Kerusakan Jalan di Blora Capai 500 Km, Butuh Dana Rp 1,5 Triliun

Rektor Unwahas Prof Dr H Mudzakir Ali MA dan Bupati Blora H Arief Rohman SIP MSi disaksikan Dekan FISIP Unwahas Dr Agus Riyanto SIP MSi dan Wakil Bupati  Blora Tri Yuli Setyowati ST MM melakukan penandatanganan kerja sama di Kampus Jl Menoreh Tengah X/22 Sampangan,Semarang, Selasa (23/11).Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Bupati Blora H Arief Rohman SIP MSi dalam pidato Kuliah Tamu memotivasi para mahasiswa bangga kuliah di Unwahas. ‘’Dulu saya ditanya, lulusan perguruan tinggi swasta mau jadi apa?. Sekarang sudah terjawab, ada santri yang jadi bupati. Saya lulusan  perguruan swasta Universitas Darul Ulum Jombang bisa jadi bupati,’’ kata Arief dalam diskusi yang dipandu Dr Ali Martin, di Kampus Unwahas, Selasa (23/11).

Dia mengajak semua pihak termasuk Unwahas dan Baznas RI untuk bersama-sama membangun Kabupaten Blora. ‘’Blora adalah kabupaten paling timur dari Provinsi Jawa Tengah. Hampir separoh dari wilayah adalah hutan. Tentu saja ini sebagai potensi sekaligus tantangan. Blora sebagai penghasil kayu jati terbaik, tetapi setelah menjadi produk jadi yang terkenal Jepara dan Solo. Produksi padi dan jagung Blora juga surplus, tetapi karena pabriknya ada di Grobogan dan Solo yang populer kabupaten lain,’’ tegasnya.

Persoalan lain, kabupaten Blora menghadapi masalah infrastruktur. ‘’Jalan terpanjang yang rusak sangat parah. Kami data kerusakan jalan mencapai 500 km. Untuk perbaikan infrasturktur jalan kira-kira membutuhkan biaya Rp 1,5 triliun. Makanya kami memberanikan diri mengajukan pinjaman atau utang,’’ kata Arief.

Dia mempersilakan Unwahas, Baznas RI dan semua pihak bersama-sama bersinergi membangun Kabupaten Blora. ‘’26 November ini Bandara Ngloram sudah dioperasikan. Sehingga dari Blora bisa langsung ke Jakarta dan sebaliknya. Kalau Unwahas mau membranding kemajuan satu desa misalnya dengan Desa Unwahas, kami sangat welcome dan mempersilakan,’’ tegasnya.

Kepada para mahasiswa asal Blora, dia mengajak kelak setelah lulus menjadi sarjana segera kembali ke daerah untuk membangun tempat asalnya.

Kehadiran Bupati Blora selain sebagai dosen tamu, Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) melakukan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora. Penandatangan dilakukan oleh Rektor Unwahas Prof Dr H Mudzakir Ali MA dan Bupati Blora H Arief Rohman SIP MSi disaksikan Dekan FISIP Unwahas Dr Agus Riyanto SIP MSi dan Wakil Bupati  Blora Tri Yuli Setyowati ST MM.

Hadir para wakil rektor, dekan, wakil dekan, pejabat di lingkungan Pemkab Blora dan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Pelajar Blora (Impara). Ketua Yayasan Wahid Hasyim Prof Dr H Noor Achmad MA hadir secara virtual.

Dekan FISIP Unwahas Dr Agus Riyanto SIP MSi menjelaskan, penandatanganan naskah kerja sama di Kampus Jl Menoreh Tengah X/22 Sampangan,Semarang untuk pengembangan Tri Dharma Perguruan Tinggi. ‘’Banyak mahasiswa Unwahas yang berasal dari Kabupaten Blora. Kami akan mendukung Program Bupati Blora yang ingin mewujudkan satu desa minimal satu sarjana dan satu hafidz (penghafal Al-Qur’an),’’ kata Agus.

Rektor Unwahas Prof Dr H Mudzakir Ali MA mengatakan, kampus perguruan tinggi NU yang lahir 8 Agustus 2000 itu kini mempunyai 9 fakultas dan satu fakultas pascasarjana, 21 program studi (prodi)  dengan mahasiswa sebanyak 10.000 orang.

‘’Tiap tahun kami menerima sekitar 2.500 mahasiswa baru. Kami mempunyai dua kampus yaitu di Jalan Menoreh Tengah, Sampangan dan di Nongkosawit , Gunungpati dengan lahan yang tersedia 20 hektare lebih,’’ katanya.

Menurut Mudzakir pihaknya melakukan MoU dengan banyak Pemerintah Kabupaten/Kota se-Indonesia untuk membekali mahasiswa dengan pengalaman langsung di lapangan. ‘’Mahasiswa tidak cukup hanya bertemu dengan dosen di kampus. Mereka juga harus mengenal para politisi, pengusaha, pejabat dan berbagai profesi di luar kampus. Dengan begitu, ketika mereka menjadi sarjana mereka siap kerja dan tahu apa yang harus dikerjakan,’’ tegas Rektor.
 
Persoalan Daerah
Ketua Yayasan Wahid Hasyim Prof Dr H Noor Achmad MA dalam pidato secara virtual mengatakan, kampus perguruan tinggi tidak bisa lepas dari persoalan daerah. ‘’Persoalan yang tarjadi di daerah harus diketahui masyarakat kampus untuk bersama-sama saling membantu mencari solusinya. Kabupaten Blora mempunyai berbagai macam potensi yang bisa dikembangkan, bersamaan itu muncul berbagai persoalan dan tantangan yang harus dikerjakan bersama,’’  tegas Noor Achmad yang juga Ketua Baznas RI itu.

Dia mencontohkan Sate Blora, Tahu Campur dan Batik Blora yang sangat terkenal akan bisa lebih populer dan mendunia bila disentuh dengan Startup digitalisasi seperti yang sudah dilakukan di beberapa kabupaten lain. Selain dengan Unwahas, Noor Achmad mengatakan, Baznas RI juga siap bekerja sama untuk memajukan daerah.st