Loading ...

Mahasiswa Sastra Indonesia FIB Undip Juara I Essai Nasional Bulan Bahasa

mahasiswa

Akbar Malik Adi Nugraha. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) Mahasiswa Program Studi (Prodi), S1 Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Angkatan 20218, Universitas Diponegoro (Undip), Akbar Malik Adi Nugraha, berhasil meraih Juara I dalam Lomba Essai yang diadakan sebagai rangakian acara Bulan Bahasa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Karya yang diusung oleh Akbar Malik Adi Nugraha hingga mengharumkan nama Prodi Sastra Indonesia, FIB Undip ini berjudul ‘’Literasi di Era Post-Truth dan Upaya Meluruskan Kekeliruan Wacana Rendahnya Literasi Indonesia.’’

Akbar Malik Adi Nugraha  mengatakan, tema yang diusungnya ini bersaing dengan mahasiswa se Indonesia.

‘’Tulisan essai saya merupakan pengamatan dan kajian saya, bagaiamana hampir dalam setiap strata pendidikan saat ini, istilah literasi selalu digaungkan. Mereka yang biasa menyampaikannya adalah pihak yang memiliki otoritas terhadap kegiatan literasi. Kalau di sekolah, tentu para guru. Para pendidik akan memperkenalkan istilah literasi sedini mungkin kepada peserta didik,’’ jelas Akbar.

Literasi pun diberikan tidak sebatas pengenalan, tetapi juga membuat suatu program khusus secara berkelanjutan agar kegiatan literasi benar-benar bisa berjalan.

‘’Masih terngiang hangat dalam ingatan penulis, ketika SMA setiap pagi para siswa diwajibkan membaca artikel dan menulis resume dari apa yang sudah dibaca. Katanya, itu semua adalah gerakan literasi yang bertujuan mendongkrak kualitas literasi bangsa,’’ jelasnya.

Tidak berbeda dengan di sekolah, di kampus pun demikian. Kampus sebagai rahim yang melahirkan para calon intelektual berkewajiban menegaskan pentingnya budaya literasi.

Meski begitu, nyatanya kampus atau perguruan tinggi yang seharusnya membangun peradaban dengan literasi, malah melecehkan literasi dengan melakukan plagiarisme. Belakangan, dosen yang memiliki jabatan strategis di kampusnya terbukti melakukan plagiarisme.

Lantas, dia pun dalam tulisan essai yang dilombakan tersebut, juga  memberi sejumlah fenomena bagaimana adanya dugaan  plagiarisme yang justru dilakukan oleh sejumlah oknum pendidik di kalangan kampus.

Menurutnya, ketika institusi pendidikan mengampanyekan gerakan literasi tetapi pada saat yang bersamaan mereka menodai proses literasi adalah representasi dari literasi di era post-truth.

Dia pun dalam essainya, mengkritisi literasi di Indonesia.

Apabila kita bertanya tentang kualitas literasi di Indonesia, kebanyakan masyarakat Indonesia pasti akan mengatakan kurang baik atau bahkan buruk.

Lebih umum, orang yang membaca berita akan memberikan pernyataan bahwa Indonesia termasuk negara yang literasinya rendah berdasarkan salah satu hasil survei dunia. Benar, bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dalam survei World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016.

Selain hasil survei tersebut, Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2018 melakukan studi yang serupa untuk menguji kualitas literasi anak Indonesia, hasilnya Indonesia berada di peringkat 72 dari 77 negara.

Sepintas, membaca dua hasil studi tersebut akan membuat kita mengangguk begitu saja. Tanpa perlu mencari tahu apa itu CCSU dan PISA, kita langsung mengaminkan bahwa literasi Indonesia tergolong rendah.

‘’Ketika kita percaya begitu saja bahwa Indonesia termasuk ke dalam negara yang kualitas literasinya rendah di dunia tanpa mau memverifikasi kekuatan hasil studi tersebut, maka kita telah terjerembab ke dalam glorifikasi hasil studi yang masih perlu dipertanyakan. Interpretasi dan validasi terhadap dua hasil studi tersebut harus dilakukan,’’ jelasnya.

Di satu sisi, menurunya, ketika geliat literasi melalui aktivitas digital sudah mendominasi kehidupan era kini. Kehidupan di era revolusi digital menciptakan banjir informasi yang tidak bisa dibendung.

Semua orang memiliki akses terhadap informasi. Dengan begitu, setiap orang tidak hanya berperan sebagai konsumen informasi, melainkan juga produsen informasi. Membaca informasi yang terus meluap, masyarakat dihadapkan pada masalah yang kompleks.

Sementara itu, Ketua Prodi S1 Sastra Indonesia FIB Undip, Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum mengatakan, sangat senang dan bangga dengan prestasi mahasiswanya.

‘’Sebagai kaprodi, saya terus membuat peta potensi Sumber Daya Manusia (SDM) mahasiswa. Diantaranya melalui pelatihan dan pendampingan untuk membuat prestasi terus bisa dicetak. Saya melihat potensi melimpah dan akan terus berprestasi ke depan,’’ jelasnya.

Hal ini menurutnya, juga untuk mendukung FIB menjadi fakultas riset yang unggul di Asia Tenggara pada tahun 2025 dalam bidang kebudayaan yang meliputi sastra, bahasa, sejarah, antropologi, perpustakaan, filsafat, dan kearsipan. she