Dosen Humanis Itu Jempol

Usman Roin
Oleh: Usman Roin *
MENJADI mahasiswa tingkat akhir, rasanya campur aduk. Pengalaman inilah yang menjadikan penulis sadar, bahwa lajunya waktu itu akan membuahkan sesuatu bila kehadirannya tidak ditelantarkan begitu saja.
Tidak pula diabaikan oleh kesibukan yang mendera. Atau oleh sebab motivasi yang turun, bahkan padam, akibat tidak adanya kawan sejawat yang bisa dijadikan patner untuk saling memberi semangat merampungkan studi.
Belum lagi kadang rasa malu akibat pertanyaan “kapan lulus?”, yang hal itu serasa merobohkan tembok kepercayaan diri kita.
Ada kisah menarik, boleh dibilang ‘hot’ dalam perspektif positif. Yakni, upaya dosen pembimbing (dosbin) yang sangat luar biasa membangkitkan semangat merampungkan studi di almamater penulis. Dosbim yang penulis ceritakan bukan sekadar menunggu chat mahasiswa untuk bimbingan saja. Lebih dari itu, ia mengingatkan kepada penulis, bahwa pilihan untuk merampungkan studi ada ditangan penulis. Mau dapat gelar dengan cara segera menyelesaikan, atau sudah tidak perlu dengan gelar tersebut!
Perhatian kecil dosbim bagi penulis sangat berarti. Walau ini subjektif, tetapi ini murni menggunggah penulis sebagai mahasiswa tingkat akhir yang padam semangatnya jadi menyala, sadar, bangkit, dan tergugah memilih merampungkan studi. Terkait perhatian kecil dosbim tersebut, penulis teringat kata bijak David Taylor dalam bukunya How to be Successful by Being Yourself (2016:124), bahwa kita itu selalu memiliki pilihan. Hanya saja, sering kali kita memiliki lebih banyak pilihan dibandingkan yang kita sadari. Dan ketika kita kehabisan pilihan, dan saat semua pilihan telah diambil, tolong kenali yang satu ini, bahwa kita belum kehabisan pilihan.
Selain dosbim, tipikal keberhasilan mahasiswa tingkat akhir bisa semangat merampungkan tugas akhirnya (skripsi, tesis, atau disertasi) ternyata didukung oleh pimpinan jurusan. Penampilan pimpinan jurusan yang solutif bukan memarahi itu memberikan angin sejuk mahasiswa untuk bangkit merampungkan studi. Dari yang bingung terkait judul, rumusan masalah, hingga kemelimpahan sumber rujukan, menjadi percaya diri untuk segera menyelesaikannya.
Terkait dengan hal di atas, ada kisah unik dari salah satu ketulusan membimbing Kajur di almamater tempat penulis menimba ilmu. Pengamatan penulis, kepala jurusan tersebut terbuka dengan mahasiswa tingkat akhir yang masih remang-remang pengerjaan tugas akhirnya. Ketika ada mahasiswa yang datang berkonsultasi terkait judul,
Kepala jurusan tersebut tidak kemudian menghakimi, melainkan memberi saran, hingga meluruskan agar dari judul saja tidak menimbulkan polemik yang akhirnya menyusahkan mahasiswa dalam pengerjaannya.
Tidak cukup sampai di situ, mahasiswa yang berkonsultasi diberikan cara bagaimana mengakses rujukan teori yang pas, dan sesuai dengan pembahasan. Sehingga mutu karya tugas akhir selaras dengan gelar akademik yang disandang, yakni mutu kepenulisan dan temuan hasil penelitian yang ciamik.
Dua contoh di atas adalah fenomena nyata, bahwa humanisme terhadap manusia menjadi alat membangkitkan kemanusiaan. Kehadiran dosen yang humanis ternyata menginspirasi mahasiswa dari yang kehilangan kepercayaan diri menjadi bersemangat. Dari yang padam menjadi menyala. Dan dari tidak tahu kepada siap bertanya tentang nasib tugas akhirnya, menjadi memiliki rujukan sahih dalam mengawal karya tugas akhir hingga selesai dalam persidangan.
Menjadi dosen humanis, tentu tidak sekadah puas menjadi dosen. Melainkan, bagaimana luasnya keilmuan yang dimiliki tidak hanya berada dimenara gading, melainkan membumi bagi mahasiswanya. Tentu dengan menjadi dosen yang seperti itu, akan muncullah kebanggaan, kepuasan, bahwa teori akademiknya mampu diserap, dimengerti. Dan yang paling membanggakan, bisa mudah diaplikasikan oleh mahasiswa dalam membuat karya tulisnya.
Jika hal itu bisa diterapkan oleh dosen, kata Prof. H. A. R. Tilaar (2009:86-87), ia tidak sekadar profesional, melainkan profesionalisasi. Yakni, menjadi hingga mengembangkan suatu bidang pekerjaan atau jabatan secara profesional.
Alhasil, bidang pekerjaan yang dilakukan, akan selalu berdasar pada kriteria-kriteri profesi dan terus menerus diasah dan dikembangkan berbentuk pelayanan humanis kepada mahasiswa hingga menjadi ahli (expert). Dan pada wilayah ruhani, naluri bertanggung jawab tumbuh dari lubuk hati terdalam. Sedangkan terhadap globalisasi zaman, senantiasa update terhadap bentuk kontekstualisasi profesinya.
Dalam prespektif mahasiswa, memiliki dosen humanis selain akan dikenang, juga akan membangkitkan tradisi apa yang disinggung oleh Prof. Masdar Hilmy, (2016:14) dari sekadar learning oriented kepada research oriented.
Sebab dosen humanis tidak protek terhadap apa yang diketahui, melainkan open access terhadap berbagai pengetahuan, keterampilan untuk meningkatkan pemahaman pengetahuan mahasiswa yang mudah diterima dan kontekstual terhadap zaman. Alhasil, naluri mahasiswa dalam menelusuri literatur kelimuan baik cetak atau berbentuk digital menjadi liar. Sehingga “kebingungan” literatur only in the library tidak terjadi berganti present virtually. Akhirnya, salam jempol untuk dosen yang humanis. jatengdaily.com-she
* Penulis: Alumnus Magister PAI FITK UIN Walisongo Semarang; pengurus Pergunu Jateng; dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).