yang bisa ditarik dari pernyataan dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang Muhammad Abdullah ketika menjadi narasumber pada acara Bianglala Sastra Semarang TV di Ngesrep, Banyumanik, belum lama ini.

 Dipandu oleh Ketua Komunitas Kumandang Sastra Driya Widiana Didik MS, acara itu juga menampilkan tiga pembaca puisi tiga mahasiswa Undip, yaitu Wandani, Esra, dan Lira. Wandani membaca puisi “Hai, Ma” karya Rendra, Esra membaca “Menyelam Suwung” oleh Said Muniruddin, dan Lira membaca puisi “Suara Malam” ciptaan Chairil Anwar.

Menurut Abdullah, sastra pesisir, baik lisan maupun tulisan, perlu ada pewarisan kepada generasi muda. Sastra pesisir diwariskan sebagai bentuk kepedulian untuk mewariskan sikap hidup, nilai-nilai baik, yang terkandung di dalamnya, yang sangat bermanfaat bagi generasi muda.  Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) sudah sering mengadakan seminar sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib sastra pesisir yang terpinggirkan di tengah arus budaya global.

“Sastra pesisir berbentuk lisan pendukungnya makin langka, sudah tua-tua. Sedangkan sastra pesisir bentuk tulisan yang sering disebut sebagai sastra kitab pun penulisnya makin jarang. Tradisi para kiai menulis kitab sudah mulai jarang dilakukan,” ujarnya.

Sastra pesisir, lanjut Muhammad Abdullah, perlu direvitalisasi karena generasi muda kita banyak yang tidak mengenalnya. Meskipun di FIB Undip para mahasiswa program studi filologi, terutama yang berasal dari pesantren, banyak yang berminat dan peduli terhadap keberadaan sastra pesisir. Padahal sastra pesisir banyak mengandung kearifan lokal yang berkaitan dengan pendidikan karakter.

Abdullah yang juga pengurus KSBN Jateng ini mengatakan, sastra pesisir lahir dan berkembang di lingkungan pesantren. Sastra pesantren, baik berupa tradisi lisan maupun tradisi tulisan, yang berisi ajaran-ajaran moral, fikih, tauhid, tasawuf, dan teologi. Sastra pesantren sedikit banyak terpengaruh sastra Timur Tengah, sastra Arab, atau sastra Parsi.

Muhammad Abdullah bercerita bagaimana ia pernah melakukan penelitian terhadap tradisi lisan di sejumlah daerah, yang menunjukkan kondisi sastra lisan sangat menyedihkan. Hal itu selain karena para senimannya sudah lanjut usia, juga jarang mendapatkan undangan tampil. Padahal nilai  yang terkandung dalam sastra lisan bermanfaat bagi generasi muda dalam kehidupan. Nilai-nilai itu justru bisa menjadi pembelajaran kepada generasi milenial kita, agar tidak terlalu terpengaruh oleh budaya asing.

Dalam kesempatan itu Driya Widiana membacakan pula puisi karyanya berjudul “Hari Puisi Sejagat di Tengah Wabah”. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here