Puasa sebagai Fasilitas Penyegaran Jiwa

5 Min Read

Oleh: Harlianor
RAMADAN merupakan samudera indah yang berisi berjuta-juta mutiara kemuliaan, bulan di mana cakrawala kudus semesta tercurahkan. Sehingga segala aktivitas positif kita dinilai sebagai ibadah dan dilipat gandakan. Walau kecil yang dikerjakan, besar pahalanya. Ringan yang dilakukan, berat timbangannya di hadapan Allah.

Memasuki bulan suci Ramadan, kita dijejali beragam postingan-postingan di media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Twitter, dan lainnya terkait keutamaan bulan Ramadan beserta nilai-nilai filosofis puasa yang menjadi ikon ibadah di dalamnya. Bahkan jauh sebelum Ramadan tiba, para kyai maupun guru-guru agama sudah mewanti-wanti kita agar menyambutnya dengan riang gembira.

Dalam satu bulan ini, umat muslim diwajibkan untuk berpuasa, yakni menahan lapar dan dahaga yang dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya Matahari. Puasa merupakan ibadah yang memiliki keistimewaan dibandingkan dengan ibadah-ibadah yang lain, di mana pelakunya dituntut untuk benar-benar ikhlas menjalankannya, karena ibadah puasa sifatnya rahasia. Hanya orang yang berpuasa dan Allah saja yang dapat mengetahui ibadah tersebut benar-benar telah dilakukan oleh yang bersangkutan.

Suasana dalam bulan terasa begitu spesial di mana adanya perlakuan istimewa dari Allah dan banyaknya filosofi atau hikmah yang terkandung dalam ibadah puasa tersebut. Hal yang menarik untuk dibahas mengenai filosofi dari puasa adalah adanya momentum untuk menyegarkan jiwa.

Di bulan-bulan sebelumnya, kita tentu banyak sekali melakukan aktivitas-aktivitas yang membuat kita lelah baik secara fisik maupun secara kejiwaan. Hadirnya pandemi-misalnya, tentu sangat menguras kondisi jiwa kita, apalagi kita yang tiap hari harus berhadapan dengan dinamika media sosial yang rajin memberikan informasi-informasi acak. Bisa jadi, lelahnya jiwa dengan aktivitas yang kita lakukan sebelumnya membuat kita menjadi tidak fokus terhadap amanah kehambaan maupun amanah kemanusiaan.

Tanda jiwa yang lelah dapat kita ukur dengan seberapa banyak sifat-sifat negatif bersemayam dalam diri, baik berupa kelalaian, iri, dengki, malas, mudah tersinggung, teramat sedih atau galau, dan lainnya. Seringkali dengan banyaknya tugas-tugas atau aktivitas-aktivitas serta lingkungan yang tidak kondusif menjadi tanggungan “beban” tersendiri sehingga membuat jiwa kita perlu untuk diistirahatkan.

Pada dasarnya, jiwa yang kita miliki akan menggambarkan kualitas hidup kita, seperti gagasan yang disampaikan Aristoteles bahwa “jiwa adalah hal yang memberikan kehidupan bagi manusia dan menggambarkan tentang kualitas kehidupan manusia”. Artinya, jiwa memiliki peran vital untuk kehidupan kita, karena tanpanya kita seakan bukan lagi sebagai makhluk hidup, melainkan sudah menjadi seperti benda-benda lainnya yang tidak memiliki jiwa. Inilah gambaran yang terjadi pada kita sebagai seorang manusia.

Adanya momentum ibadah puasa dalam bulan istimewa Ramadhan ini, Allah me-training jiwa kita untuk istirahat sejenak dari beban-beban jiwa yang selama ini semakin menumpuk. Training Allah berupa puasa tersebut tidak lain adalah agar manusia mampu memenuhi kebutuhan puncaknya sehingga meraih sertifikat kemuliaan.

Mengutip dari seorang tokoh psikologi-humanistik, Abraham Maslow pada teori hierarki kebutuhan dalam A Theory of Human Motivation, Maslow menyatakan bahwa semakin tinggi level kualitas hidup manusia, maka kebutuhan yang harus dipenuhi akan semakin abstrak.
Kebutuhan manusia paling dasar adalah kebutuhan fisiologis yang berupa makan dan minum serta pemenuhan lain dalam bentuk biologis. Dari sini, jika kebutuhan tersebut telah terpenuhi, maka kebutuhan manusia akan naik level menjadi kebutuhan akan rasa aman dan kasih sayang serta kebutuhan akan pengakuan.

Pada level berikutnya, manusia akan membutuhkan aksi berupa partisipasi sosial untuk mengaktualisasikan dirinya pada lingkungan tempat ia berada. Puncaknya, Maslow menambahkan bahwa manusia membutuhkan pemenuhan akan unsur spiritual yang mampu mendapatkan ketenangan dan ketentraman jiwa pada seseorang.

Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan tertinggi manusia tersebut Allah memberikan fasilitas berupa puasa Ramadan agar jiwa kita dapat beristirahat dari keinginan-keinginan hawa nafsu yang destruktif (merusak) sehingga kita nantinya akan lebih “matang” dalam beragama. Adanya momentum bulan Ramadan, marilah kita nikmati suasana menggembirakan ini dengan berpuasa. Melatih diri kita untuk meminimalisir dari aktivitas-aktivitas yang tidak serius dan hal-hal yang menjauhkan kita dari amanah kehambaan.

Semoga dengan puasa Ramadan yang sedang kita jalani, Allah senantiasa memberikan hidayah dan inyah-Nya, serta membimbing kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semoga pada finalnya, dengan kita berpuasa terhadap aktivitas-aktivitas yang tidak serius menjadikan jiwa kita lebih fresh untuk menghadapi segala macam problematika dalam dinamika kehidupan kita masing-masing.

Harlianor, Santri Life Skill Daarun Najaah serta Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang. Jatengdaily.com–st

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.