‘Asyura’, Keutamaan, dan Kearifan Lokal

Oleh Ahmad Rofiq
HARI ini kita berada di tanggal 10 Muharram 1443 H. Ada fenomena menggembirakan di sebagian warga masyarakat. Setidaknya di minggu terakhir ini, beredar di media sosial, anjuran untuk puasa Tâsū’â dan ‘Asyūrâ’. Tasu’a adalah hari ke Sembilan, dan ‘Asyura’ adalah hari ke sepuluh.

Tahun ini 1 Muharram 1443 H bertepatan dengan Selasa, 10 Agustus 2021 dan berhimpitan satu minggu dengan Selasa, 17 Agustus 2021 yang merupakan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-76, bukanlah suatu kebetulan. Akan tetapi, banyak pihak yang meyakini, ada pesan utama (main messagge) dari Allah Tuhan Pengatur jagad raya ini. Bagi bangsa Indonesia, semestinya dapat mengambil pelajaran dan spirit hijrah Rasulullah saw, dari Makkah ke Madinah (semula Yatsrib), adalah Langkah dan strategi meraih sukses.

Sebagai bangsa besar. Indonesia sebagai rumah besar bangsa yang menjadi kiblat dunia dalam merawat kerukunan, persaudaraan, dan juga kearifan lokal yang sangat menjunjung tinggi keharmonisan, kedamaian, dan kebhinnekaan, harus tetap utuh, sebagaimana Rasulullah saw menyatukan semua suku di Madinah dalam ikatan umat (Piagam Madinah). Karena ikatan dan persaudaraan sejati, harus dibangun, berdasar fondasi kemajemukan, yang itu merupakan titah Allah Sang Pencipta.

Indonesia yang laksana irisan surga, dengan kekayaan alam yang luar biasa, harus diupayakan, warganya mampu mengurusnya sendiri, sudah tidak saatnya lagi, semua urusan diserahkan kepada orang asing. Ini butuh nyali dan keberanian untuk mengambilnya dengan kalkulasi, strategi, dan langkah yang smart dan bertaji.

Banyak peristiwa bersejarah terjadi pada bulan Muharram. Di antaranya: 1). Diciptakannya Nabi Adam as. di Surga dan diterimanya taubatnya, setelah digelincirkan oleh Iblis; 2). Diselamatkannya Nabi Nuh as, dari banjir bandang melalui kapal yang dibuat di musim kemarau, dan sempat dibully warganya. Bahkan anaknya, Kan’an pun tak selamat, karena tidak mau mengikutinya, dan naik ke Gunung Judi. 3). Nabi Musa as dan jamaahnya diselematkan oleh Allah dengan membelah laut, dan ditenggelamkannya Fir’aun dan kaumnya yang dhalim di laut merah (al-Bahr al-Ahmar). 4). Diselematkannya Nabi Yunus as dari perut ikan paus dan diterima taubatnya; 5). Diselamatkannya Nabi Yusuf as dari sumur setelah diceburkan saudara-saudaranya yang tidak menyukainya; 6). Dilahirkannya Nabi Ibrahim as dan diselamatkannya dari api yang membakarnya oleh Raja Namrud; 7). Dilahirkannya Nabi Isa as dan diangkatnya (dirafa’)-nya ke langit; 8). Dikembalikannya lagi penglihatan Nabi Ya’qub as. setelah mengalami kebutaan lama; 9). Dihilangkannya penderitaan yang mendera Nabi Ayyub as; dan 10). Diampuninya Nabi Daud as.

Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah SWT, mengerjakan amalan kebaikan di bulan Muharram akan tercurah kebaikan pula kepadanya. Abu Dzar ra berkata, aku bertanya kepada Rasulullah SAW: “Malam apakah yang lebih baik dan bulan apakah yang lebih utama?”, lalu beliau menjawab” “Sebaik-baiknya malam adalah pertengahannya. Bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharram”, (HR. An-Nasa’i).

Rasulullah saw menghormati bulan Muharram. Beliau berpuasa pada hari ke-10 atau ‘Asyura’. Dalam Riwayat Ibrahim al-Hijry dari Abi ‘Iyadl dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: “Hari ‘Asyura’ adalah hari yang para Nabi berpuasa, maka berpuasalah kalian semua”. Hikmah puasa ‘Asyura, adalah menghapus dosa setahun sebelumnya. Riwayat dari Abu Qatadah ra, bahwa keutamaan puasa ‘Asyura sebagaimana Nabi saw bersabda: “Puasa hari ‘Arafah , aku menghitung pada Allah mengapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya, dan puasa ‘Asyura aku menghitung, menghapus dosa setahun sebelumnya” (Riwayat Muslim dalam Shahihnya).

Dalam kalender penanggalan Jawa, bulan Muharram (yang dimuliakan) disebut dengan bulan Suro. Saya menduga ini juga diambil dari kata ‘Asyura. Sebelum pandemic Covid-19, dalam menyambut 1 Muharram, boleh dikatakan di setiap RT, mengadakan acara tirakatan artinya “malam muhasabah atau introspeksi diri seluruh warga RT, agar dapat memperbaiki dan menjalani hidup yang lebih baik. Tirakatan sangat berbeda dengan tradisi yang bernuansa hura-hura. Karena tirakatan adalah suasana sacral, yang berisi perenungan, muhasabah, dan berdoa memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, agar senantiasa memberikan pertolongan, kemudahan rizki, kebahagiaan hidup dunia hingga akhirat.

Dari perspektif inilah, seakan di bulan Muharram atau Suro, tidak sepatutnya mempunyai gawe, seperti hajat mantu, mengkhitankan, dan lain sebagainya. Bagi warga yang katanya sangat rasional, bahkan liberal, mungkin tidak percaya itu. Tetapi jika warga masyarakat menghormati dan tidak menggunakan waktu-waktu bulan Muharram untuk suatu acara, dan lebih banyak menggunakannya untuk muhasabah, beristighfar, dan memohom ampunan kepada Sang Khaliq, Yang Maha Pengampun, adalah pilihan bijak yang juga harus dihormati.

Selamat kepada sedulur-sedulur yang berpuasa ‘Asyura’ semoga Allah mengampuni dosa kita setahun yang lalu, dan tidak lagi membebani torehan amal dan tinta emas dalam pembukuan kita ke depan. Dengan diwrite-off-nya dos akita setahun, kiranya akan menambah spirit kita untuk merawat iman taqwa dan komitmen kebangsaan kita guna mengisi kemerdekaan NKRI yang ke-76, demi terwujudnya baldatun tahyyubatun wa Rabbun Ghafur. Bravo NKRI dan Semoga kita mampu merawat rumah besar kita Indonesia, terus tumbuh dan maju. Salam sehat.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.Jatengdaily.com-st