Mewujudkan Lansia Hebat Kota Semarang

5 Min Read
Oleh: Retno Dian Ika Wati, SST,MM

Oleh: Retno Dian Ika Wati, S.ST, MM
Statistisi Muda BPS Kota Semarang

KEBERHASILAN pembangunan salah satunya tercermin dari tingkat kesejahteraan yang semakin membaik, termasuk kesehatan dan Pendidikan dan hal tersebut berdampak pada bertambahnya usia harapan hidup penduduk. Konsekuensi keadaan tersebut adalah bertambahnya penduduk lanjut usia (lansia).

Menurut Undang-Undang No. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, Lansia adalah orang yang telah berusia 60 tahun ke atas.

Dari seluruh penduduk di Kota Semarang, sekitar 9 persen adalah lansia dan jumlahnya semakin meningkat dari tahun ke tahun ( proyeksi penduduk Kota Semarang). Keliru jika menganggap lansia adalah beban bagi negara. Jumlah lansia yang semakin membesar dapat menjadi sumber daya manusia yang potensial jika mereka tetap Tangguh, sehat dan produktif.

Penduduk senior ini memiliki kelebihan dalam pengetahuan, sifat kearifannya dan terutama pengalaman yang hampir tidak dimiliki oleh generasi muda.
Berdasarkan Data Sensus Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, lansia di kota semarang didominasi oleh lansia muda (60-69 tahun) yang mencapai 77,22 persen, selanjutnya diikuti oleh lansia madya (70-79 tahun) sekitar 20,01persen dan lansia tua (80 tahun keatas) sekitar 2.77 persen.

Sedangkan jika dipilah menurut jenis kelamin, persentase lansia perempuan mencapai 54 persen dan lansia laki laki sekitar 46 persen. Data Susenas mencatat angka kesakitan penduduk lansia di Kota Semarang mencapai 28,7 persen pada tahun 2020, artinya terdapat 28 hingga 29 dari 100 lansia yang memiliki keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan menyebabkan terganggunya kegiatan sehari harinya.

Semakin bertambah usia maka semakin besar kemungkinan seseorang mengalami permasalahan fisik, jiwa, spiritual, ekonomi dan sosial. Salah satu masalah yang sangat mendasar adalah masalah kesehatan akibat proses degenerative. Oleh karena itu diperlukan Strategi pembangunan bidang kesehatan yang promotif dan preventif dengan dukungan pelayanan kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas, termasuk dalam hal kesehatan Lansia. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) serta Program Keluarga Sehat adalah beberapa strategi unggulan yang sedang dijalankan Kemenkes.

Dari sisi Pendidikan, masih ada sekitar 7,1 persen lansia yang tidak dapat membaca dan menulis dan sekitar 29,5 persen lansia yang tidak memiliki ijazah Pendidikan. Meskipun begitu lansia lulusan perguruan tinggi ada sekitar 8,2 persen. Riset membuktikan, lansia yang memiliki pendidikan tinggi jarang mengalami kepikunan, sementara yang berpendidikan rendah sering mengalami kepikunan atau demensia, karena pikun atau demensia ini bisa dicegah sedini mungkin dengan terus mengasah kemampuan otak atau kemampuan berpikir.

Dalam rangka menciptakan lansia yang tangguh, sehat dan produktif, berbagai kementrian dan Lembaga ambil bagian dalam pemberdayaan lansia. Kementrian kesehatan memiliki program untuk meningkatkan status kesehatan para lanjut usia dengan peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan lanjut usia di pelayanan kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok Lanjut Usia melalui konsep Puskesmas Santun Lanjut Usia.

BKKBN memiliki program pemberdayaan lansia, salah satunya adalah program Bina Keluarga Lansia (BKL). BKL merupakan kelompok kegiatan yang sasaran langsungnya adalah para lansia dan sasaran tidak langsungnya adalah keluarga yang mempunyai lansia. Tujuan dari BKL adalah untuk meningkatkan kualitas hidup lansia melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan. BKL diharapkan dapat menjadi wadah kegiatan pemberdayaan lansia yang didukung oleh masyarakat dan keluar yang memiliki lansia.

Kementrian Sosial hadir untuk kesejahteraan sosial lanjut usia dengan kebijakan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Arah kebijakan ini dalam bentuk penguatan sistem rehabilitasi sosial yang terintegrasi dengan perlindungan lansia. ATENSI berbasis residensial yaitu perawatan lansia melalui Balai Rehsos, Panti Rehsos atau LKS Lanjut Usia. Layanan ini diberikan bagi lansia yang tidak memiliki kelurga, ditelantarkan oleh keluarga atau keluarga tidak mampu mengurus lansia karena permasalahan ekonomi.

Masih banyak lagi program program pemberdayaan lansia yang dimiliki oleh kemetrian/ Lembaga. Hal yang paling diperlukan adalah upaya sinergis dan strategis yang pro lansia dalam memberdayakan mereka agar lebih sehat, produktif, kreatif, mandiri, dan sejahtera.

Kegiatan kewirausahaan dan kegiatan ekonomi kreatif juga sangat diperlukan untuk merangsang produktivitas ekonomi para lansia. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2020 di Kota Semarang menunjukkan sekitar 36,4 persen lansia masih aktif bekerja dan 3,4 persen lansia masih mencari pekerjaan.

Hal ini membuktikan bahwa lansia merupakan penduduk yang potensial dan berdaya guna, Lansia selain sebagai objek pembangunan, juga merupakan sebagai subjek pembangunan yang memiliki peran dalam membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan khususnya kesehatan keluarga.

Menjadi tua itu pasti tetapi menjadi orang yang selalu sehat, produktif dan bahagia adalah pilihan. Tugas kita bersama adalah menjadikan lansia sejahtera lahir batin. Peran masyarakat dalam meningkatkan kualitas lansia dapat menjadi daya ungkit dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara. Jatengdaily.com–st

 

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.