DEMAK (Jatengdaily.com) – Dengan melihat sejarah, kebesaran ataupun keunggulan peradaban suatu bangsa dapat diketahui. Begitu pun adanya Candi Borobudur, Prambanan ataupun Mendut, bukti para pendahulu negeri ini yang luar biasa.
Pada Halaqoh Kebangsaan Bersama Mualana Al Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya di Ghradika Bhakti Bina Praja Demak, ulama dari Pekalongan itu menyampaikan, ketika suatu bangsa luntur sejarahnya, maka akan luntur pula rasa nasionalisme anak bangsa. Istilahnya bisa ‘kepaten obor’.
“Terlebih ketika pengetahuan sejarah semakin tipis, akan semakin sulit membangun regenerasi suatu bangsa. Sebab tidak semudah membalikkan tangan,” ujarnya.
Pengukuhan Yayasan Wakaf Masjid Agung Sultan Fatah Demak, menurut Habib Luthfi, bukan untuk angkat diri. Tapi justru dimaksudkan mengangkat sejarah yang ada di tanah air, khususnya Demak.
Dikukuhkan sebagai Ketua Yayasan Wakaf Masjid Agung Sultan Fatah Demak 2022-2027 Prof Dr H Abdurrahman Kasdi Lc MSi. Sementara sebagai Ketua Dewan Pembina adalah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya. Hadir dalam pengukuhan tersebut, Bupati dr Hj Eisti’anah berikut pejabat Forkompimda Kabupaten Demak, serta sejumlah alim ulama.

Lebih lanjut disampaikan, pengukuhan Yayasan Wakaf Masjid Agung Sultan Fatah tidak semudah yang dipikirkan. Sebab tidak semata-mata meresmikan yayasan, namun ada pesan implisit untuk menjaga keutuhan sejarah negeri tercinta. Terlebih Demak adalah punjernya penyebaran Islam di Pulau Jawa.
Berdasarkan sejarah pula, bangsa kita sudah diakui kemampuan intelijensinya. Termasuk didirikannya candi Borobudur, Prambanan, dan Mendut, intelektual dan keilmuan Syailendra hingga Airlangga terbukti luar biasa.
Betapa tidak? Borobudur dan Prambanan berdiri kokoh di kaki gunung yang sering meletus. Mereka sudah bisa mengukur (intensitas dan kekuatan) getaran. Pun mengetahui struktur tanahnya.
Begitu pun Masjid Agung Demak. Dilihat dari letak geografis, potensi diterpa gelombang, angin, dan gempa. Hal itu sudah terpikirkan oleh Walisanga, yang membangunnya dengan konstruksi kayu sebagai pondasi.
“Sama dengan stabilitas nasional yang diterapkan Sunan Kalijaga. Disebut jaga kali. Namun filosofi kali itu sebenarnya aliran beberapa agama (Hindu dan Islam). Supaya tidak jadi perpecahan,” kata Habib Luthfi.
Maka sangat diharap ikrar pengurus Yayasan Wakaf Masjid Agung Sultan Fatah Demak dapat meniru nasab para Aulia. Sehingga jangan sampai Demak kepaten obor. rie-yds


