Islam Kita, yang Biasa-Biasa Saja

Oleh : Nur Khoirin YD

ISLAM kita ini sumbernya adalah sama, yaitu Alquran dan As Sunnah. Tetapi dalam pelaksanaannya berbeda-beda, terutama dalam tatacara beribadah (kaifiyyah ibadah), sehingga melahirkan berbagai golongan dan aliran. Nabi sendiri yang telah memprediksi, nanti umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semua masuk neraka, kecuali satu, yaitu ahlussunnah wal jama’ah (HR. Abu Dawud dalam Kitabus Sunnah Bab Syarhus Sunnah no. 4597).

Di sekitar kita juga terdapat berbagai aliran keagamaan dan organisasi. Ada NU, Muhammadiyah, LDII, Jamaah Tabligh, FPI, HTI (yang telah dibubarkan oleh Pemerintah), Al Irsyad, Al Washliyah, belakangan juga berkembang MTA, dll. Mereka memiliki faham dan pandangan, tata cara ibadah, tradisi, dan identitas yang berbeda-beda.

Misalnya, jumatan ada yang adzan dua, ada yang satu. Sholat subuh ada yang qunut, ada yang tidak, Dalam membaca al Fatihah ada yang baca keras basmalah, (jahr) tetapi ada yang lirih (sirr). Doa iftitah ada yang kabira, tetapi ada yang allahumma ba’id baini, Sholat Taraweh ada yang 20 ada yang 8. Salat id ada yang dimasjid ada yang dilapangan.

Penentuan awal bulan puasa dan Syawal, ada yang menggunakan metode hisab dan ada yang menggunakan metode rukyah. Ada masyarakat yang suka tahlil, tetapi ada yang tidak suka dan bahkan mengharamkan. Setelah adzan ada yang suka sholawatan, tetapi ada yang melarang. Sebagian besar masyarakat menyukai maulid, tetapi ada yang membid’ah-bid’ahkan.

Setelah solat fardhu, ada yang suka wiridan, tetapi ada yang diam. Ada yang menutup aurat dengan menutup seluruh anggota tubuh, termasuk wajah dengan bercadar, tetapi ada kecuali muka dan telapak tangan. Ada memakai sarung, tetapi ada yang dengan celana cingkrang. Ada yang memanjangkan jenggot, ada yang tidak suka. Ada yang mensunnahkan poligami, tetapi ada yang melarang. Dan sebagainya.

Lalu bagaimana sikap kita? Kita pilih yang mana? Mana yang paling benar?. Maka jawabannya adalah, Islam kita yang biasa-biasa saja. Yaitu Islam yang moderat (tawasuth), yang tengah-tengah, dan toleran (tasamuh), dan bukan Islam yang ekstrem. Bukan Islam yang radikal dan juga bukan yang sekuler. Islam yang rahmatan lil alamin, yang mampu menghadirkan kedamaian dan rahmat bagi alam semesta.

Islam yang kehadirannya menyejukkan dan bukan yang meresahkan. Islam yang menghargai keragaman, dan bukan yang memaksakan. Jika kita suka tahlilan dan shalawatan, jangan memaksa orang lain agar sama dengan kita.

Ada beberapa prinsip yang harus kita pegangi, agar kita bisa hidup berdampingan dengan siapa saja, sbb :

1) Menyadari, bahwa perpedaan adalah sunnatullah, menghilangkan peberdaan adalah hal yang mustahil. Di dunia ini tidak ada dua ciptaan yang sama (kecuali produk pabrik). Tidak ada dua kepala yang isinya sama, meskipun lahir kembar.
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَعَلَكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلٰكِنْ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ اِلَى اللّٰهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيْعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَۙ
Al Maidah 48. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Dalam ayat ini bagi Allah swt sangat mudah membuat umat yang satu/sama. Tetapi berbeda ini justru menjadi rahmat, agar masing-masing memiliki identitas dan dinamis, berlomba dalam kebajikan. Maka sampai kapanpun, tidak mungkin orang menjadi muslim semua, atau kafir semua. Meskpun dakwah kita gencarkan, tetapi tidak mungkin orang menjadi baik semua, atau jahat semua.

2) Jangan merasa benar sendiri. Kebenaran mutlak adalah milik Allah. Hasil olah pikir manusia bersifat relative. Teori-teori sosial bisa saja cocok dan baik untuk suatu tempat, tetapi belum tentu ditempat yang lain. Suatu undang-undang bisa tepat untuk waktu tertentu, tetapi belum tentu pas pada waktu-waktu yang akan datang. Mis. Beberapa tahun yll gelombang cinta menjadi idola, mahal, dan dicari. Tetapi sekarang tdk laku. Buah pace yang dulu dibuang menjadi buah yang sial, tetapi sekarang ini diyakini menjadi obat yang mahal dan diburu orang. Dll. Ijtihad kita adalah upaya berfikir secara maksimal untuk memahami dan menemukan kebenaran yang mendekati kebenaran Allah swt yang absolute.

3) Perlu kita tegakkan sikap toleran (tasamuh), teposeliro, saling menghormati, tidak saling mengejek, menghina, apalagi meremehkan. Dalam Al Qur’an Allah swt berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Al Hujurat : 11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka.

Kita memang diwajibkan berdakwah, mengajak orang lain yang sesat dan jelas-jelas melakukan dosa dan maksiat. Tetapi harus dengan cara yang baik, bilhikmah wal mauidhotil hasanah. Wajadilhum billati hiya ahsan, dengan dialog dan diskusi yang baik. Bukan dengan cara memusuhi dan menjauhi. Dengan cara dirangkul dan bukan dipukul. Dengan cara digandeng dan bukan ditendang. Dengan cara dibina dan bukan dihina.

4) Kembangkan sikap khusnudhdhan, positif tingking, tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Pandanglah orang lain sebagai manusia, bukan sebagai malaikat atau setan. Tidak ada manusia yang seperti malaikat, tidak punya salah dan dosa. Tetapi juga tidak ada manusia yang seperti setan, hanya memiliki keburukan dan kesalahan. Kita sering bersikap tidak adil menilai orang lain. Jika sudah mencintai atau mengidolakan seseorang, maka kita tidak melihat kekurangannya. Sebaliknya jika kita sudah kadung membenci dan tidak suka dengan seseorang tokoh, maka mata kita dibutakan tidak melihat kelebihan dan kebaikannya sama sekali. Maka obyektiflah menilai orang lain, di samping mengakui kelebihannya, juga memaklumi kekurangannya.

5) Jangan ada orang atau organisasi yang merasa paling benar sendiri, paling berjasa sendiri, atau paling berjuang sendiri. Kita sendirian tidak akan bisa berbuat apa-apa. Islam kita mengatur aspek kehidupan yang sangat luas dan kompleks. Maka masing-masing harus ambil peran sesuai dengan pengalaman dan keahlian dan dalam kerjasama yang baik.

Umat Islam yang sekarang sudah mengalami kemajuan dalam berbagai hal, jika dibandingkan dengan Islam pada era 70-80an, dalam bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi dsb. Umat Islam telah tampil di depan dalam bidang politik dan pemerintahan. Contoh kongkrit misalnya, para muslimat sudah dengan bangga mengenakan jilbab menurut aurat, adalah keberhasilan dakwah bersama. Tidak boleh diklaim adalah jasa seseorang atau salah satu organisasi tertentu. Ke depan kita harus saling bergandeng tangan, saling mendukung dan melengkapi, agar umat Islam menjadi umat yang maju dan menjadi rahmat bagi bangsa dan negara.

6) Jangan paksa orang lain agar manjadi sama dengan kita. Termasuk dalam cara beribadah, berdakwah, berorganisasi, dan termasuk berpolitik.
وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
Yunus 99 : dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

7) Kita tingkatkan silaturrahmi dan komunikasi yang tulus. Era kemajuan teknologi informasi sekarang ini, menjadikan hubungan kekeluargaan menjadi semakin kering dan hambar. Perselisihan dan pertengkaran sering dipicu oleh opini yang terbentuk oleh media sosial. Orang bisa bertengkar dan menghujat di WA. Atau sebaliknya, di WA orang bisa saling mendukung dan bercinta. Padahal belum saling kenal dalam dunia nyata. Maka marilah kita tingkatkan hubungan silaturrahmi yang nyata. Agar hubungan batin tercipta dan kesalahpahaman sirna.

Meskipun partai berbeda, pilihan calon berbeda, organisasi juga tidak sama, semoga kita diberikan kekuatan hati untuk berlapang dada, tetap bersatu padu dan saling menjaga, dalam ikatan ukhuwah islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah.

* Khutbah Jum’ah di Masjid Islamic Center Manyaran, 28 Oktober 2022
* DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Basyarnas, Tinggal di Il. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang.Jatengdaily.com-st

Share This Article
Exit mobile version