in , ,

Angon Mongso, Angon Konco dan Potensi Produksi Padi Jateng

Oleh : Tri Karjono,
ASN BPS Provinsi Jawa Tengah

BARU saja Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah merilis potensi produksi padi Jawa Tengah tahun ini. Dengan metode kerangka sampel area (KSA) yang digunakan sejak tahun 2018 potensi panen yang terjadi hingga beberapa bulan kedepan dapat diprediksi lebih presisi.

Kecuali dalam rentang waktu setelahnya tersebut terjadi sesuatu hal di luar kebiasaan dan dugaan pada tahapan proses tanam hingga panen pada luasan yang cukup signifikan.

Dengan luas panen yang diperkirakan meningkat sebesar 2,5 persen menjadi 1,71 juta hektar pada tahun ini akan terjadi peningkatan sebesar 2,91 persen gabah kering giling (GKG) dibanding tahun lalu. Persentase peningkatan yang sama dengan GKG akan terjadi pula pada potensi beras yang dihasilkan.

Jika pada tahun lalu produksi beras sebanyak 5,43 juta ton maka pada tahun ini berpotensi menghasilkan sebanyak 5,59 juta ton.

Meningkat Lebih Tinggi
Persentase peningkatan yang terjadi pada potensi produksi baik luas panen, GKG maupun beras yang terjadi di Jawa Tengah ini lebih besar dibanding dengan peningkatan potensi yang terjadi pada tingkat nasional. Pada rilis setengah bulan sebelumnya, pada tingkat nasional hanya terjadi peningkatan masing-masing sebesar 1,33 persen, 1,14 persen dan 1,12 persen.

Alhasil dengan peningkatan persentase yang lebih besar tersebut andil produksi padi Jawa Tengah terhadap produksi nasional mengalami kenaikan dari 17,36 persen menjadi 17,67 persen, demikian juga pada produksi berasnya.

Namun demikian, walau terjadi peningkatan produksi, andil Jawa Tengah terhadap produksi nasional tersebut masih berada pada posisi runner up, belum melampaui potensi jumlah produksi Jawa Timur yang potensi produksinya tahun ini justru mengalami sedikit penurunan sehingga hanya berselisih sekitar 144 ribu ton GKG saja.

Dua tahun awal metode ini diberlakukan yaitu 2018-2019, posisi produksi padi Jawa Tengah berada pada juara pertama, bahkan ketika jumlah produksi GKG Jawa Tengah tahun 2019 berada 109 ribu ton dibawah potensi produksi tahun ini. Atas prestasi tersebut penghargaanpun diperoleh dari kementerian pertanian pada saat itu.

Gagal Panen
Berdasar informasi terbatas penulis pada beberapa wilayah, sebenarnya ada potensi produksi lebih tinggi bisa terjadi pada tahun ini, dengan asumsi situasi normal hingga akhir tahun dan memungkinkan prediksi diatas menjadi presisi dengan rilis bulan Maret tahun depan.

Muslimin, salah seorang petani padi tulen di sebuah desa di wilayah Pabelan, Kabupaten Semarang misalnya. Ia menggarap sawah yang ditanami padi seluas kurang lebih seperempat hektar. Di samping itu tujuh sapi dengan variasi umur ia pelihara. Tak ada pekerjaan lain di luar itu.

Kotoran sapi yang ia pelihara ia manfaatkan untuk memupuk sawah yang ia usahakan, di samping pupuk buatan yang membutuhkan sekitar 8 zak setiap kali masa tanam, satu zak diantaranya diperoleh dari subsidi pemerintah. Sementara untuk pakan sapi ia mengandalkan jerami hasil panen padi dari banyak tempat pada beberapa masa panen untuk dijadikan stok pakan ketika dibutuhkan saat bukan masa panen.

Tiga hari sebelum tulisan ini dibuat, ia bercerita bahwa musim tanam terakhir ini sama sekali tidak membawa hasil ke rumah. Situasi ini terjadi bukan karena musim atau kekurangan pupuk. Walau memang untuk mendapatkan pupuk buatan, menurutnya agak kesulitan namun pupuk kandang masih dapat sedikit membantu. Serangan hama tikus menjadi penyebab utama gagal panennya.

Ternyata gagal panen tidak hanya terjadi pada sawah milik dan pada sebagian besar hamparan luas yang sama, namun di wilayah lainpun bernasib serupa. Ketika kekhawatiran kebutuhan akan stok pakan sapi yang ia miliki tidak terpenuhi, ia harus mencari jerami pada wilayah lain. Namun ceritanyapun setali tiga uang. Gagal panen terjadi di hampir sebagian wilayah dimana ia berkeliling mencari jerami yang hingga semakin jauh diluar kecamatan. Dan semua akibat hama tikus.

Cerita lain dialami oleh lahan sawah penulis. Panen dilakukan seminggu sebelum masa panen yang seharusnya dilakukan oleh Muslimin, pada hamparan yang sama. Dengan luasan yang hampir sama dengan yang digarap Muslimin, dimana hanya mampu menghasilkan sekitar 800 kilogram saja (GKP). Jika diasumsikan rata-rata saat normal mampu berproduksi 7 ton per hektar, maka saat ini produkstivitasnya hanya kurang dari separohnya saja. Lagi-lagi karena hama tikus.

Dan ternyata dari beberapa literasi yang penulis baca, gangguan hama tikus yang menyebabkan menurunnya produktivitas hingga gagal panen tidak hanya terjadi di wilayah tersebut diatas. Beberapa wilayah seperti Grobogan, Temanggung dan beberapa wilayah lain mengalami hal yang sama.

Berbeda yang terjadi pada lahan Suniadi yang telah panen sekitar sebulan sebelum panen pada lahan penulis, ketika sebagian besar pada hamparan tersebut belum panen. Hasil yang didapat optimal bahkan dapat dapat dikatakan maksimal, karena saat itu serangan hama tikus hampir tidak dirasakan dirasakan sama sekali.

Perkembangbiakan Tikus
Menurut hasil kajian Sudarmaji dari BPTB Yogyakarta mengatakan bahwa satu betina tikus sawah dewasa pada awal musim tanam akan mampu menghasilkan sebanyak 80 ekor tikus pada hari ke-124. Satu tikus yang sama tersebut selama musim tanam akan mampu melahirkan anak sebanyak 3 kali, jika setiap kali melahirkan sebanyak 10 ekor maka pada saat panen akan ada sebanyak 30 ekor dari indukan yang sama.

Sementara pada hari ke-124 jika lingkungan mendukung termasuk pakan tersedia maka anak dari kelahiran pertama dengan asumsi separuhnya adalah betina sudah akan mampu melahirkan sebanyak 50 ekor.

Tikus biasa hidup pada tempat yang terlindung, gelap dan ada tempat untuk bersarang, biasanya pada wilayah dengan derajat elevasi tanah yang tinggi, di mana antar petak dibatasi pematang yang cukup tinggi untuk tikus dapat bersarang menggali tanah.

Potensi Lebih
Maka jika hama tikus yang terjadi pada saat ini yang jelas mengakibatkan penurunan produksi di beberapa tempat dapat teratasi maka potensi produksi padi yang lebih tinggi seharusnya dapat terwujud, di samping terjaminnya faktor-faktor produksi yang lain serta cuaca yang mendukung.

Oleh karena itu memutus mata rantai yang memungkinkan perkembangbiakan tikus berlanjut dan lebih lama perlu dilakukan. Meningkatkan indeks pertanaman diperlukan, namun ketika rantai perkembangbiakan tikus tidak terputus total pada antar musim tanam, maka justru kerugian yang didapat. Ketika antar musim tanam tidak terputus maka ketersediaan pakan bagi tikus akan selalu ada dan berpotensi perkembangbiakannya akan berlanjut dan semakin banyak.

Kekompakan dalam menentukan saat tanam dan umur padi sangat diperlukan Umur padi biasanya terkait dengan varietas. Ini yang disebut ‘angon konco’. Antar petani, minimal dalam satu hamparan yeng terlokalisir harus kompak. Dengan begitu akan terjadi panen pada saat yang bersamaan.

Ketika panen bersama dilakukan di situlah ada saat tikus kekurangan makanan, terputuslah rantai perkembangbiakannya. Tetapi jika ada salah satu atau beberapa saja yang terlambat panen dan dibarengi dengan mulai tanam yang lain maka dapat dipastikan perkembangbiakan tikus akan berlanjut. Dan biasanya akan terjadi gagal panen.

Di samping itu teknologi konvensional yang telah banyak dilakukan harus secara konsisten tetap dilakukan, seperti sanitasi habitat yaitu mengurangi potensi tikus untuk berlindung, gropyokan massal, fumigasi sarang tikus, penggunaan rodentisida secara benar, serta pelestariaan musuh alami tikus sawah seperti pelepasliaran burung hantu.

Tidak kalah penting tentunya ‘angon mongso’. Di mana budidaya pertanian padi khususnya, jelas tidak akan berhasil tanpa didukung oleh cuaca yang baik. Cuaca ekstrim seperti kemarau panjang yang mengakibatkan kekeringan serta curah hujan yang terlalu tinggi hingga banjir atau pembuahan gagal perlu diantisipasi. Jatengdaily.com-yds

Written by Jatengdaily.com

Menikmati Kuliner Raja Abad 8-10 Masehi Lewat Rekonstruksi Mahamangsa

Seragam Pengurus Forwan Didesain Nina Nugroho