Kasatlantas Polres Demak AKP Fandy Setiawan saat memandu acara Ngobras tentang Ketertiban Ber-lalulintas. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com)- Menertibkan masyarakat dalam berlalulintas bukan lah tanggungjawab personel Polri dalam hal ini Satuan Lalulintas. Termasuk di dalamnya kesadaran masyarakat sebagai pengguna jalan, di samping dukungan stakeholder atau pemangku kepentingan.

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Lalu Lintas Bhayangkara ke-66, Satlantas Polres Demak menggelar acara Ngobrol Santai (Ngobras) bersama Stakeholder terkait Peningkatan Ketertiban Berlalulintas. Dipandu langsung Kasat Lantas AKP Fandy Setiawan mewakil Kapolres Demak AKBP Budi Adhy Buono, hadir sebagai narasumber dari unsur akademisi, OPD dalam hal ini Dinas Perhubungan dan Dinas Pariwisata, Organda, pengusaha, PKL, ojek pariwisata juga media massa.

Beberapa hal turut menjadi sorotan diskusi. Antara lain kemacetan di depan Pasar Bintoro kaitannya minimnya lahan parkir, buruh pabrik melawan arus lalulintas, ojek wisata, serta keruwetan PKL di ruas jalan Kiai Singkil.

Terkait keluhan masyarakat mengenai parkir sembarangan yang mengakibatkan kemacetan, seperti di depan Pasar Bintoro dan PKL di sepanjang Jalan Kiai Singkil, diusulkan agar pengelola pasar atau OPD yang mebawahi menyediakan lahan parkir. Sedangkan mengenai PKL di Jalan KIai Singkil, menjadi kewenangan Satpol PP untuk menertibkannya.

“Mengenai buruh pabrik yang melawan arus lalulintas saat berkendara sepulang kerja, diusulkan pemasangan portal pada jalan keluar setelah gerbang pabrik, di samping pengadaan rambu berupa lampu penyeberangan. Atau bisa juga membuat u-turn baru di depan pabrik, tentunya setelah seijin instansi berwenang,” kata Kasat Lantas Fandy, Jumat (17/9/2021).

Di sisi lain, Dr Suemy MSi mewakili kelompok akademisi menuturkan, pelanggaran dalam berlalulintas adalah soal perilaku. Sebagai contoh, perilaku masyarakat bawah yang butuh mencari nafkah sehingga mengabaikan keselamatannya maupun pengguna jalan yang lain.
“Maka penanangan yang dibutuhkan bukan langsung berupa tindakan namun sosialisasi. Artinya sebelum represif maka alangkah baiknya didahului tindakan preventif, untuk merubah perilaku sesuai budaya,” imbuhnya.

Kasatlantas berharap, topik pembahasan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi perhatian dan akan segera ditindaklanjuti. “Ke depan kami akan gelar kegiatan serupa dengan pembahasan lain. Namun stelah melihat perkembangan setelah diskusi kali ini,” tandas Kasat Lantas Fandy. rie-she