Ramadan, Mengharap Maghfirah Menuju Mardhotillah

Oleh : Farah Ayu Afdhila Syahrizza
CAHAYA Ramadan telah mendekat. Puncak kerinduan seorang muslim dalam menyambut bulan suci ramadhan telah tersampaikan dengan sambutan penuh kebahagiaan. Bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat islam diseluruh penjuru dunia menyimpan sejuta keistimewaan yang akan digali dengan berbagai semangat meraih kemenangan.

Bulan Ramadan merupakan bulan penuh kemenangan dengan pancaran sinar kemuliaan yang hadir dalam jiwa orang-orang yang beriman. Kebahagiaan dalam menyambut Ramadhan tidak terlepas dari berbagai bentuk keberkahan yang dijanjikan oleh Allah SWT baik secara materil maupun spiritual. Tingkatan keberkahan di bulan Ramadan tidak ada bandingannya dengan keberkahan-keberkahan yang Allah tawarkan kepada makhluk-Nya di bulan-bulan selain Ramadan.

Menilik paradigma agama Islam, tentunya puasa bukan sebatas orientasi yang sifatnya duniawi seperti halnya mengarah pada kesehatan setiap pribadi. Kewajiban puasa merupakan suatu cara untuk mendapatkan ridha Allah SWT yang telah termaktub dalam Alquran, yang menekankan bahwa kewajiban berpuasa adalah untuk mendapatkan derajat takwa. Puasa diibaratkan sebagai proses pembersihan hati yang berasal dari noda hitam atas segala perbuatan dosa yang selama ini dilakukan.

Apabila hati diibaratkan sebagai cermin, maka cermin yang terselimuti oleh tebalnya kotoran akan menjadikan pantulan bayangan di kaca tersebut tidak jelas atau buram. Namun, apabila cermin kotor tersebut dibersihkan, maka pantulan bayangan akan kembali jelas. Begitupun dengan hati. Apabila hati yang diselimuti oleh noda-noda dosa dibersihkan, maka hati tersebut akan menjadi hati yang bersih dan bercahaya yang mudah menerima cahaya kebenaran dan selalu mengamalkan dalam kehidupan.

Satu-satunya yang berkuasa dalam mengendalikan diri kita hanya Allah SWT. Dengan segala kuasanya memberi kemudahan bagi para hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Baik kemudahan dalam bentuk fisik, seperti kesehatan, kekuatan, ataupun kemudahan dalam bentuk semangat untuk melakukan ibadah. Hakikatnya, ibadah puasa merupakan salah satu dari banyaknya ibadah di bulan Ramadhan yang mengimplementasikan bentuk suatu makhluk dalam pengendalian diri. Pengendalian yang pada masanya akan berbuah menjadi taqwa.

Pada syarah Riyadhush Shalihin, puasa berarti menahan diri dari dosa-dosa, bukan hanya menahan perut dari makan dan minum saja. Sebagaimana makan dan minum yang memutuskan dan merusak puasa, demikian pula dosa-dosa dapat memutuskan pahala puasa dan merusak buahnya sehingga membuat dia seperti orang yang tidak berpuasa. karena inti dari puasa yaitu sebagai kesempatan dalam mengendalikan kesabaran, ketekunan, serta mengendalikan diri dari berbagai tindakan yang merugikan. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa Allah telah menjanjikan berbagai keberkahan dan nikmat di bulan Ramadhan. Banyak hadis-hadis Nabi, kisah dari orang-orang shaleh, dan berbagai riwayat lainnya berbicara soal keistimewaan bulan yang mulia ini.

Ramadan merupakan bulan yang istemewa dengan berbagai keistimewaannya, terdapat hujan keberkahan di dalamnya. Salah satu yang menjadi paling utama adalah waktu di mana dosa-dosa kita di masa lalu akan diampuni. Namun, tentunya dengan keimanan dan keikhlasan dalam menjalankannya dengan semata-mata dengan mengharap pahala dari sisi Allah dan iman kepada-Nya. Seperti dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari : 37 dan Muslim : 1266, Dari Abu Hurairah ra., Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang telah berlalu”.

Di bulan penuh ampunan ini, kita dianjurkan untuk seraya memohon ampun, bermujahadah dan mengoptimalisasikan segala bentuk ibadah di bulan Ramadhan. Dari buku Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan Panduan Lengkap Menyambut Bulan Ramadhan dari Sebelum Ramadhan Sampai Setelahnya, Abu Maryam Kautsar Amru dituliskan Amalan puasa merupakan amalan yang memiliki keutamaan-keutamaan di dalamnya. Setiap amalan sholeh dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, maka di bulan penuh berkah, lebih dari itu pelipatgandaannya. Dan hanya Allah SWT yang mengetahui berapa besar pelipatgandaan pahala yang akan diberikan.

Oleh karena itu, bulan Ramadan ini merupakan bulan perlombaan setiap hamba-Nya, yaitu perlombaan dalam meraih Ridla Allah SWT. Sehingga, seperti halnya dalam perlombaan terdapat kemenangan dan kekalahan. Kekalahan dari seorang hamba salah satunya dikarenakan terlalu sempit ruang dari keimanan hamba tersebut, sehingga tidak mampu menghadirkan semangat dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadan dan hamba yang kalah tersebut hanya mendapatkan keletihan raga belaka.

Seperti pada hadist riwayat An-Nasa’I dan Ibnu Majah bahwa, dari Abu Hurairah juga, Rasulullah SAW bersabda, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan haus saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malam”.

Masih tersimpan banyak keistimewaan bulan Ramadan lainnya yang dapat menumbuhkan spirit dalam melaksanakan ibadah di bulan Ramadan. Kemuliaan bulan Ramadan telah banyak diekspresikan Rasulullah SAW dakam riwayat beberapa hadits. Hadits diatas diperkuat kembali dengan hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i, Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi”.

Dalam hadits ini, dapat diketahui bahwa Ramadan menghampiri ruang keimanan seorang hamba. Seorang hamba dengan ruang keimanan yang luas akan lebih merasa senang dan bahagia dalam menyambut kehadiran Ramadhan dibandingkan kehadiran bulan yang lainnya, serta mampu menghadirkan cahaya Ramadhan pada jiwa dan keimanannya.

Mengingat berbagai keutamaan Ramadan di atas, maka sangat disayangkan apabila Ramadhan datang dan berlalu meninggalkan kita begitu saja tanpa ada usaha maksimal dari kita untuk meraihnya dengan melakukan berbagai ibadah dan amal shalih. Semoga ramadhan tahun ini akan lebih baik dalam hal amalan ibadah daripada tahun-tahun sebelumnya.

Farah Ayu Afdhila Syahrizza, mahasiswi jurusan Pendidikan Biologi UIN Walisongo dan Santri Life Skill Daarun Najaah. Jatengdaily.com–st

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version