Problem Kemiskinan di Perkotaan

Oleh: Mohammad Agung Ridlo

PROBLEM yang merupakan imbas dari masalah kemiskinan di perkotaan dan belum terpecahkannya diantaranya adalah kelompok-kelompok miskin perkotaan yang dapat disebut dengan kaum PGOT (Pengemis, Gelandangan dan Orang-orang Terlantar) serta Anak Jalanan, yang semakin merebak di kota-kota besar negara kita. Kaum PGOT dan anak jalanan adalah bagian dari masyarakat di perkotaan yang terkategorikan sebagai masyarakat pada lapisan paling bawah, masyarakat miskin atau golongan have not sering juga disebut sebagai kaum marginal, terkadang terpinggirkan dan luput dari perhatian pemerintah. Pemerintah boleh mengeluarkan aturan-aturan tentang kaum PGOT, asal semua itu memberikan solusi terangkatnya kesejahteraan dan martabat kaum PGOT.

Sebenarnya kaum PGOT mempunyai karakteristik yang berbeda. Pengemis berbeda dengan gelandangan, kendati keduanya merupakan penyakit sosial, namun sebenarnya mereka berbeda, walaupun ada sebagian kecil dari mereka yang menjadi pengemis dan menggelandang. Terkadang yang namanya pengemis ada yang mempunyai rumah dan sawah, hanya pekerjaannya saja yang menjadikan mereka mendapat sebutan atau julukan sebagai “pengemis”.

Jadi yang dimaksud pengemis adalah orang-orang yang pekerjaannya “meminta-minta”. Pekerjaan tersebut dilakukan karena adanya dorongan kondisi fisik yang tidak/kurang sempurna, disamping itu ada yang menjadikan hal itu sebagai profesi. Mereka yang melakukan pekerjaan mengemis karena dorongan dari keadaan/kondisi fisik, bisa diartikan bahwa mereka adalah benar-benar membutuhkan bantuan. Mereka itulah yang mengemis lantaran tak mampu bekerja lain atau melakukan pekerjaan yang lebih berat dari sekedar menadahkan tangan. Misalnya, karena adanya cacat fisik, buta maupun lantaran usianya yang sudah tua. Sedangkan mereka yang melakukan pekerjaan mengemis karena sebagai profesi, padahal kondisi fisik sehat, maka mereka itulah yang sebenarnya tidak membutuhkan bantuan.

Mereka adalah orang-orang yang malas untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, dan mereka memandang sektor itu dapat memberikan keuntungan materi yang justru lebih banyak daripada bekerja selain mengemis. Kegiatan yang mereka lakukan sebagai pengemis secara spasial keruangan dilakukan di tempat-tempat yang strategis yaitu di: perempatan maupun persimpangan jalan yang terdapat lampu lalu lintas, dan pada saat lampu lalu lintas menunjukkan lampu merah. Door to door atau dari rumah penduduk ke rumah penduduk yang lain. Di selasar pertokoan maupun super market.

Sedangkan Gelandangan berbeda dengan pengemis, kendati keduanya merupakan penyakit sosial, namun pada dasarnya istilah pengemis atau gelandangan hanya tergantung pada bentuk pekerjaannya dan sarana tempat tinggal yang dipunyai. Tidak semua gelandangan adalah pengemis (pekerjaannya mengemis), juga sebaliknya tidak semua pengemis adalah gelandangan. (hidupnya menggelandang). Menurut istilah dahulu lebih netral sifatnya (Onghokham, 1982 : 3) Gelandangan berasal kata dari “gelandang” yang berarti “yang selalu mengembara”, yang berkelana (lelana).

Kemudian Onghokham menambahkan bahwa gelandangan itu adalah orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan layak, dan bisa makan di sembarang tempat. Diskripsi yang sama mengenai gelandangan diatas menurut Parsudi Suparlan, adalah bahwa gelandangan ini tidak mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal tetap. Kemudian Suparlan mengemukakan pendapat bahwa masyarakat kota (penduduk yang sudah mapan maksudnya) sejak lama sadar akan adanya gelandangan dan menempatkan mereka dalam stereotype “tak menetap, kotor dan tidak jujur” (Suparlan P, 1974 : 2).

Dengan demikian gelandangan bisa dilukiskan sebagai orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal yang tetap dan layak serta makan di sembarang tempat. Gelandangan merupakan pola hidup atau cara hidup agar mampu bertahan dalam kemiskinan dan keterasingan. Gelandangan merupakan fenomena kemiskinan sosial, ekonomi dan budaya yang dialami sebagian kecil penduduk kota besar, sehingga menempatkan mereka pada lapisan sosial paling bawah di tengah masyarakat kota.

Walaupun bekerja keras, punya kegiatan tertentu yang teratur serta pendapatan yang mendukung daya tahan mereka untuk tetap tinggal di kota, tetapi cara hidup nilai dan norma mereka dianggap menyimpang dari nilai yang diterima masyarakat banyak. Gelandangan ini kondisi dan situasi kehidupannya yang selalu meresahkan dan menyedihkan. Lokasi atau tempat mereka menggelandang menyebar tidak menentu, sampai di pojok-pojok kota dan berpindah-pindah.

Namun pada prinsipnya kehidupan para gelandangan maupun para pengemis di kota dengan segala keterbatasannya merupakan beban yang tidak ringan, baik untuk kehidupan mereka sendiri di kota, aparatur pengelola kota dan masyarakat lain yang mengkategorikan mereka sebagai gelandangan atau pengemis. Karena kondisi dan situasi kehidupannya yang selalu meresahkan dan menyedihkan serta penyebaran mereka sampai di pojok-pojok kota dan berpindah-pindah, maka mereka juga disebut sebagai orang-orang yang terlantar.

Selanjutnya mengenai anak jalanan belakangan ini menjadi suatu fenomena sosial yang cukup penting dalam kehidupan kota besar. Kehidupan mereka seringkali dianggap sebagai cermin kemiskinan kota atau suatu kegagalan adaptasi kelompok orang tertentu terhadap kehidupan dinamis kota besar. Pemahaman tentang bagaimana kehidupan mereka, seperti apa kegiatan dan aspirasi yang mereka miliki, keterkaitan hubungan dengan pihak dan orang-orang yang ada di sekitar lingkungan hidup mereka, memungkinkan kita menempatkan mereka secara lebih bijaksana dalam konteks permasalahan kehidupan kota besar.

Kegiatan anak jalanan ini antara lain: anak nakal, yang menjurus kearah kriminalitas (penodongan, pencurian pemerkosaan) termasuk sebagai pramunikmat (penyimpangan seksualitas), yang dilakukan di tempat-tempat keramaian.

Sebagai peminta-minta (mengemis) secara langsung atau tidak langsung dengan alasan membersihkan kaca mobil, yang dilakukan pada saat lampu merah di perempatan maupun persimpangan jalan. Menjadi pengamen jalanan: dari rumah ke rumah, terminal angkutan umum, di bis kota maupun antar kota, di restoran maupun warung makan.

Selain itu dengan kegiatan yang positif seperti penyemir sepatu, yang dilakukan di pinggir pertokoan, terminal angkutan umum, warung-warung makan, masjid. Kemudian menjadi penjual koran, yang dilakukan pada saat lampu merah di perempatan maupun persimpangan jalan.

Kaum PGOT merupakan salah satu problem kemiskinan di perkotaan dan sebagai dampak ikutan dari pembangunan. Kemiskinan dipandang sebagai bagian dari masalah dalam pembangunan, yang keberadaannya ditandai oleh adanya pengangguran, keterbelakangan, yang kemudian meningkat menjadi ketimpangan. Secara bersamaan kenyataan tersebut bukan saja menimbulkan tantangan tersendiri, tetapi juga memperlihatkan adanya suatu mekanisme dan proses yang tidak beres dalam pembangunan.

Oleh karenanya, untuk mencari solusi pemerintah hendaknya memperhatikan karakteristik dari kaum PGOT tersebut. Pemerintah boleh mengeluarkan aturan-aturan tentang kaum PGOT, asal semua itu memberikan solusi terangkatnya kesejahteraan dan martabat bagi kaum PGOT yang saat ini mereka tertinggal oleh pembangunan. Sebagai kaum marginal, terkadang tertindas dan terpinggirkan yang luput dari perhatian pemerintah.

Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, MT, Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota, Fakultas Teknik, UNISSULA dan Sekretaris Jenderal Forum Doktor UNISSULA.Jatengdaily.com-st