Alquran Penolong di Hari Kiamat

Gunoto Saparie

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Alquran akan menjadi penolong bagi para pembacanya di hari kiamat. Oleh karena itu, kita harus memperbanyakan amalan membaca Alquran di bulan Ramadan. Ketika pada Hari Kebangkitan nanti hanya tangan-tangan dan kaki-kaki kita yang berbicara, kita tentu saja membutuhkan pertolongan.

Hal itu dikatakan oleh Fungsionaris ICMI Wilayah Jawa Tengah Gunoto Saparie ketika memberikan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) di depan jemaah Salat Isya, Tarawih, dan Witir di Masjid Baitussalam, Ngaliyan, Semarang, Rabu malam, 6 April 2022. Bertindak sebagai imam K. Nurkhamid.

Menurut Gunoto, banyak keutamaan dari kegiatan umat Islam membaca dan memahami Alquran. Selain sebagai syafaat di hari kiamat bagi pembacanya, mereka yang membaca Alquran akan selalu bersama para malaikat Allah. Mereka yang mengisi hari-harinya dengan banyak membaca Alquran juga akan ditinggikan derajatnya oleh Allah.

Alquran, lanjut dia, merupakan pedoman dan tuntunan bagi umat manusia. Alquran memuat kisah-kisah yang bisa menjadi teladan, ayat-ayat tentang perintah dan larangan. membedakan mana yang benar dan batil.

“Umat Islam yang belum mahir membaca Alquran juga tetap mendapatkan pahala,” katanya seraya menambahkan agar kita tetap berusaha belajar membaca kitab suci sesuai tajwid atau kaidah yang ada.

Gunoto yang juga Seksi Dakwah Takmir Masjid Baitussalam ini mengungkapkan, di era pandemi Covid-19 ini kalau kita keluar rumah harus menggunakan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan, dan sebagainya. Untuk membaca Alquran pun kita ada protokolnya, yaitu tajwid dan nahwu sharaf. Dengan demikian, kita bisa membaca Alquran dengan baik.

Gunoto berpendapat, kita sangat beruntung karena mendapat Alquran sebagai kitab dalam kondisi seperti sekarang ini. Kalau pada zaman Rasulullah Muhammad saw, Alquran itu dituliskan di pelepah-pelepah pohon dan kulit-kulit binatang.

Huruf atau aksaranya tidak seperti sekarang, karena pada waktu itu belum ada harakat dan titiknya. Bagi kita tentu itu merupakan kesulitan, karena pasti tidak mampu membacanya. Baru pada masa Khalifah Utsman, dengan ketua panitia Zaid bin Tsabit, Alquran dikodifikasikan, dibukukan, sehingga bentuknya seperti sekarang.

“Berkat jihad para sahabat, tabiin, dan tabiut, Alquran bisa dibaca dan dihayati oleh seluruh umat Islam di dunia,” tambahnya.st

Share This Article
Exit mobile version