Mangkunegara IX Wariskan Karya Seni Tari Gaya Mangkunegaran

Salah satu pertunjukan seni tari di Pura Mangkunegaran beberapa waktu silam. Foto: yanuar

SOLO (Jatengdaily.com) – Raja Pura Mangkunegaran Solo, KGPAA Mangkunegara IX, yang wafat pada Jumat (13/6/2021) dinihari telah dimakamkan di Astana Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jateng Minggu (15/8/2021). Jenazah diberangkatkan pukul 10.20 dari Pura Mangkuneagaran dan tiba di Girilayupukul 11.30 WIB.

Sebelum jenazah diberangkatkan, empat putranya yakni GPH Paundrakarna Jiwa Suryanegara, GRAy Putri Agung Suniwati, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo, dan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo melakukan tradisi “brobosan” di bawah peti jenazah sang ayah.

Begitupula istri Mangkunegara IX, Kanjeng Putri Mangkunegara IX, juga menjalani tradisi Jawa ini. Sementara itu, terdengar Gending Ketawang yang melepas jenazah sang penguasa Mangkunegaran.

Almarhum Mangkunegara IX dikenal sebagai raja yang sangat peduli kesenian. Seni tari menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Pura Mangkunegaran.

Tak mengherankan jika Pura Mangkunegaran juga sering menggelar perhelatan seni tari baik yang bertaraf lokal hingga internasional. Almarhum pulalah yang menjadikan Pura Mangkunegaran sebagai pusat budaya Jawa, kepada para pengunjung pura selalu disuguhkan kesenian Mangkunegaran, seperti tari, wayang kulit, dan fragmen.

Mengutip laman resmi puramangkunegaran.com, Mangkunegara IX menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah di Kota Surakarta. Minat terhadap kesenian terutama seni tari, ditunjukkan dengan kemahiran memerankan Bambangan yaitu seorang ksatria lemah lembut dan halus. Peran Bambangan membutuhkan karakter yang kuat dan latihan yang keras untuk mencapai tingkat seorang penari yang layak tampil.

Meskipun berada di lingkungan keraton, namun Mangkunegara IX tetap tak abai dengan perkembangan seni tari, sehingga adaptif dengan tari modern untuk menghasilkan karya seni tari kontemporer. Hal ini juga yang membuat Mangkunegara IX dikenal sebagai raja masa kini atau raja modern yang peduli akan perkembangan kesenian. Mangkunegara IX menempatkan kesenian khususnya seni tari yang mengikuti perkembangan zaman.

Pada masa penguasa Mangkunegara IX, kehidupan tari gaya Mangkunegaran semakin berkembang. Karya-karya yang dihasilkannya pada masa Mangkunegara IX di antaranya: Tari Bedhaya Suryosumirat (1990), Tari Kontemporer Panji Sepuh (1993), Tari Harjuna Sasrabahu, Tari Puspita Ratna (1998), Tari Kontemporer Negeri Sembako (1998), Tari Kontemporer Krisis (1999), Drama tari Mintaraga, Drama tari Dewa Ruci, dan lain sebagainya.

Saat Mangkunegara IX dinobatkan sebagai penguasa Pura Mangkunegaran pada tanggal 4 Jumadilakhir 1920 atau 24 Januari 1988, juga dipenuhi suasana sakral. Saat itu digelar Tari Bedhaya Anglir Mendhung dan Tari Palguna Palgunadi.

Seperti diberitakan Mangkunegara IX mangkat pada Jumat (13/8/2021) dinihari. Almarhum dimakamkan Minggu (14/8/2021) di Astana Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.

Almarhum dilahirkan dengan nama GPH Sudjiwo Kusumo di Surakarta pada tanggal 18 Agustus 1951. Meruapakan putra laki-laki kedua dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara VIII dan Raden Ajeng Sunituti atau Gusti Kanjeng Putri Mangkunegara VIII. yds