By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Tangkal Hoaks di Medsos pada Pilkada 2020
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Tangkal Hoaks di Medsos pada Pilkada 2020

Last updated: 8 Oktober 2020 14:16 14:16
Jatengdaily.com
Published: 8 Oktober 2020 14:16
Share
Ilustrasi Pilkada
SHARE

JAKARTA (Jatengdaily.com)-  Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) membutuhkan peran dari banyak pihak untuk menangkal berita hoaks di media sosial (medsos), salah satunya dari mahasiswa. Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar memandang partisipasi masyarakat dan mahasiswa akan memperkuat pengawasan konten hoaks di medsos pada Pilkada Tahun 2020.

“Tidak ada peran yang dapat mengantikan partisipasi masyarakat dan mahasiswa dalam mengawasi hoaks di medsos meskipun Bawaslu dalam mengawasinya sudah bekerjasama dengan Kominfo dan facebook, ” kata Fritz dalam diskusi yang dilakukan secara daring bersama mahasiswa periksa hoaks dengan tema Partisipasi Menangkal Hoaks Pilkada 2020 di Jakarta, dalam siaran persnya, Kamis (8/10/2020).

Sejak tahun 2018, kata dia, Bawaslu sudah terlibat ikut serta dalam melakukan pengawasan dan penindakan terkait dengan hoaks dan ujaran kebencian yang ada di medsos. Fritz mengungkapkan potensi munculnya hoaks di medsos tetap ada pada Pilkada 2020. Banyak dijumpai akun-akun yang masih berisikan ajakan menghasut, menghina, dan mengadu domba.

Lebih lanjut, Koordinator Divisi Hukum, Humas, dan Datin itu menjelaskan dampak hoaks di medsos dapat memecah belah serta menghancurkan persaudaraan yang sudah ada. Hal ini bisa berimplikasi menjadi kampanye hitam dan kampanye negatif.

Dia mengingatkan pengawas pemilu maupun masyarakat harus mengawasi dan mencermati terhadap buzzer atau kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan menciptakan polarisasi yang besar antar satu kelompok dengan kelompok yang lainnya.

“Kampanye negatif yang muncul di media social akan merubah perilaku sosiologis masyarakat di suatu wilayah, membuat seseorang untuk tidak memilih karena banyaknya hoaks yang muncul dan pemilih menjadi apatis, ” tegas Fritz. She

You Might Also Like

Peduli Sesama Bersama Dompet Dhuafa, KolaborAksi Bangun Negeri dengan Cinta
Jateng Genjot Vaksinasi Booster, Ditarget Tiga Bulan Selesai
Angka Kemiskinan Naik Akibat Pandemi, Hendi Akui Tak Boleh Pasrah
Patrick Kluivert Resmi Menjadi Pelatih Timnas Indonesia, Dikontrak Dua Tahun
BRI Kanwil Semarang – PWI Jateng Bagikan Paket Lebaran kepada Sahabat Pers
TAGGED:pilkada
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?