DEMAK (Jatengdaily.com) – Perkembangan saat remaja sangat menentukan kualitas seseorang ketika dewasa. Masalah gizi yang terjadi pada masa remaja terutama anemia akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi bermasalah gizi bahkan stunting.
Pada kegiatan Posyandu Remaja di desa Jali Kecamatan Bonang, Programer Promkes Puskemas Bonang II Sofiyatun SKM menjelaskan, anemia terjadi sebagai imbas atas permasalahan gizi yang terjadi pada seseorang. Ditandai tubuh kekurangan zat besi (Fe) sebagai unsur utama pembentukan Hemoglobin, dan wanita sangat rawan defisiensi zat besi karena secara alamiah mengalami proses menstruasi.
Selain pada remaja puteri, defisiensi zat besi bisa terjadi pada balita maupun usia dewasa. Ketika anemia terjadi pada balita, dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Sehingga berdampak kurang konsentrasi belajar dan mudah sakit.
Baca Juga: Jumlah Panwaslu Kecamatan Perempuan di Pemilu 2024 Meningkat Tajam
“Sementara jika terjadi pada remaja, dapat menyebabkan produktivitas seperti belajar atau kerja menurun. Sehingga menghasilkan nilai ujian yang buruk, serta mempengaruhi masa depan remaja tersebut,” ujarnya, Kamis (27/10).
Disebutkan pula, remaja puteri anemia berisiko menjadi wanita usia subur yang anemia. Selanjutnya menjadi ibu hamil anemia, bahkan juga mengalami kurang energi protein.
“Ini meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dan stunting, komplikasi saat melahirkan, serta beberapa risiko terkait kehamilan lainnya,” imbuhnya.
Dalam rangka mencegah anemia, Puskesmas Bonang II melakukan intervensi spesifik dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), si tablet “cantik’ bagi remaja puteri dan ibu hamil agar terlihat semakin ‘cantik’. Sehingga terlahir generasi emas yang sehat jauh dari stunting.
Baca Juga: Cegah Perundungan, Jadikan Anak Pelapor dan Pelopor
‘’Pemberian TTD si tablet ‘cantik’ ini diberikan secara massif di berbagai usia dan tempat. Salah satunya melalui kegiatan posyandu remaja di lima desa wilayah kerja puskesmas Bonang II. Dalam kegiatan ini juga diberikan KIE tentang perubahan perilaku, dengan harapan remaja bisa menjadi agent of change pencegahan anemia,” kata Sofiyatun.
Di sisi lain, Ahli Gizi Puskesmas Bonang II, Diah Trikusumawati mengatakan, anemia pada remaja puteri disebabkan gaya hidup yang kurang sehat. Merujuk pada data Riskesdas tahun 2018, sekitar 65% remaja tidak sarapan, 97% kurang mengonsumsi sayur dan buah, kurang aktivitas fisik serta konsumsi Gula, Garam dan Lemak (GGL) berlebihan.
Senada Kepala Puskesmas Bonang II, Indah Kusumawati SSiT SKM MKes berpendapat, penyebab remaja puteri menderita anemia dikarenakan dua hal. Yakni rendahnya asupan zat gizi dan meningkatnya pengeluaran zat gizi. Namun begitu, di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh kurangnya zat besi. Karena rata-rata makanan penduduk Indonesia mengandung zat gizi besi lebih rendah dari yang dibutuhkan untuk membentuk Hb. Maka itu, asupan gizi seimbang sangat penting.
“Tak cukup hanya karbo saja, atau protein hewani dan nabati saja, buah saja atau sayur saja. Tetapi harus ada semua, karena berbagai macam zat gizi ada di berbagai macam makanan. Sehingga kalau mau melengkapi kebutuhan semua zat besi maka pola makannya harus seimbang. Kenapa? Karena cegah stunting itu penting,” tandasnya.rie-st


