DEMAK (Jatengdaily.com) – Teori HL Blum menyebutkan, derajat kesehatan ditentukan oleh 40% faktor lingkungan, 30% faktor perilaku, 20% faktor pelayanan kesehatan, dan 10% faktor genetika (keturunan). Dengan kata lain, faktor lingkungan seperti menjaga kebersihan lingkungan dan sanitasi menjadi faktor penentu tertinggi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Melihat berbagai isu atau persoalan yang ada di negeri ini, seperti persoalan air bersih dan sanitasi, keamanan pangan, pencemaran udara, limbah dan radiasi serta kegawatdaruratan lingkungan, sangat perlu masyarakat mengetahui penyebab buruknya sanitasi berikut dampak negatifnya.
Sementara itu, permasalahan gizi di Indonesia sangat komplek. Mulai dari remaja yang sudah menderita anemia, ibu hamil menderita KEK (kurang energy kronis) juga mengalami anemia, hingga balita yang tidak terpantau tumbuh kembangnya sehingga menyebabkan angka stunting meningkat.
Seperti disampaikan pada acara Sosialisasi STBM Stunting di Desa Bakalrejo Kecamatan Guntur oleh Kepala Puskesmas Guntur I dr Rokhis Saidah didampingi Sanitarian Puskesmas Guntur I Christina Retno Anggraini, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ditandai dengan ukuran tinggi badan balita tidak sesuai dengan umurnya.
Dampak stunting, anak menjadi mudah sakit, dan kemampuan kognitif kurang. Begitu pun saat tua beresiko terkena penyakit yang berhubungan dengan pola makan, serta fungsi-fungsi tidak seimbang. Lebih parah lagi, saat dewasa postur tubuh tidak maksimal, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi.
“Namun demikian stunting dapat dicegah. Antara lain dengan memantau tumbuh kembang balita secara rutin, pemenuhan gizi ibu hamil, memberikan ASI/MPASI, akses air bersih juga fasilitas sanitasi,” ujarnya.
Strategi penanganan masalah lingkungan dengan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) begitu penting dalam penanganan stunting. Sebagaimana tertuang dalam Permenkes RI Nomor 03 tahun 2014, yang bertujuan mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya, untuk merubah perilaku melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan.
Dalam STBM terdapat lima pilar yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan PAM RT dan pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah rumah tangga. Sedangkan komponen STBM mencakup tiga hal yaitu perubahan perilaku, peningkatan akses sanitasi yang berkelanjutan serta dukungan institusi kepada masyarakat.
“Oleh karena menjadi program kerja dalam rangka menekan angka stunting, maka Puskesmas Guntur I intensif melakukan ‘Sosialisasi STBM Stunting’ baik di tingkat kecamatan maupun di desa-desa wilayah binaan. Sehingga dengan adanya sosialiasasi tersebut masyarakat diharapkan menjadi lebih paham tentang STBM,” imbuhnya.
Adapun outcome keberhasilan STBM terlihat dari setiap individu atau komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar, sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF). Pada saat sama setiap rumahtangga menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman, mengelola sampah dan air limbah dengan benar.
Di sisi lain, sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal juga tersedia fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabun agar semua orang mencuci tangan dengan benar.
“Sehingga mampu menurunkan kejadian penyakit diare, serta penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Termasuk di dalamnya menekan angka stunting,” pungkasnya. rie-st


