Larangan Mudik Berakhir, Masuk Jateng Tetap Dicek Surat Bebas COVID-19

Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Rudy Syafiruddin. Foto: adri

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Direktorat Lalu Lintas Polda Jawa Tengah menyatakan terdapat pengetatan pelaku perjalanan dalam negeri, setelah larangan mudik yang dimulai 18 Mei sampai dengan 24 Mei 2021. Setiap kendaraan luar kota atau yang masuk Jateng akan dicek surat domisilinya dan surat bebas COVID-19.

“Setiap orang yang melintas antar kabupaten kota wajib bawa surat kelengkapan protokol kesehatan seperti surat bebas covid-19. Jika tidak ada surat bebas covid-19 wajib menjalani rapid antigen yang sudah disediakan gratis. Sistem pengecekan ini kita lakukan sampai tanggal 24 Mei,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Rudy Syafiruddin saat dikonfirmasi, Rabu (19/5/2021).

Dia menyebut 14 titik pos penyekatan sudah ditarik semua, namun masih ada 71 pos pengamanan yang tetap disiagakan guna mengantisipasi lonjakan arus kendaraan saat perayaan Syawalan.

“Kondisi arus lalu lintas lancar. Hari kedua pasca Lebaran sudah normal. Tapi kita tetap lakukan penyekatan di 71 pos dengan operasi yustisi setiap ada kendaraan masuk kabupaten kota kita cek protokol kesehatannya,” ujarnya.

Dari hasil operasi penyekatan ketupat Candi, terdapat 250 ribu pemudik yang memasuki Jawa Tengah selama aturan larangan mudik berlaku tanggal 6-17 Mei 2021. Dari jumlah sebanyak itu, ada 37 ribu pemudik yang telah melalui proses pemeriksaan.

“Operasi ketupat candi sudah berakhir kemarin dan dari pemantauan di lapangan ada 250 ribu lebih pemudik yang nyelonong masuk Jawa Tengah. Para pemudik ada yang melintas, ada juga yang stay,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memperkirakan keramaian masyarakat yang merayakan suasana pasca Lebaran masih akan terasa sampai Minggu (23/5/2021) mendatang. Dengan situasi tanggal 18 Mei sudah tidak ada pelarangan arus mudik, maka tidak menutup kemungkinan arus mudik masih akan muncul lagi.

“Artinya, akan ada mudik setelah tanggal 17 Mei untuk merayakan syawalan bersama keluarga. Tentu saya berharap, masyarakat tetap tinggal di tempat dan tidak mudik,” kata Ganjar Pranowo.

Banyak tradisi biasanya dilakukan masyarakat saat syawalan. Ganjar meminta seluruh Bupati/Wali Kota memastikan bahwa tradisi yang digelar tidak melanggar protokol kesehatan.

“Kalau itu membikin kerumunan tidak boleh. Tapi kalau dibatasi silahkan diatur. Teman-teman Kabupaten/Kota sampai level desa, camat dan lurah harus bekerjasama dengan Babinsa/Babhinkamtibmas untuk mengatur. Kalau tidak bisa diatur, harus tidak diizinkan,” ungkapnya.

Pihaknya meminta kepada Dinas Pariwisata untuk memantau tempat wisata yang ramai dikunjungi masyarakat.

“Kita review tempat wisata Sabtu dan minggu masih akan ramai. Sudah kita minta untuk dicek semuanya, agar tidak hanya wahana air tapi juga wahana permainan agar sisi keselamatannya terjaga,” pungkas Ganjar Pranowo. adri-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here