Menata Hati dan Memaknai Puasa di BKKBN Jawa Tengah

Dari kiri: Ketua Majelis Taklim As-Sakinah Sujarno, ustaz Asnawi, dan ustaz Munir pada pengajian di Ruang Vasektomi, BKKBN Jawa Tengah, Jalan Pemuda, Semarang.Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Suasana khusyuk menyelimuti Ruang Vasektomi kantor BKKBN Jawa Tengah di Jalan Pemuda, Semarang, ketika Majelis Taklim As-Sakinah Juang Kencana Komisariat BKKBN Jawa Tengah menggelar pengajian rutin menjelang Ramadan.

Ruangan yang biasanya digunakan untuk layanan kesehatan tersebut pagi itu berubah menjadi ruang penguatan spiritual bagi para pegawai dan keluarga besar institusi.

Pengajian menghadirkan dua pembicara, yakni Ustaz Asnawi dan Ustaz M. Munir, yang menyampaikan tausiah dengan tema pengendalian diri serta pendalaman makna ibadah puasa.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan langsung dari Sekretaris BKKBN Jawa Tengah, Al Khafid Hidayat, yang hadir bersama jamaah.

Ketua Majelis Taklim As-Sakinah, Sujarno, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas antusiasme anggota yang tetap tekun mengikuti kajian keagamaan di tengah kesibukan pekerjaan.

Dalam ceramah pertamanya, Ustaz Asnawi menekankan pentingnya kemampuan manusia mengendalikan nafsu amarah. Menurutnya, amarah merupakan pintu masuk gangguan spiritual apabila tidak dikelola dengan baik.

Ia mengingatkan bahwa ketika seseorang dikuasai kemarahan, sesungguhnya ada godaan setan yang sedang mengambil ruang dalam dirinya.

“Kalau kita sedang marah, itu tanda ada setan yang sedang nongkrong di hati kita,” ujarnya dengan gaya penyampaian yang ringan namun mengena.

Karena itu, ia mengajak jamaah segera mengambil langkah spiritual ketika emosi memuncak. Cara paling sederhana, katanya, adalah berwudu dan melaksanakan salat, sebab air wudu dapat meredakan panas emosi sekaligus mengembalikan kesadaran diri.

Menurutnya, pengendalian amarah bukan hanya persoalan akhlak pribadi, tetapi juga kunci keharmonisan keluarga dan lingkungan kerja. Orang yang mampu menahan marah dinilai lebih dekat pada sikap sabar dan kebijaksanaan.

Para jamaah tampak menyimak serius. Beberapa mengangguk ketika sang ustaz mencontohkan konflik sehari-hari di rumah maupun di kantor yang sering bermula dari emosi yang tidak terkendali.

Tiga Tingkatan Puasa Menurut Ustaz M. Munir

Tausiah berikutnya disampaikan Ustaz M. Munir yang mengajak jamaah memahami puasa tidak sekadar sebagai ritual menahan lapar dan dahaga. Ia menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan spiritual, yakni syariat, tarekat, dan hakikat.

Puasa tingkat syariat adalah tingkatan paling dasar dan wajib dijalankan setiap Muslim.Pada tahap ini, puasa dipahami sebagai menahan makan dan minum sejak fajar hingga magrib, menjaga diri dari hubungan suami istri di siang hari, menghindari hal-hal yang membatalkan puasa secara hukum

Menurut Munir, banyak orang berhenti pada level ini. Puasa dijalankan secara benar secara fikih, namun belum sepenuhnya menyentuh dimensi batin.

Pada tingkat tarekat, puasa mulai memasuki wilayah pengendalian diri yang lebih dalam. Tidak hanya tubuh yang berpuasa, tetapi juga anggota badan lainnya.

“Sedangkan puasa tingkat hakikat merupakan tingkatan tertinggi. Puasa tidak lagi sekadar tindakan fisik maupun pengendalian perilaku, tetapi menjadi pengalaman spiritual yang mendalam,” katanya.

Ketua MT As-Sakinah Sujarno menyampaikan terima kasih kepada para anggota yang hadir dengan penuh kesungguhan.

Ia mengapresiasi kekhusyukan jamaah dalam mengikuti kajian yang dinilai sangat relevan menjelang datangnya bulan Ramadan.

“Kehadiran panjenengan semua menunjukkan semangat belajar dan memperbaiki diri. Semoga majelis ini terus membawa keberkahan,” ujarnya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan penuh harap. Para peserta kemudian saling bersalaman, berbincang hangat, dan menikmati kebersamaan sederhana yang mempererat hubungan antarpensiunan pegawai BKKBN Jawa Tengah.

“Di tengah rutinitas kerja dan dinamika kehidupan modern, manusia tetap membutuhkan ruang untuk menata hati, mengendalikan amarah, memperdalam makna puasa, dan mendekatkan diri kepada Tuhan,” tambah Sujarno. St

Share This Article
Exit mobile version