Rumah pompa air di Kota Semarang. Foto: Humas Pemkot

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Hujan sudah beberapa kali tuurn melanda Semarang. Meski intensitasnya masih terbilang rendah, namun harus dihadapi dengan sikap waspada, khususnya di daerah rawan  banjir, seperti Kecamatan Semarang Utara, Pedurungan, Genuk dan lain sebagainya.

Salah satunya adalah dalam kesiapan rumah pompa yang tersebar di sejumlah lokasi. Salah satunya yang breada di Kali Tenggang. Di dekat muara sungai tersebut tercatat ada enam  unit pompa dengan kapasitas 2.000 liter per detik.

“Ketika normal dan  tidak ada hujan, maka hanya digunakan tiga unit pompa saja secara bergantian,” ujar koordinator operator rumah pompa Kali Tenggang, Gunawan Laksono. Dikatakan, selain itu, terdapat dua faskel atau alat pengukur permukaan air di hulu dan hilir.

Pompa beroperasi terus-menerus selama 24 jam tanpa henti untuk mengantisipasi pembuangan air dari warga dan pabrik. Selain itu, terdapat pintu darurat. Pintu darurat akan dibuka jika permukaan air di hilir lebih rendah daripada hulu.

Gunawan Laksono menjelaskan, jika telat dihidupkan, maka elevasi air akan naik. Demikian juga saat hujan dan telat dihidupkan pompanya, maka air langsung meluber ke jalan. “Kalau tidak dihidupkan setengah jam saja, maka air akan meluber,” kata Gunawan.

Agar pompa berfungsi dengan baik dan lebih awet, Gunawan meminta masyarakat agar tidak membuang sampah di sungai Tenggang. Karena sampah bisa menghambat cara kerja pompa, sehingga penurunan elevasi sangat lambat.

“Setiap hari kita harus membersihkan sampah. Ditambah lagi ada banyak eceng gondok,” katanya. Jika intensitas hujan mulai tinggi, semua operator rumah pompa yang terdiri atas tiga orang akan bersiaga. She