UNDIP dan Dipo Technology kerjasama produksi hasil riset.Foto: UNDIP

SEMARANG (Jatengdaily.com)– PT Dipo Technology bekerjasama dengan Center for Plasma Research (CPR) Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang menghasilkan sejumlah produk teknologi plasma.

Kerja sama antara Dipo Technology yang berkantor di Kawasan Industri Candi, Semarang dengan CPR terjalin sejak tahun 2008. CPR UNDIP didirikan pada Februari 2005 sebagai pusat penelitian plasma dan aplikasinya. Kegiatan penelitian aplikasi plasma ini meliputi plasma untuk lingkungan, makanan, pertanian, tekstil, material, medis dan energi.

Di bawah pimpinan Prof Dr Muhammad Nur DEA, Dosen Fisika Undip, CPR telah menghasilkan berbagai inovasi penelitian berbasis teknologi plasma.

Seperti D’ozone untuk memperpanjang masa simpan produk holtikultura sampai 2 bulan. Lalu ada Zeta Green, alat penjernih udara yang mampu membunuh bakteri, virus dan jamur dalam ruangan tertutup dan berpendingin udara.

Seaozone berfungsi untuk memperpanjang masa simpan ikan hingga 16 hari dengan suhu 2-8° Celcius. Medical Ozone Generator atau M’Ozone digunakan untuk mengobati luka luar yang susah mengering pada penderita diabetes.

Ketiga inovasi yang disebutkan di awal yaitu D’ozone, Zeta Green dan Seazone telah melalui uji laboratorium berulang kali dan uji pasar. Disinilah peran Dipo Technology mendampingi CPR mulai dari proses uji laboratorium, melakukan uji pasar, memikirkan desain produk, hingga memasarkannya.

Berawal dari kepedulian PT. Dipo Technology atas hasil riset dari perguruan tinggi yang belum terlihat dimanfaatkan oleh masyarakat. CPR dengan hasil riset teknologi plasma yang menghasilkan D’ozone ini, dinilai bisa menyelamatkan para petani Indonesia dari kerugian ekonomi, khususnya pasca panen.

Sebagai pelaku ekonomi, Azwar SE MM, Direktur PT Dipo Technology melihat peluang bahwa D’ozone ini bisa dimanfaatkan petani hingga pelosok negeri.

“Kita melihat masyarakat petani harus kita tolong, harus kita bantu. Kalau bisa kita jangan impor karena petani ini punya power yang cukup besar. Ketika produk petani bisa bertahan selama satu minggu saja, itu bagi petani sudah sesuatu yang sangat berharga. Jadi niatan kita bagaimana produk ini bisa digunakan betul di kalangan petani,” jelas Azwar saat kami temui di kantornya di Kawasan Industri Candi, Semarang.

Alasan lain mengapa Dipo Technology tergerak untuk mendampingi CPR karena melihat belum ada pesaing yang memasarkan produk berdasarkan hasil riset perguruan tinggi.

“Bisa saja produk berbasis ozone itu banyak beredar, tapi hasil risetnya mana. Kemudian aman tidak produk tersebut. Nah, ini yang menjadi kata kunci kita karena kalau sudah hasil riset yang kita lakukan artinya produk yang kita buat pun tidak sembarangan, tidak sembrono,” lanjut Azwar.

Oleh karena itu, perguruan tinggi dan perusahaan atau pelaku industri harus bergandengan tangan agar hasil riset dapat digunakan secara luas. Menurut Azwar, pemerintah daerah dan pusat perlu terlibat pula. Pemerintahlah yang mengarahkan para petani untuk menggunakan teknologi plasma ini. she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here